Lala Timothy. (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)
Lala Timothy. (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)

Hari Film Nasional

Cerita Lala Timothy Bekerjasama dengan Fox di Film Wiro Sableng

Cecylia Rura • 30 Maret 2019 23:07
Jakarta: Berkat networking dan rutin mengikuti festival film di luar negeri, produser Sheila Timothy sukses menggandeng 20th Century Fox untuk film Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 pada 2018. Gerbang networking itu terbuka ketika film produksi Lala Timothy seperti Pintu Terlarang dan Modus Anomali berkeliling di festival film.
 
Melalui festival film, Lala Timothy bertemu dengan seorang sahabat dari sales agent international bernama Michael yang tak berapa lama bekerja sebagai konsultan di Fox.
 
"Networking cerita-cerita saja, dia tanya lagi ngerjain apa, seperti biasa kita ngobrol, saya cerita ini ada action, IP-nya sudah ada namanya Wiro Sableng, silat dan sebagainya. Itu sekitar 2015 saya cerita. Kemudian tahun 2016 ternyata dia ditunjuk sebagai consultant dari Fox. Dia ingat cerita saya. Kemudian dia tanya bisa enggak kalau Fox pitch," kata Lala di Jakarta Selatan belum lama ini.

Kerjasama berlanjut. Saat itu Fox berencana mempertimbangkan beberapa negara Asia lain seperti Vietnam dan Filipina. Indonesia melalui Wiro Sableng dengan intellectual property kuat menjadi negara pertama yang bekerjasama dengan Fox.
 
"Akhirnya karena Wiro yang punya potensi besar, Wiro menjadi kerjasama pertama di Southeast Asia dengan Fox," lanjut Lala.
 
Untuk Wiro Sableng, Lala Timothy tidak banyak menggunakan kru asing dan melibatkan 1.000 kru asal Indonesia. Chan Man Ching asal China menjadi satu-satunya orang luar sebagai action director. Kru didominasi warga lokal menjadi nilai kuat untuk konten Wiro Sableng.
 
"Kenapa? Karena memang jadi tidak masuk ke budget kalau misal kita hire expat (ekspatriat) luar. Selain itu karena Wiro yang punya style cerita yang sangat lokal banget kalau diterjemahkan kru luar jadi beda. Dia enggak ngerti budaya, komedi, dan style-nya," jelas Lala.
 
Ada dua hal yang menjadi daya pikat Indonesia dilirik Hollywood yaitu konten lokal dan keunikan cerita.
 
"Contohnya Wiro Sableng misalnya. Dia IP yang memang sudah berbasis dari tahun '67, punya basis fan base yang sangat besar sekali," kata Lala.
 
"Wiro dengan action-comedy dan fantasi merupakan salah satu cerita yang punya potensi bukan cuma satu film tapi punya banyak sekuel, series dan sebagainya," sambung Lala menceritakan keunikan dari cerita Wiro Sableng.
 
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA