Film The Devil Wears Prada 2 (Foto: 20th Century Studios)
Film The Devil Wears Prada 2 (Foto: 20th Century Studios)

Review The Devil Wears Prada 2: Potret Pahit Industri Media yang Tergerus Digitalisasi

Rafi Alvirtyantoro • 29 April 2026 12:54
Ringkasnya gini..
  • Review film The Devil Wears Prada 2 menyoroti transisi pahit majalah Runway dari media cetak ke era digital.
  • Sinopsis The Devil Wears Prada 2 mengisahkan reuni ikonik Miranda Priestly dan Andy Sachs memperbaiki citra perusahaan.
  • Jadwal tayang The Devil Wears Prada 2 di bioskop Indonesia resmi dimulai pada 29 April 2026.
Jakarta: Digitalisasi menjadi tantangan besar bagi Miranda Priestly untuk mempertahankan majalah mode Runway. Pertemuannya dengan Andy Sachs di The Devil Wears Prada 2 menjadi penentu masa depan media yang dipimpinnya.
 
Sutradara David Frankel kembali menghadirkan sekuel The Devil Wears Prada (2006) setelah dua dekade. Film pertamanya merupakan adaptasi dari buku berjudul sama karya Lauren Weisberger.
 
The Devil Wears Prada 2 kembali menghadirkan ansambel pemain ikonik dari film pertamanya, yakni Meryl Streep, Anne Hathaway, Emily Blunt, dan Stanley Tucci. Film ini tayang di bioskop Indonesia mulai 29 April 2026.  

Sinopsis The Devil Wears Prada 2

Miranda Priestly (Meryl Streep) menghadapi masalah besar setelah reputasi majalah Runway memburuk akibat sebuah artikel. Dampaknya, berbagai merek fesyen ternama berencana membatalkan kerja sama iklan di majalah tersebut.

Untuk mengatasi krisis, Andy Sachs, mantan asisten Miranda yang kini menekuni dunia jurnalistik, diminta kembali ke Runway. Ia bertugas memperbaiki citra perusahaan agar para pengiklan kembali percaya.
 
Suatu hari, Miranda dan tangan kanannya, Nigel Kipling, mengajak Andy Sachs bernegosiasi dengan jenama Dior. Namun, siapa sangka Andy kembali bertemu dengan Emily (Emily Blunt), mantan asisten Miranda sekaligus rekan kerjanya dahulu.
 
Pertemuan ini bukan sekadar reuni, melainkan awal perjalanan Andy untuk menghidupkan kembali Runway di tengah era digital. Ia pun harus kembali berhadapan dengan sosok Miranda yang ditakuti para karyawannya.
 

 

   

Review Film The Devil Wears Prada 2

Tantangan Media di Era Digital

Mengambil latar 20 tahun setelah film pertama, The Devil Wears Prada 2 dibuka dengan kehidupan Andy Sachs sebagai jurnalis. Karakternya di sekuel ini terasa lebih kuat berkat latar belakang profesionalnya di dunia media.
 
Film ini memotret realitas pahit industri media saat ini, di mana keberlangsungan bisnis terus terancam. Hal ini diperlihatkan melalui adegan Andy dan rekan-rekannya yang terkena pemutusan hubungan kerja secara sepihak, meski telah memberikan kontribusi positif bagi perusahaan.
 
Alur ceritanya menyoroti transisi industri media, di mana Runway beralih dari format cetak ke digital. Ini menjadi tantangan baru bagi Andy karena artikel yang ditulisnya tidak hanya harus berkualitas, tetapi juga mampu menarik minat pembaca untuk mengekliknya.
 
Efisiensi anggaran yang diterapkan Runway menjadi cerminan kondisi ekonomi yang sulit bagi media konvensional. Apalagi, saat ini minat masyarakat untuk membaca versi cetak sudah jauh menurun.  

Reuni Ikonik Miranda dan Andy

Selain konflik yang relevan, The Devil Wears Prada 2 menjadi pengobat rindu bagi penggemar duo ikonik Miranda Priestly dan Andy Sachs. Dinamika di antara keduanya masih terasa kuat bagi penonton, meski terdapat perubahan karakter setelah dua dekade berlalu.
 
Pengaruh yang dimiliki Miranda tampak mengalami penurunan. Penonton akan melihat sosok Miranda yang kini mulai bisa dikendalikan oleh beberapa pihak, termasuk Emily.
 
Sementara itu, Andy Sachs terlihat lebih mendominasi. Hal ini terbukti dari keberhasilannya mengatur janji temu dengan pihak-pihak penting yang sebelumnya sulit dijangkau oleh Miranda.
 
Film ini juga menyisipkan bumbu romansa, khususnya bagi Andy yang kini menemukan tambatan hati. Meski porsinya tidak dominan, adegan tersebut memberikan kesegaran dalam alur cerita. Penonton juga akan melihat perkembangan kehidupan asmara Emily yang memiliki peran krusial dalam plot.  

Cameo Fesyen dan Nostalgia

Selain memanjakan mata dengan busana ikonis, kemunculan Lady Gaga yang membawakan lagu “Runaway” memberikan hiburan tersendiri. Musik yang dihadirkan membuat suasana sepanjang film terasa lebih hidup.
 
Sejumlah tokoh mode dunia juga hadir sebagai kameo, salah satunya Donatella Versace, perancang busana ternama dari rumah mode Versace.
 
Walaupun berhasil membangun dinamika yang kuat, bagian akhir The Devil Wears Prada 2 terasa sedikit melemah. Penutupnya tergolong biasa saja untuk film yang telah dinantikan selama 20 tahun, seolah hanya ingin mengajak penonton bernostalgia.
 
Bagi penonton baru, sangat disarankan untuk menyaksikan film pertamanya terlebih dahulu. Saat ini, The Devil Wears Prada masih tersedia di layanan aliran Disney Plus.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA