19 Film Kiriman Indonesia untuk Piala Oscar
Adegan film Turah yang dikirim ke Piala Oscar tahun ini (Foto: dok. fourcolors)
Jakarta: Academy Awards atau Piala Oscar secara rutin memberikan penghargaan bagi film yang bukan berbahasa Inggris sejak gelaran ke-29 pada 1956. Sejak Oscar ke-60, Indonesia ikut serta dengan mengajukan film untuk diseleksi.

Submisi ini ditangani Persatuan Perusahaan Film Indonesia. Agenda ini tidak rutin setiap tahun karena hingga Oscar ke-90, baru ada 19 film cerita yang dikirim. Semuanya tidak lolos seleksi nominasi.

Berikut daftar 19 judul film ini beserta tahun rilis, nama sutradara, dan keterangan singkat . Tiga film berasal dari era 1980, tiga film dari era 1990, enam film era 2000, dan tujuh film era 2010.


1. Naga Bonar (1986, MT Risyaf)
Berlatar perang kemerdekaan di Sumatera, seorang bekas copet naif (Deddy Mizwar) memimpin sebuah laskar pejuang melawan Belanda. Setelah sekuelnya dirilis pada 2008, film terbaik versi Piala Citra ini diedarkan ulang dalam versi restorasi.

Poster Nagabonar (indonesian film center)


2. Tjoet Nja' Dhien (1986, Eros Djarot)
Berlatar era kolonial, Teuku Umar (Slamet Rahardjo) dan Tjoet Nja Dhien (Christine Hakim) memimpin rakyat Aceh memerangi penjajah Belanda. Selain dikirim untuk seleksi Oscar, film terbaik Piala Citra ini juga diputar di La Semaine de la Critique dalam Festival Fil Cannes.

3. Langitku, Rumahku (1989, Slamet Rahardjo)
Gempol anak orang miskin bersahabat dengan Andri anak orang kaya dan bertualang dari Jakarta ke Surabaya setelah ada penggusuran. Film berjudul asli Dua Karcis Gratis ini digarap dua bersaudara Slamet dan Eros Djarot. Banyubiru putra Eros menjadi pemeran Andri.

4. Bibir Mer (1991, Arifin C Noer)
Maria (Bella Esperance Lee) bekerja di salon milik Mbak Yani (Jajang C Noer), yang punya hubungan rahasia dengan pengusaha besar. Jajang dan editor Karsono Hadi meraih Piala Citra lewat film ini.

5. Daun di Atas Bantal (1998, Garin Nugroho)
Tiga bocah miskin menjalani kehidupan sebagai anak jalanan tanpa pendidikan bersama pelayan toko (Christine Hakim) yang menjadi ibu asuh mereka. Debut produksi Christine ini juga diputar di program Un Certain Regard Festival Film Cannes.

6. Sri (1999, Marselli Sumarno)
Sri (Rina Ariyanti), gadis desa pantai, meminta Dewa Maut menunda kematian suaminya (RMT Ronosuripto), bangsawan tua pemabuk dan penjudi. Selain film debut ini, sutradara Marselli juga membuat film dokumenter tentang Gesang (2016).

7. Ca-bau-kan (2002, Nia Dinata)
Wanita lanjut usia (Niniek L Karim) kembali dari Belanda ke Indonesia dan menarasikan riwayat ayah (Ferry Salim) dan ibunya (Lola Amaria). Adaptasi dari novel Ca-Bau-Kan: Hanya Sebuah Dosa karya Remy Sylado.

Ca-bau-kan (youtube fliktv)

8. Biola Tak Berdawai (2003, Sekar Ayu Asmara)
Berkaca dari masa lalu, mantan penari balet (Ria Irawan) mendirikan rumah asuh bagi anak tunadaksa yang disingkirkan orangtua mereka. Dia dibantu dokter anak (Jajang C Noer) dan pemain biola (Nicholas Saputra).

9. Gie (2005, Riri Riza)
Film terbaik Piala Citra ini merupakan dramatisasi atas catatan harian milik aktivis mahasiswa Soe Hok Gie. Gie (Jonathan Mulia, Nicholas Saputra) sangat kecewa melihat perjuangan melawan tirani penguasa justru lahirkan rezim baru yang kejam.

10. Berbagi Suami (2006, Nia Dinata)
Tiga perempuan (Jajang C Noer, Shanty, Dominique) dari kelas sosial ekonomi dan suku berbeda menuturkan dinamika kehidupan poligami masing-masing. Ini adalah film kedua arahan Nia yang dikirim untuk seleksi Oscar.

11. Denias Senandung di Atas Awan (2007, John de Rantau)
Atas dorongan sang guru, almarhum ibu, dan tentara, Denias (Albert Fakdawer) melintasi pegunungan Jayawijaya Papua dengan harapan bisa diterima di sekolah ternama, yang ternyata milik PT Freeport dan hanya khusus bagi anak kepala suku atau suku terdekat.

12. Jamila dan Sang Presiden (2009, Ratna Sarumpaet)
Setelah mengaku membunuh menteri dan dipenjara, Jamila (Atiqah Hasiholan) membagi masa lalunya yang kelam kepada sipir penjara (Christine Hakim). Film ini diadaptasi dari naskah teater Pelacur & Sang Presiden karya Ratna.

13. Alangkah Lucunya (Negeri Ini) (2010, Deddy Mizwar)
Dua tahun tak mendapat kerja, lulusan sarjana (Reza Rahadian) bekerja sebagai pengelola keuangan klub copet dengan bantuan sarjana pendidikan (Asrul Dalan) dan lulusan D3 (Tika Bravani).

14. Di Bawah Lindungan Ka'bah (2011, Hanny Saputra)
Kisah cinta tragis pria (Herjunot Ali) dan wanita (Laudya C Bella) yang berbeda kelas sosial ekonomi. Film ini diaptasi dari novel berjudul sama tahun 1938 karya Hamka, yang juga pernah diadaptasi menjadi film Para Perintis Kemerdekaan (1981).

15. Sang Penari (2011, Ifa Isfansyah)
Berlatar 1960-an, Rasus (Oka Antara) dan Srintil (Prisia Nasution) saling jatuh cinta tapi adat kampung membuat Srintil menjadi penari yang harus siap melayani lelaki setiap ada pentas. Film ini diadaptasi dari novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari dan jadi film terbaik versi Piala Citra.

Sang Penari (youtube fliktv)

16. Sang Kiai (2013, Rako Prijanto)
Berlatar 1940-an, sebuah pesantren di Jawa Timur terpecah karena beda cara dalam membebaskan pimpinan mereka yang ditangkap pemerintah kolonial Jepang. Film terbaik Piala Citra ini merupakan dramatisasi kisah hidup KH Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama dan pejuang kemerdekaan.

17. Soekarno (2013, Hanung Bramantyo)
Dramatisasi kisah hidup Presiden pertama, Soekarno, dari anak sakit-sakitan bernama Kusno, hingga menjelma kuat seperti ksatria Adipati Karno. Soekarno mengobarkan semangat rakyat untuk merdeka dari penjajahan Belanda dan Jepang.

18. Surat dari Praha (2016, Angga Dwimas Sasongko)
Memenuhi wasiat sang ibu, Larasati (Julie Estelle) menuju Praha demi mengantarkan sepucuk surat untuk Jaya (Tio Pakusadewo), mantan pelajar Praha yang puluhan tahun tak bisa pulang Indonesia karena situasi politik tanah air. Film ini diinspirasi dari kisah nyata kehidupan para pelajar yang memang tak bisa pulang sejak 1966.

19. Turah (2016, Wicaksono Wisnu Legowo)
Potret kehidupan suatu kampung miskin di Tegal, yang berisi orang-orang kalah dalam persaingan hidup, pesimis, serta takut terhadap juragan kaya raya dari kota. Film ini lebih dulu berkeliling festival dan tempat pemutaran komunitas, lalu dirilis di bioskop tahun berikutnya.


 



(ELG)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id