Jette S√łndergaard diapit Frelle Petersen (kanan) dan Lorezen (produser) dalam sesi tanya jawab usai gala premier Uncle. (metrotvnews.com/Luhur Hertanto)
Jette S√łndergaard diapit Frelle Petersen (kanan) dan Lorezen (produser) dalam sesi tanya jawab usai gala premier Uncle. (metrotvnews.com/Luhur Hertanto)

Uncle, Cinta Keluarga yang Mengalahkan Cita-cita

Hiburan Tokyo International Film Festival 2019
Luhur Hertanto • 03 November 2019 15:11
Tokyo: Ada masalah yang diam-diam membayangi hampir semua negara yang secara tradisional penduduknya ada petani. Mereka sedang krisis generasi muda yang mau menjadi petani yang merupakan profesi paling vital dalam rantai produksi pemenuhan pangan bangsa. Tidak terkecuali Denmark.
 
Isu ini secara cerdas dibungkus sutradara Frelle Petersen dalam film Uncle yang berkompetisi dalam Tokyo International Film Festival (TIFF) 2019. Berkisah tentang seorang gadis yang sangat sayang kepada pamannya di desa di pedalaman Denmark Selatan.
 
Kehidupan sehari-hari Kris (Jette Søndergaard) dimulai dengan merawat pamannya yang menderita stroke tapi tinggal seorang diri di peternakan sapi perahnya. Di sela-selanya mantan mahasiswi sekolah kedokteran hewan di Koppenhagen itu harus rutin memerah susu, membersihkan kandang, memberi pakan sapi, merawat tanaman gandum dan memperbaiki traktor yang rusak. Rutinitas Kris dan pamannya ini mendominasi kisah Uncle yang sangat minim dialog.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Rutinitas terinterupsi ketika Kris berpacaran dengan petani muda di desa tetangga. Kepada Kris, si petani muda itu berkata tidak mau seterusnya menjadi petani seperti orang tuanya dan karenanya akan berkuliah di Koppenhagen. Kris yang yatim piatu lantas terkenang cita-cita terpendamnya menjadi dokter hewan demi merawat satu-satunya anggota keluarganya, Sang Paman.
 
"Saya dahulu juga menghadapi dilema seperti Kris, berkuliah artinya harus meninggalkan rumah dan orang tua sendirian," ungkap Frelle Petersen tentang ide cerita filmnya.
 
Demi mendapatkan suasana pedesaan yang otentik, Frelle Petersen berkeras semaksimal mungkin menggunakan pencahayaan alami. Kondisi peternakan yang sudah tua, perabot rumah tangga reyot, sarang laba-laba hingga sapi yang sedang mengeluarkan kotoran diloloskannya tampil ke layar. Bahkan untuk pemerannya pun diambil dari desa tempat film dibuat.
 
"Saya ingin mendapatkan aksen natural daerah itu. Sangat beruntung kami bertemu Jette Søndergaard dan Peter Tygesen, mereka pasangan ponakan-paman sesungguhnya. Peter juga tidak keberatan memulai karier sebagai pemain film saat usianya sudah 63 tahun," papa Petersen usai pemutaran "Uncle" di Toho Cinema, Roppongi, Tokyo.
 
Keberuntungan yang dia maksud adalah interaksi intim antara kemenakan dan paman yang tampil sangat natural. Walau minim dialog, emosi tetap dapat dibangun melalui gambar-gambar dengan alur cerita lamban. Perbedaan 'dunia' yang dijalani dua generasi berbeda itu pun tetap muncul sebagaimana lazim ditemui dalam hubungan keluarga.
 
Uncle, Cinta Keluarga yang Mengalahkan Cita-cita
 
Sang Paman digambarkan sebagai pria dengan karakter unik, keras kepala sekaligus tahu diri. Selalu mengikuti berita internasional sebagai ujud koneksinya dengan dunia luar tanpa benar-benar terlibat di dalamnya. Sementara Kris tidak peduli dengan itu semua selain buku TTS dan buku-buku pelajaran lamanya.
 
"Kris memiliki dunianya sendiri yang kecil. Kita semua adalah individu dengan pertempuran kita sendiri setiap hari yang sering menaungi semua yang terjadi di dunia," jelas Petersen.
 
Indonesia tentu tidak kekurangan tempat pengambilan gambar seperti dalam film Uncle. Kisah tentang urbanisasi anak-anak muda dari desa ke kota bahkan ke luar negeri karena tidak yakin desanya masih memiliki sumber daya untuk mendukung masa depan keluarganya kelak juga sangat jamak ditemui.
 
"Sayangnya sineas kita kurang menggarap isu-isu keseharian seperti ini tadi, padahal sangat mengena. Meski film Denmark, kita mudah merasa terkoneksi dengan ceritanya karena memang masalah itulah yang sedang kita hadapi," ujar dosen teater Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Seno Joko Suyono, membandingan Uncle dengan tema cinta yang kerap diangkat film-film Indonesia.
 

 

(ELG)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif