Langkah ekspansi itu diumumkan dalam pemaparan visi baru perusahaan di Jakarta, Kamis (22/5). Dalam fase baru ini, PK Entertainment Group memperkuat sejumlah lini bisnis seperti PK Films, PK Music, hingga PK Capital untuk menjangkau industri hiburan secara lebih luas.
“Transformasi bisnis kami merupakan refleksi dari bagaimana perilaku konsumen di industri hiburan terus berkembang. Berbekal 11 tahun pengalaman dan pemahaman mendalam terhadap audiens, PK Entertainment Group kini bergerak melampaui peran sebagai penyelenggara konser dan event untuk menjadi salah satu penggerak dalam membangun infrastruktur ekonomi kreatif Indonesia. Kami ingin membangun ekosistem yang dapat tumbuh bersama konsumennya,” ujar Harry Sudarma.
Dari Konser Internasional ke Industri Film
Selama ini, PK Entertainment dikenal lewat konser artis internasional dan festival berskala besar. Dalam 11 tahun terakhir, mereka mengklaim telah menghadirkan lebih dari 30 konser internasional dengan total lebih dari satu juta penonton di Indonesia.Namun kini fokus mereka meluas. Lewat PK Films, perusahaan mulai aktif mendanai dan memproduksi film lokal. Setelah merilis lima judul film sepanjang 2025, divisi tersebut menargetkan lebih dari 10 proyek baru pada 2026.
Sejumlah proyek yang diumumkan mencakup film horor, drama, hingga animasi dan IP populer Indonesia. Judul-judul yang masuk dalam daftar pengembangan antara lain Cerita Lila, Sihir Tanah Kubur, Putri Jangan Gentayangan Lagi, Si Manis Jembatan Ancol 2, Hungry Ghost Festival, Di Ambang Kematian II, hingga Betting with Ghost yang digarap bersama MVP Pictures.
Selain itu, terdapat pula proyek Garuda di Dadaku bersama BASE Entertainment serta Seni Merayu Tuhan yang dikembangkan bersama Wahana Kreator.
Ekspansi ini juga memperlihatkan perubahan strategi bisnis perusahaan hiburan di Indonesia yang mulai bergerak lintas medium — dari konser, festival, musik, hingga intellectual property (IP) film dan budaya populer.
Dukungan terhadap langkah PK Entertainment Group datang dari produser senior Raam Punjabi yang menjadi salah satu mitra kolaborasi mereka di industri film.
Raam memuji visi dan agresivitas generasi baru perusahaan tersebut dalam membaca peluang industri hiburan Indonesia.
“Dalam 12 tahun saya sudah melihat PK terbang, saya nggak tahu dalam 20 tahun kemudian apa yang mereka akan lakukan so, we have to put our hands together for the founders, you are the best of the best.”
Ia juga menilai PK Entertainment Group memiliki insting kuat dalam memilih proyek film.
“PK film tidak hanya punya semangat tapi D.K. film juga punya mata jeli dan tahu di film-film mana yang harus mereka join.”
Menurut Raam, kolaborasi dengan perusahaan tersebut membuka peluang baru dalam pengembangan film-film komersial Indonesia.
Generasi Muda dan Perubahan Industri Hiburan
PK Entertainment Group melihat perubahan perilaku generasi muda sebagai salah satu alasan utama ekspansi tersebut. Menurut perusahaan, Gen Z dan milenial di Asia Tenggara kini lebih mengutamakan pengeluaran untuk pengalaman hiburan seperti konser, festival, dan aktivitas imersif dibanding kepemilikan barang.Pasar live entertainment di Asia Tenggara sendiri diproyeksikan mencapai USD 770 juta pada 2028 (sekitar Rp12,5 triliun), sementara sektor experiential marketing diperkirakan tumbuh dari USD 1,2 miliar pada 2025 (sekitar Rp19,5 triliun) menjadi USD 3,8 miliar pada 2034 (sekitar Rp61,7 triliun).
Di industri film, pertumbuhan pasar Indonesia juga dinilai semakin signifikan. Film lokal kini disebut menguasai sekitar 65 persen pangsa box office domestik dengan tingkat pertumbuhan tahunan rata-rata hampir 10 persen.
“Kini audiens semakin mencari pengalaman yang personal, imersif, dan berbasis komunitas, maka kolaborasi menjadi cara paling relevan untuk menjangkau mereka di berbagai sektor hiburan. Mulai dari live entertainment, film, musik, hingga creative ventures. Kami percaya masa depan industri hiburan akan dimiliki oleh ekosistem, bukan bisnis yang berdiri sendiri,” ujar Peter Harjani.
Perluasan ke Asia Tenggara
Selain perfilman, perusahaan juga memperluas bisnis musik dan festival ke tingkat regional. Melalui PK Music, mereka telah menggelar lebih dari 50 event musik lokal dalam dua tahun terakhir dan mulai berekspansi ke Singapura dan Malaysia.Di sektor festival, PK Entertainment Group turut menyiapkan ekspansi LaLaLa Fest ke Manila, Filipina. Mereka juga menggandeng Antara Suara untuk membawa musisi lokal ke panggung internasional lewat proyek D’Masiv Asia Home Run.
Sementara di ranah konser internasional, perusahaan memberi sinyal akan menghadirkan sejumlah pertunjukan baru termasuk untuk ENHYPEN dan BOYNEXTDOOR, serta event budaya pop seperti Anime Festival Asia.
Dalam kesempatan yang sama, PK Entertainment Group juga memperkenalkan K+ Entertainment, perusahaan kolaborasi baru bersama CT Corp yang akan fokus menghadirkan pengalaman budaya dan hiburan berskala besar di Indonesia.
Memasuki dekade berikutnya, perusahaan tersebut menyatakan ingin membangun model bisnis hiburan yang lebih kolaboratif — mempertemukan konser, film, musik, komunitas, dan kreator dalam satu ekosistem yang saling terhubung.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News