Pencapaian tersebut diraih meski Kung Fu Soccer menuai beragam kritik dari penonton yang menilai film ini belum mampu menyamai kesuksesan dan kualitas pendahulunya, Shaolin Soccer (2001).
Sejumlah pengamat industri menilai tingginya antusiasme penonton dipicu oleh kerinduan publik terhadap komedi khas Stephen Chow. Kehadiran film ini juga dinilai berhasil membangkitkan pasar bioskop China yang tengah lesu akibat minimnya film blockbuster pada musim panas tahun ini.
Berdasarkan data platform penjualan tiket Maoyan, Kung Fu Soccer menguasai 48,2 persen slot penayangan nasional pada hari pertama. Film tersebut membukukan pendapatan lebih dari 260 juta yuan (senilai Rp692,5 miliar) pada hari pembukaannya, sekaligus menyumbang 80,3 persen dari total pendapatan bioskop harian di China.
Raihan tersebut turut membawa pasar bioskop domestik menembus angka 300 juta yuan (senilai Rp799,2 miliar) dalam sehari untuk pertama kalinya setelah 136 hari.
Tuai Respons Beragam dari Publik dan Kritikus
Di balik kesuksesan komersialnya, Kung Fu Soccer mendapat respons yang beragam dari penonton maupun kritikus. Film ini memperoleh nilai 6,6 dari 10 di platform ulasan Douban.Sejumlah kritikus menilai film tersebut terlalu bergantung pada formula sukses Shaolin Soccer, sehingga alur cerita terasa repetitif dan kurang menawarkan kebaruan.
Selain itu, kualitas efek visual juga menjadi sorotan. Meski laporan ThePaper.cn menyebut film ini menggunakan lebih dari 1.200 bidikan efek visual, serta memanfaatkan teknologi motion capture dan AI rendering, sebagian penonton menganggap hasil visualnya masih terlihat kurang modern.
Sementara itu, Kung Fu Soccer dijadwalkan mulai tayang di bioskop Indonesia pada 12 Agustus 2026 mendatang.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda