Jakarta: Masayu Anastasia menghadapi tantangan tidak biasa saat terlibat dalam film AUTOPSY: Dead Body Can Talk. Demi mendalami perannya, aktris berusia 42 tahun tersebut harus mempelajari istilah kedokteran, bahasa kepolisian, hingga prosedur autopsi yang benar.
Pengalaman tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Masayu. Pasalnya, film AUTOPSY: Dead Body Can Talk membawa penonton memasuki dunia forensik yang selama ini jarang diperlihatkan secara mendalam melalui layar lebar Indonesia.
Masayu mengaku tidak ingin sembarangan ketika memainkan karakter dalam film tersebut. Ia merasa memiliki tanggung jawab untuk memahami berbagai prosedur dan istilah yang berkaitan dengan dunia kedokteran forensik.
"Tantangannya adalah menghafalkan bahasa-bahasa kedokteran, bahasa kepolisian, terus cara autopsi yang benar gitu, karena kan aku juga enggak mau sembarangan gitu kan. Dan sebenarnya buat aku tiap scene itu, tiap adegan itu berat sekali buat aku gitu. Jadi aku harus masukin emosi yang sebelumnya untuk ke scene yang akan aku jalanin gitu," kata Masayu Anastasia.
Tidak hanya mempelajari berbagai istilah teknis, Masayu juga berusaha memahami suasana dan pekerjaan di ruang autopsi. Dia sempat mengutarakan keinginan untuk melihat secara langsung proses yang berlangsung di ruangan tersebut.
Keinginan itu muncul sebagai bagian dari upayanya memahami dunia yang menjadi latar utama film AUTOPSY: Dead Body Can Talk. Masayu ingin mendapatkan gambaran lebih nyata agar dapat memberikan penampilan yang meyakinkan di depan kamera.
Pengalaman tersebut memperlihatkan keseriusan Masayu dalam mempersiapkan perannya. Dia tidak hanya dituntut menghafalkan dialog, tetapi juga harus memahami kondisi psikologis karakter ketika berhadapan dengan berbagai kasus kematian.
Menurut Masayu, hampir setiap adegan dalam film tersebut memiliki tingkat kesulitan tersendiri. Dia harus menjaga kesinambungan emosi dari satu adegan menuju adegan berikutnya agar perjalanan karakter yang diperankan tetap terasa kuat.
AUTOPSY: Dead Body Can Talk sendiri telah resmi meluncurkan official trailer dan poster perdana. Trailer berdurasi 2 menit 25 detik tersebut memperlihatkan atmosfer ruang forensik yang dingin, penuh ketelitian, dan menyimpan berbagai teka-teki.
Dalam cuplikan trailer, jasad korban menjadi saksi penting untuk mengungkap sebuah kejahatan. Setiap luka, lebam, hingga zat asing yang ditemukan di dalam tubuh dianalisis menggunakan ilmu forensik untuk menemukan petunjuk mengenai penyebab kematian.
Film tersebut terinspirasi dari sosok dr. Sumy Hastry Purwanti yang dikenal melalui dedikasi dan kontribusinya di bidang forensik. Kehadiran sosok tersebut menjadi fondasi dalam pengembangan cerita AUTOPSY: Dead Body Can Talk.
Sutradara Ozan Ruz mengatakan, film tersebut lebih mengedepankan realitas dan aspek psikologis dibandingkan menggunakan pendekatan horor pada umumnya. Penonton diajak mengikuti perjalanan emosional karakter dr. Hastry dalam mengungkap berbagai kasus.
"Melalui visual yang intim dan atmosfer yang menekan, saya ingin membawa penonton mengikuti perjalanan emosional dr. Hastry. Empati menjadi kekuatan utamanya, bukan sesuatu yang supranatural, melainkan kepekaan yang membimbingnya menemukan petunjuk, yang kemudian selalu dibuktikan melalui ilmu forensik," ujar Ozan Ruz.
Rina Tarigan selaku Story Origin AUTOPSY: Dead Body Can Talk menjelaskan bahwa ide film tersebut berangkat dari keyakinan bahwa cerita yang terinspirasi peristiwa nyata dapat menciptakan kedekatan emosional dengan penonton.
"Ide awal film ini berangkat dari sebuah pemikiran sederhana bahwa sebuah kisah yang diangkat dari peristiwa nyata akan memiliki kedekatan emosional yang lebih kuat dengan penonton, terlebih jika terinspirasi oleh sosok yang telah dikenal luas karena dedikasi dan kontribusinya di bidangnya. Dari pemikiran tersebut, nama dr. Sumy Hastry Purwanti muncul sebagai sosok yang paling tepat," jelas Rina.
Sementara itu, produser Fariz Stanzah mengatakan proses produksi film tersebut menghadirkan tantangan tersendiri. Tim produksi berusaha menjaga autentisitas dunia forensik tanpa mengesampingkan kebutuhan artistik dalam pembuatan film.
"Sejak awal, kami memahami bahwa film ini menuntut tingkat autentisitas yang tinggi dalam menghadirkan dunia forensik ke layar lebar. Karena itu, setiap keputusan produksi kami ambil dengan mempertimbangkan keseimbangan antara kebutuhan artistik, akurasi visual, dan efisiensi pelaksanaan di lapangan," katanya.
Selain Masayu Anastasia, film AUTOPSY: Dead Body Can Talk turut dibintangi Samuel Rizal, Teuku Rifnu Wikana, Ge Pamungkas, dan Ryuka Bunga. Film produksi Karya Kreatif Utama tersebut dijadwalkan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 3 September 2026.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan