Film Ghost in the Cell Joko Anwar (Foto: dok.Come and See Pictures)
Film Ghost in the Cell Joko Anwar (Foto: dok.Come and See Pictures)

Gemparkan Pasar Film Global, ‘Ghost in the Cell’ Diborong Puluhan Negara Sebelum Tayang di Indonesia

Muhammad Syahrul Ramadhan • 02 April 2026 09:52
Ringkasnya gini..
  • Meski belum resmi menyapa penonton di bioskop tanah air, film ini telah berhasil mencuri perhatian distributor film dunia.
  • Ghost in the Cell versi Joko Anwar menjanjikan keunikan tersendiri.
  • Joko Anwar mengaku awalnya tidak menduga bahwa kisah yang ia racik dapat menyentuh penonton global secara mendalam
Jakarta: Industri perfilman Indonesia kembali mencatatkan prestasi gemilang di kancah internasional. Sutradara kenamaan, Joko Anwar, kembali membuktikan tajinya melalui karya terbaru yang sangat dinantikan, yakni film bertajuk Ghost in the Cell.
 
Meski belum resmi menyapa penonton di bioskop tanah air, film ini telah berhasil mencuri perhatian distributor film dunia. 

Dominasi Global Sebelum Penayangan Perdana

Prestasi yang diraih Ghost in the Cell tergolong sangat langka untuk film Asia Tenggara. Sebelum jadwal rilis resminya di Indonesia, hak siar film ini dilaporkan telah diborong oleh distributor dari 86 negara di berbagai belahan dunia.
 
Hal ini menunjukkan besarnya kepercayaan pasar internasional terhadap kualitas penceritaan dan visual yang disuguhkan oleh Joko Anwar. Nama sang sutradara yang sebelumnya sukses dengan Pengabdi Setan dan Siksa Kubur tampaknya menjadi jaminan mutu di mata para pembeli film global.

Meskipun judulnya mengingatkan pada waralaba cyberpunk terkenal, Ghost in the Cell versi Joko Anwar menjanjikan keunikan tersendiri dengan sentuhan horor atau thriller khasnya yang selalu mencekam. Ketertarikan 86 negara ini mencakup wilayah-wilayah besar di Amerika Utara, Eropa, hingga Asia Timur, yang dikenal memiliki standar seleksi film yang cukup ketat.
 
Joko Anwar mengaku awalnya tidak menduga bahwa kisah yang ia racik dapat menyentuh penonton global secara mendalam. Namun, ia menyadari bahwa isu yang diangkat dalam Ghost in the Cell melampaui batas geografis. 
 
Menurut Joko Anwar, Kkorupsi tidak mengenal kewarganegaraan, ketidakadilan adalah bahasa universal, dan perjuangan mencari kebenaran dipahami oleh semua manusia.  Menurutnya, alasan 86 negara berebut hak siar bukan semata karena predikat 'film Indonesia yang bagus', melainkan karena karya ini memiliki standar kualitas global dan relevansi yang nyata bagi penonton di Amerika, Brasil, India, hingga Prancis.
 
Keberhasilan penjualan internasional ini tentu semakin memicu rasa penasaran penonton di dalam negeri. Strategi merilis informasi mengenai kesuksesan di luar negeri terlebih dahulu sering kali terbukti ampuh dalam membangun antisipasi yang tinggi sebelum film tersebut akhirnya "pulang" ke bioskop Indonesia.
 
Kabar ini langsung disambut hangat oleh para pecinta film di media sosial. Banyak yang merasa bangga bahwa sineas Indonesia mampu bersaing secara kompetitif dan karyanya diapresiasi secara komersial oleh puluhan negara bahkan sebelum penayangan perdana dimulai.
 
(Fany Wirda Putri)
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(RUL)




TERKAIT

BERITA LAINNYA