No.7 Cherry Lane (Foto: Far Sun Films)
No.7 Cherry Lane (Foto: Far Sun Films)

Pergolakan Hong Kong dalam Asmara Kontroversial yang Estetis

Hiburan Tokyo International Film Festival 2019
Luhur Hertanto • 02 November 2019 11:00
Tokyo: Jika kebetulan Anda penggemar film animasi dan drama, maka No.7, Cherry Lane perlu masuk dalam daftar wajib tonton. Cuma kecil sekali kemungkinannya muncul di bioskop-biokop di Indonesia, sebab banyak bagian erotik dan karenanya cukup rawan mengundang aksi 'penggrebekan' oleh ormas tertentu.
 
Hal lain yang diperlukan untuk menikmati film animasi besutan Yonfan ini adalah kesabaran mengikuti alurnya yang lambat. Anda juga sebaiknya menggemari sastra, sebab narasi dan dialog antar para tokoh -termasuk animasinya yang digarap Zhang Gang- yang disusun secara sangat estetis oleh sutradara asal Tiongkok tersebut banyak berupa metafora layaknya dalam buku-buku sastra.
 
Film dibuka dengan pemandangan siang hari pemukiman kumuh Hong Kong yang mendadak gelap tertutup bayangan pesawat terbang -entar hendak mendarat atau tinggal landas. Adegan pembuka ini tidak seketika membuat penontonnya di Toho Cinema, Roppongi, Tokyo, dalam Tokyo Internasional Film Festival (TIFF) 2019 sadar bahwa yang diputar adalah film animasi. Baru pada scene anak-anak telanjang berkejaran di dalam hutan dengan musik mendayu, baru diketahui bahwa ini film animasi.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Bagian pembuka ini memperkenalkan dua mahasiswa tampan di Universitas Hong Kong, Jan Ziming (disuarakan Alex Lam) dan Steven (Stephen Fung) yang mandi seusai bermain tenis. Steven tiba-tiba menyadari sedang diintip kawan kuliah yang belakangan dikisahkan sebagai gay. Walau menyapanya, tetapi Ziming tidak terlalu memikirkan si pengintip sebab sedang terburu menuju apartemen yang beralamat di Jl Cherry Lane nomor 7 untuk memberikan les bahasa Inggris kepada putri Nyonya Yu.
 
Pergolakan Hong Kong dalam Asmara Kontroversial yang Estetis
 
Setiba di apartemen tujuan, Ziming mendapati bahwa dirinya terpesona dengan keanggunan Nyonya Yu (Sylvia Chang). Ibu tunggal berusia awal 40-an itu pun penggemar buku-buku sastra seperti dirinya. Sembari menunggu kedatangan putrinya dari sekolah, Nyonya Yu berbincang-bincang tentang Ziming tentang sastra. Dia diam-diam juga tertarik kepada Ziming yang cerdas dan atletis.
 
Seketika keduanya terlibat hubungan asmara. Situasinya menjadi rumit ketika terungkap bahwa Meiling (putri Nyonya Yu yang disuarakan Zhao Wei) tertarik kepada Ziming. Sebaliknya Ziming tidak dapat mengingkari kecantikan dan kesegaran muridnya yang nyambi sebagai foto model itu. Bahasa tubuh Ziming dan Meiling saat sedang belajar bahasa Inggris tidak luput dari Nyonya Yu.
 
Setting cerita dalam No.7 Cherry Lane adalah Hong Kong pada 1967. Scene aksi unjuk rasa kaum Maois yang menuntut Inggris angkat kaki dari Hong Kong dan mengembalikannya kepada Tiongkok muncul cukup intens dengan iringan musik menghentak. Situasinya bertolak belakang dengan gelombang unjuk rasa belum lama ini, yaitu menghendaki Hong Kong tetap terpisah dari Tiongkok.
 
"Film ini 'surat cinta' saya kepada Hong Kong," jawab Yonfan ditanya tentang setting waktu yang dipilihnya. Di dalam ajang Venice International Film Festival 2019 pada awal September lalu No.7 Cherry Lane meraih penghargaan sebagai Best Screenplay Award.
 
Ya, film animasi berdurasi hampir 2,5 jam ini memang sangat layak ditonton.
 

 

(ELG)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif