Ada 14 film yang akan berkompetisi dalam ajang tahunan ini. Separuh di antaranya adalah hasil kolaborasi senias dari berbagai negara. Faktor budaya dari negara asal masing-masing sineas muncul dan berpadu dalam film-film tersebut.
"Saya pikir TIFF memiliki perspektif lebih luas dalam memilih film untuk kompetisi dan festival. Di dalamnya keberagaman tidak cuma muncul di permukaan tetapi merefleksikan kebudayaan masing-masing negara," kata Ketua Dewan Juri TIFF 2019, Zhang Ziyi, Selasa (29/10/2019), Di Toho Theatre, Roppongi Hills, Tokyo.
Aktris senior asal Tiongkok yang bersinar dalam film Crouching Tiger, Hidden Dragon ini mengaku sangat beruntung dapat berpartisipasi di dalam TIFF 2019. Bukan karena ada banyak film dari Tiongkok yang berkompetisi dan diputar melainkan kesempatan untuk melihat budaya yang berbeda-beda ternyata sangat dapat berkolaborasi menghasilkan karya-karya indah.
"Ada film Jepang, Iran, Tiongkok, Norwegia, Guatemala, Italia dan sebagainya. Inti festival ini adalah komunikasi dan menginspirasi melalui film," sambung Zhang Ziyi.
Pandangan disampaikan Michael Noer, sineas asal Denmark yang menjadi anggota dewan juri TIFF 2019. Menurutnya, keberagaman adalah keniscayaan dan cara yang terbaik merayakan keberagaman adalah kolaborasi lintas budaya.
"Film memakai bahasa gambar dan ini sangat universal. Bahasa yang berbeda untuk menghubungkan warga dunia," ujarnya.
Dewan juri TIFF 2019 terdiri lima orang. Ada tiga orang juri lainnya yang akan bekerjasama dengan Zhang Ziyi dan Michael Noer. Mereka adalah Julie Gayet, Ryuichi Hiroki dan Bill Gerber.
Julie Gayet adalah aktris dan produser asal Prancis yang dalam TIFF 2009 memperoleh penghargaan sebagai aktris terbaik. Julie Gayet juga dikenal sebagai istri Francois Hollande, mantan Presiden Prancis.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News