Jakarta: Produksi film horor tidak hanya mengandalkan efek visual digital untuk menghadirkan karakter yang menyeramkan. Hal tersebut juga terlihat dalam proses pembuatan boneka animatronik untuk film The Doll Ghawiah, yang membutuhkan biaya produksi hingga miliaran rupiah.
Dalam sesi wawancara press conference Minggu, 18 Oktober 2026 di XXI Agora Mall. Rocky Soraya selaku Producer film The Doll Ghawiah mengungkapkan mengenai proses produksi film tersebut, ia mengungkapkan pembuatan boneka membutuhkan anggaran besar. Biaya itu mencakup lebih dari satu boneka, termasuk boneka yang dilengkapi teknologi animatronik dan boneka tanpa teknologi tersebut.
“Jangan persis harganya, tapi beberapa M adalah ya,” ujar Rocky Soraya ketika ditanya mengenai biaya produksi boneka dalam press conference tersebut.
Boneka itu menjadi salah satu ikon film The Doll Ghawiah sehingga pembuatannya dipersiapkan secara khusus. Tim produksi memastikan karakter tersebut dapat bergerak dan melakukan interaksi sesuai kebutuhan adegan.
Libatkan Perajin Bali dan Teknologi Amerika Serikat
Proses desain boneka melibatkan Orlando, perajin yang berbasis di Bali, bersama Hitmaker. Sementara itu, pengerjaan teknologi animatronik melibatkan penyedia jasa dari Amerika Serikat.
“Dia yang desain dengan Hitmaker. Tapi animatronics-nya memang diambil jasa dari US,” jelas Rocky Soraya.
Menurutnya, kerja sama tersebut dilakukan karena teknologi animatronik yang dibutuhkan untuk produksi belum tersedia di Indonesia.
Boneka dirancang agar mampu melakukan gerakan tertentu, seperti berbicara dan menoleh. Teknologi tersebut memungkinkan karakter tampil secara fisik di depan kamera dan berinteraksi dalam adegan, bukan sekadar menjadi properti yang diam.
Empat Orang Dikerahkan Saat Syuting
Pengoperasian boneka animatronik selama proses syuting membutuhkan koordinasi khusus. Tim produksi mengerahkan empat orang untuk menangani boneka dalam adegan tertentu.
Gerakan boneka dikendalikan dari jarak jauh menggunakan sistem kendali jarak jauh. Untuk adegan dialog, suara direkam terlebih dahulu, kemudian diputar agar gerakan mulut boneka mengikuti dialog karakter.
“Nanti mau ngomong apa, direkam. Nanti di-play aja dia ngikutin tuh bibirnya,” tambah Guntur Soeharjanto.
Meski gerakan mulut boneka belum sepenuhnya presisi, sistem tersebut memungkinkan tim produksi menyesuaikan gerakan karakter dengan dialog yang telah disiapkan.
Proses ini memperlihatkan bahwa penggunaan animatronik membutuhkan persiapan teknis tersendiri. Tim harus memastikan gerakan boneka sesuai dengan kebutuhan adegan dan dapat dioperasikan selama pengambilan gambar.
Dengan penggunaan boneka animatronik dan efek praktis, tim produksi berupaya menghadirkan karakter yang dapat bergerak dan berinteraksi secara langsung di depan kamera.
Film horor The Doll: Ghawiah dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 29 Oktober 2026.
(Annisa Julinah)