Ringgo Agus Rahman dan Widuri Putri dalam Keluarga Cemara (Visinema Pictures)
Ringgo Agus Rahman dan Widuri Putri dalam Keluarga Cemara (Visinema Pictures)

Ulasan Film Keluarga Cemara

Hiburan ulasan film
Purba Wirastama • 06 Januari 2019 11:25
Serial tv Keluarga Cemara yang begitu melegenda, dikemas dengan balutan dan nuansa baru ke layar lebar oleh sutradara muda Yandy Laurens dan penulis naskah Gina S Noer.
 
Jakarta:
Keluarga Cemara adalah kisah klasik yang begitu populer. Bahkan yang belum pernah membaca serial televisi atau novelnya, setidaknya sudah pernah mendengar itu sebagai sebuah idiom. Sepenggal lirik lagunya – selamat pagi Abah, selamat pagi Emak! sudah tak asing di telinga.
 
Kisahnya berpusat pada hidup dan perjuangan satu keluarga sederhana di daerah pinggiran. Sang ayah, yang merupakan tulang punggung keluarga, mendadak bangkrut.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Film terbarunya, garapan sutradara muda Yandy Laurens dan penulis naskah Gina S Noer, menghidupkan lagi kisah itu dengan pemain dan pendekatan baru, serta latar cerita yang lebih sempit. Ringgo Agus Rahman dan Nirina Zubir memerankan Abah dan Emak ketika mereka baru saja pindah ke desa dan beradaptasi dengan situasi baru yang serba terbatas.
 
Apakah drama keluarga versi film ini semenarik versi serial tv-nya dua dekade silam? Secara singkat, saya memberikan suara iya.
 
Dengan modal bekal cerita keluarga dan rumah tangga yang nyambung dengan begitu banyak orang, bagi saya, film ini mampu memaksimalkan itu dan memberi suntikan emosional sangat kuat dalam adegan demi adegan yang reflektif. Siapkan tisu atau kain penyeka bagi yang mudah meneteskan air mata.
 
Alkisah, Abah terganjal hutang besar yang melibatkan perusahaan dan kakak iparnya. Rumah dan hartanya disita. Sembari mencoba berjuang lewat jalur hukum, Abah memboyong Emak, Euis (Zara JKT48), dan Cemara (Widuri Puteri) ke desa. Untunglah, masih ada rumah warisan kecil dekat halaman hijau asri peninggalan ayah Abah.
 
Abah dan Emak berusaha mendapatkan sumber penghasilan baru. Sama seperti kisah aslinya, Abah penyabar yang membungkus segala perkara dengan humor dan keriangan, Emak sering menyimpan perkara dengan diam.
 
Euis meninggalkan kenyamanan kota dan sekolah. Padahal dia remaja yang sedang menikmati pergaulan dan prestasi yang menyenangkan. Cemara atau Ara adalah bocah polos periang yang selalu melihat hal positif di sekitar. Namun ada juga satu masa ketika Ara mengeluhkan arti namanya.
 
Sepanjang film, kita melihat hari demi hari bagaimana mereka berempat berhadapan dengan keterbatasan dan berbagai hal yang terhitung baru. Misalnya Euis sulung yang mulai berontak, menstruasi pertama, ponsel tanpa sinyal, berdagang kecil-kecilan, harapan tinggal kembali di kota, hingga pemaknaan mendalam soal relasi memiliki dan dimiliki.
 
Ara, sebagai anak terkecil yang masih memahami dunia, punya peran krusial dalam momen-momen tegang dan tersudut. Ada satu momen emosional ketika rumah yang dingin dan senyap itu mendadak hangat karena senyum dan pelukan gembira Ara. Widuri memberi penampilan akting mengesankan. Begitu juga dengan Ringgo, Nirina, dan Zara.
 
Dengan rapi dan hati-hati, Yandy dan timnya mengolah reaksi demi reaksi para tokoh dalam adegan dengan kuat dan menonjol. Bahkan sering tanpa kata, hanya ekspresi. Ini didukung pilihan musik skor yang tampaknya tidak ingin membiarkan penonton berlalu dari momen haru cepat-cepat. Begitu haru menyelinap, musik muncul dan menarik kita lebih dalam.
 
Satu hal paling menganggu adalah penempatan merek sponsor dalam cerita yang terasa terlalu berlebihan. Masuk akal, tetapi tetap membuat kecewa. Kita tidak tahu pasti kompromi seperti apa yang terjadi dalam produksi. Namun di dunia nyata, produk era internet ini memang telah menjadi bagian besar dalam kehidupan masyarakat kota.
 
Adegan pembuka dan penutup film ini seperti pengulangan tetapi dalam semangat yang berbeda. Dalam suasana hangat, haru, ceria, dan jenaka sekaligus, Cemara menutup kisah keluarga ini dengan manis.
 
Keluarga Cemara
Sutradara: Yandy Laurens
Penulis: Yandy Laurens, Gina S Noer
Produser: Anggia Kharisma, Gina S Noer
Durasi: 110 menit
Rilis Indonesia: 3 Januari 2019
Klasifikasi LSF: SU

 
Kehangatan Keluarga Cemara di Layar Lebar

 

(FIR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif