Jakarta: Film Jangan Menyerah, Ibu menawarkan pendekatan berbeda dalam mengisahkan perjuangan pasangan mendapatkan keturunan. Dibintangi Citra Kirana dan Roy Sungkono, film garapan Rako Prijanto ini justru menghadirkan cerita dari sudut pandang ruh yang menyaksikan ikhtiar calon orang tua.
Film Jangan Menyerah, Ibu diadaptasi dari novel yang sebelumnya dikenal dengan judul I Am Sarahza karya Hanum Rais. Setelah dikenal lewat film 99 Cahaya di Langit Eropa, Hanum kini menghadirkan Jangan Menyerah, Ibu sebagai drama keluarga dengan pendekatan cerita yang berbeda.
Karya tersebut kini diterbitkan kembali oleh Terra Pustaka dengan judul Jangan Menyerah, Ibu, sekaligus menjadi bagian dari perjalanan baru cerita yang mengangkat perjuangan pasangan dalam mendapatkan keturunan.
Nuansa haru terasa dalam acara Bedah Buku dan Produksi Film Jangan Menyerah, Ibu yang digelar di Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026 pada Sabtu, 3 Oktober. Dalam acara tersebut, untuk pertama kalinya publik diperlihatkan teaser sekaligus tampilan perdana dari film yang dipersiapkan tayang di bioskop.
Jangan Menyerah, Ibu membawa kisah yang berangkat dari perjalanan panjang penuh penantian. Ceritanya menggambarkan bagaimana harapan dapat tetap dijaga meski seseorang harus menghadapi berbagai tantangan dan kegagalan dalam perjalanan untuk memiliki buah hati.
Namun, ada hal yang membuat film ini berbeda dari drama keluarga pada umumnya. Jangan Menyerah, Ibu tidak hanya bercerita melalui perspektif manusia, tetapi menggunakan sudut pandang ruh sebagai bagian penting dalam menyampaikan kisahnya.
Sutradara Rako Prijanto menjelaskan, cerita film ini mengambil perspektif ruh yang berada di alam Lauhul Mahfuz. Dari sudut pandang tersebut, ruh digambarkan dapat menyaksikan perjuangan calon orang tua sebelum akhirnya hadir ke dunia.
“Kita ambil perspektif ruh di alam Lauhul Mahfuz yang bisa melihat dan mendengar apa yang diusahakan dan diikhtiarkan calon kedua orang tua. Inilah yang menjadi keunikan drama keluarga ini,” ujar sutradara Rako Prijanto.
Pendekatan tersebut membuat perjuangan untuk mendapatkan keturunan tidak hanya dilihat dari sisi pasangan yang sedang berusaha. Film ini juga mencoba menghadirkan perspektif yang lebih luas mengenai hubungan antara harapan, ikhtiar, keluarga, dan kehidupan yang belum terlihat.
Pesan mengenai pentingnya mempertahankan harapan menjadi salah satu fondasi utama Jangan Menyerah, Ibu. Cerita ini membawa gagasan bahwa selama seseorang masih memiliki harapan, selalu ada alasan untuk bertahan dan melanjutkan perjalanan.
Dokter Lula Kamal, yang hadir dalam acara tersebut sebagai mantan pejuang dua garis, turut berbicara mengenai pentingnya peran keluarga dalam perjalanan memperoleh keturunan. Menurutnya, dukungan orang-orang terdekat dapat membantu seseorang tetap memiliki kekuatan ketika harapan berulang kali diuji.
“Yang digarisbawahi dalam buku dan film Jangan Menyerah, Ibu adalah bagaimana kita selalu mampu memelihara harapan, menghangatkannya, meskipun terkadang harapan dihadapkan kegagalan berulang. Di situlah keluarga berperan,” tuturnya.
Pergantian judul dari I Am Sarahza menjadi Jangan Menyerah, Ibu juga menjadi bagian penting dari perjalanan karya tersebut. Judul baru itu dinilai dapat membawa pesan cerita kepada pembaca dan penonton dengan jangkauan yang lebih luas.
“Pergantian judul ini menjadi penanda babak baru perjalanan karya tersebut sekaligus membawa pesannya kepada audiens yang lebih luas,” tutur Ayi Fahrudin, produser film dari SinemArt.
Untuk versi filmnya, Jangan Menyerah, Ibu diproduksi oleh SinemArt dan diarahkan oleh Rako Prijanto. Film ini dibintangi Citra Kirana dan Roy Sungkono sebagai pemeran utama yang akan membawa kisah perjuangan keluarga tersebut ke layar lebar.
Jangan Menyerah, Ibu direncanakan tayang pada akhir 2026.
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan