La Llarona (Foto: dok. Tokyo International Film Festival (TIFF) 2019)
La Llarona (Foto: dok. Tokyo International Film Festival (TIFF) 2019)

La Llorona, Mengenal Sejarah Kelam lewat Film Horor

Hiburan Tokyo International Film Festival 2019
Luhur Hertanto • 03 November 2019 09:00
Tokyo: Guatemala ada awal era 1980-an dilanda perang sipil. Jumlah total korbannya mencapai tiga ribuan orang. Pihak militer diyakini sebagai yang paling bertanggungjawab. Dua dekade kemudian digelar pengadilan Hak Azasi Manusia (HAM) atas kasus tersebut.
 
Hampir tidak ada barang bukti valid dan saksi mata yang diajukan. Sang Jendral (Don Enrique Monteverde) pemimpin operasi militer kala pada masa pergolakan tersebut sudah pensiun, jompo, menderita alzheimer dan mengaku dihantui roh-roh para korban. Sidang pengadilan pun dihentikan dengan alasan teknis. Keputusan majelis hakim inilah menggulirkan cerita La Llarona, salah satu film horor yang diputar dalam Tokyo International Film Festival (TIFF) 2019.
 
Sang Jendral harus pindah dari apartemen mewahnya untuk menghindari unjuk rasa keluarga korban. Di antara massa adalah seorang perempuan yang kemudian bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah persembunyian Sang Jendral dan keluarganya.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Rumah persembunyian itu tidak mampu menyembunyikan Sang Jendral dari roh-roh para korban -terutama anak-anak- yang seolah mengikuti si perempuan misterius ini. Scene paling mencekam adalah ketika Sang Jenderal berlari menyusuri koridor gelap rumah persembunyiannya dengan latar belakang suara jeritan anak-anak yang terus mengejarnya.
 
"Ini metafora tentang perjuangan warga melawan tekanan penguasa otoriter dalam kebenaran genosida itu," papar Jayro Bustamante usai pemutaran La Llorona di Toho Cinema, Roppongi, Tokyo, Kamis (31/10/2019).
 
Sutradara sekaligus penulis skenario La Llorona tersebut menegaskan film karyanya bukan soal politik. Melainkan isu pemenuhuan hak-hak azasi dan sosial. Sejarah dan kondisi terkini yang kompleks, mendorongnya menggunakan genre horor sebagai medium untuk menyampaikan masalah masa lalu yang di Guatemala masih dianggap tabu dibicarakan secara terbuka.
 
"Saya melihat bahwa anak muda kebanyakan mengonsumsi film horor dan superhero. Maka saya memilih cerita rakyat La Llorona sebagai medium untuk menyampaikan isu yang bagi kami masih tabu ini kepada masyarakat, terutama generasi mudanya,” sambungnya.
 
La Llorona adalah cerita rakyat yang populer di Amerika Latin. Kisahnya mengenai seorang perempuan yang disia-siakan oleh suaminya dengan dua putranya. Sebelum bunuh diri, dia membunuh dua putranya dengan menenggelamkannya ke sungai. Akibat perbuatannya, arwahnya dikutuk terus bergentayangan hingga menemukan jasad dua putranya yang hanyut terbawa arus sungai.
 
Akankah ide Busmante ini ada yang akan menerapkan di Indonesia?
 

 

(ELG)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif