Itulah kalimat penutup film Talking the Picture karya sutradara terkemuka Suo Masayuki (Shall We Dance?) yang gala premier dalam Tokyo International Film Festival (TIFF) 2019. Film ini merupakan pengingat dan penghormatan terhadap profesi unik yang penting dalam industri perfilman Jepang awal abad ke-20, yaitu benshi alias narator.
Semenjak penemuannya pada 1895, media film cepat menyebar ke berbagai negara dan memunculkan profesi dalam industrinya termasuk gedung-gedung bioskop. Berbeda dengan negara-negara lain, pada era film masih bisu tersebut di Jepang ada profesi benshi yang tugasnya melafalkan narasi dan dialog dalam film.
Kisah mengenai benshi inilah daya tarik Talking the Pictures yang mengambil setting bioskop tua di sebuah kota kecil. Bioskop ini memiliki seorang benshi idola warga. Bioskop pesaing di kota tetangga membajak sang benshi dan membuat pemilik bioskop tua kelimpungan terancam bankrut. Pertolongan datang dari Shuntaro Someya (Ryo Narita) tukang sapu yang diam-diam gemar menirukan para benshi sehingga memiliki kemampuan sebagai narator.
Berkat kreatifitasnya dalam berimprovisasi, Shuntaro Someya menjadi idola baru warga. Puncaknya adalah ketika dia dibantu Umeko (Yuina Kuroshima) sebagai benshi untuk tokoh perempuan dalam film. Semasa kecil, Shuntaro dan Umeko sering mengintip pertunjukan di bioskop tua di kota tempat mereka tinggal lalu menirukan aksi para benshi.
Bioskop tua yang terancam bankrut itu kembali dipenuhi penonton yang terhibur dengan narasi ala Someya. Bioskop baru di kota tetangga yang merasa tersaingi lantas menyewa bandit dan meminta benshi yang sebelumnya mereka bajak dari bioskop tua utuk melakukan sabotase.
Talking the Picture (TOEI COMPANY, LTD./TIFF 2019)
Tidak sedikit benshi yang sebelumnya adalah pemain teater kabuki. Kemampuan olah vocal menjadi modal penting bagi para benshi untuk menjadi 'dubber' untuk berbagai karakter sekaligus. Bioskop sangat tergantung kepada benshi dan berlomba-lomba memberi bayaran tinggi untuk benshi-benshi terbaik. Tak heran bila benshi menjadi lebih cepat kaya dan terkenal dibanding si pemilik gedung bioskop dan para aktor film.
Di negara lain juga ada profesi semacam benshi. Tetapi popularitas benshi alias narator di Jepang benar-benar luar biasa. Salah satu yang paling populer adalah Ueda Hoteiken yang bermain di Bioskop Nanchi, Osaka, 1896. Namun benshi ini tidak bertahan lama. Profesi ini punah sejak diperkenalkannya film bersuara pada pertengahan 1930.
Keadaan yang sudah diperkirakan oleh seorang benshi senior di bioskop tua tersebut. Pengetahuannya tentang teknologi film yang berkembang pesat, membuatnya putus asa dan melarikan diri ke minuman keras.
"Tidak lama lagi film bersuara akan tiba di sini. Tanpa benshi, film bisa tetap diputar. Tetapi tanpa film, benshi tidak ada gunanya lagi," wantinya benshi senior yang pemabuk itu kepada Shuntaro Someya yang bintangnya sedang bersinar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News