Melansir laporan dari media lokal Jepang, Bengoshi JP News dan M9.News, data menunjukkan bahwa saat ini hanya ada sekitar 70 aktor pria aktif di seluruh Jepang.
Angka ini terasa sangat kontras dan timpang jika dibandingkan dengan jumlah aktris perempuan yang mencapai 10.000 orang di Negeri Sakura.
​Ketidakseimbangan ini pun menciptakan efek domino yang merusak jadwal produksi. Dengan permintaan konten yang terus mengalir, beban kerja yang dipikul oleh puluhan aktor pria ini pun menjadi semakin padat.
Baca Juga :
7 Rekomendasi Film Semi Dewasa Jepang 21+
Aktor Dewasa Pria Kini Memiliki Beban Kerja Tinggi
Kondisi "langka" ini membuat situasi di lokasi syuting menjadi sangat kompleks. Minimnya pilihan aktor pria memaksa mereka yang masih aktif untuk menangani beban kerja yang berlebih guna memenuhi target produksi yang padat.Persoalan ini pun memicu diskusi hangat mengenai tekanan kerja fisik dan mental. Meskipun Pemerintah Jepang telah mengesahkan “Undang-Undang Pencegahan dan Pemulihan Kerusakan Tampilan AV” pada 22 Juni 2022 untuk mencegah eksploitasi, faktanya implementasi di lapangan masih jauh dari kata sempurna. UU tersebut belum mampu melindungi para aktor dari jadwal yang mencekik.
Meskipun Jepang telah menerapkan undang-undang untuk mencegah pemeran dieksploitasi dalam produksi pornografi yang disahkan pada sesi pleno House of Councilors atau "Undang-Undang Pencegahan dan Pemulihan Kerusakan Tampilan AV" yang disahkan pada 22 Juni 2022. Namun, nyatanya dalam proses implementasi, UU tersebut belum berjalan sempurna.
Aktor Pria Dewasa di Jepang Sulit Mendapatkan Cuti Kerja
Salah satu aktor yang masih aktif, Chintaro Sakurai, membagikan kisah pilunya mengenai betapa sulitnya mengambil hak cuti di tengah krisis pemain ini.Sakurai mengungkapkan bahwa dedikasi terhadap pekerjaan seringkali harus mengorbankan urusan personal yang paling krusial sekalipun.
Baca Juga :
Artis Porno Bonnie Blue Berulah Usai Dideportasi dari Indonesia, Pasang Bendera Merah Putih di Rok
"Selain sakit dan cedera, ada juga saat-saat ketika saya ingin mengambil cuti karena alasan pribadi. Faktanya, paman saya meninggal setelah undang-undang AV yang baru diberlakukan, tetapi karena jadwal syuting saya penuh, saya tidak dapat pergi dan memberikan penghormatan terakhir sampai sebulan kemudian," tutur Sakurai kepada Bengoshi JP News.
Sakurai pun menerangkan bahwa beban moral menjadi penghalang utama bagi para aktor untuk beristirahat. Ada rasa bersalah yang membayangi jika mereka membatalkan jadwal secara mendadak.
"Tentu saja, jika saya menjelaskan situasinya, saya dapat mengambil cuti dari syuting, tetapi sulit untuk mengambil cuti ketika Anda berpikir bahwa tindakan Anda akan menyebabkan anggota pemeran dan staf lain kehilangan pekerjaan mereka," tutupnya.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa di balik gemerlap industri hiburan dewasa Jepang, terdapat tantangan serius terkait keseimbangan kerja dan perlindungan tenaga kerja yang masih perlu mendapat perhatian lebih lanjut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News