NEWSTICKER
Jumpa pers sineas film Bumi Itu Bulat di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Senin, 11 Maret 2019 (Foto: Medcom.id/Purba)
Jumpa pers sineas film Bumi Itu Bulat di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Senin, 11 Maret 2019 (Foto: Medcom.id/Purba)

Bumi Itu Bulat, Film Bertema Toleransi Produksi GP Ansor

Hiburan Film Bumi Itu Bulat
Purba Wirastama • 11 Maret 2019 15:55
Jakarta: Setelah Kartini dan Critical Eleven, produser Robert Ronny membuat film cerita terbaru berjudul Bumi Itu Bulat bersama Gerakan Pemuda (GP) Ansor. Mengusung toleransi dan keberagaman, film ini menjadi bagian dari kampanye besar melawan radikalisme agama pemecah belah masyarakat.
 
Cerita filmnya berlatar Asian Games 2018, pesta olahraga akbar di Indonesia yang disebut Robert sebagai momen persatuan bangsa yang belakangan mulai meredup.
 
"Saat Asian Games kemarin, saya melihat antusiasme orang yang bangga sebagai bangsa Indonesia (...). Enggak ada lagi yang ingat, atlet itu agamanya apa atau dari mana karena label yang diusung Indonesia," kata Robert dalam konferensi pers di Kemang, Senin, 11 Maret 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sinopsis resmi filmnya belum diungkap. Namun secara garis besar, kisahnya berpusat pada seorang mahasiswa anggota grup acapella populer, yang menghadapi persoalan asmara, persahabatan, dan toleransi.
 
Sebuah kesempatan rekaman membuat grup ini harus merekrut kenalan lama mereka, penyanyi perempuan yang sudah mundur dari dunia seni, untuk bergabung ke grup. Sementara itu, sang tokoh utama juga sedang tidak akur dengan ayahnya anggota GP Ansor.
 
Naskahnya ditulis oleh Andre Supangat dan penyutradaraan ditangani oleh Ron Widodo. Proyek ini adalah debut film layar lebar mereka berdua sebagai penulis atau sutradara setelah lama berkecimpung di sinetron dan film tv. Menurut Robert, Ron dan Andre cukup paham dengan persoalan radikalisme dan intoleransi.
 
Sejumlah tokoh sentral diperankan oleh pemain baru, seperti Ryan Wijaya, Rania Putri Sari, dan Febby Rastanty. Pemain pendukung yang lebih senior antara lain Christine Hakim, Ria Irawan, Mathias Muchus, dan Arie Kriting.
 
Bagi Robert, intoleransi telah menjadi persoalan besar yang turut dia hadapi secara personal sebagai keturunan Tionghoa dan pemeluk agama Kristen. Dia mengaku tumbuh besar tanpa merasa diri minoritas karena persahabatan erat antar pemeluk agama dan keturunan berbeda. Bahkan ayahnya mendalami budaya Jawa.
 
Namun belakangan, persaudaraan itu kian terasa meredup.
 
"Pertemanan di Facebook misalnya, beberapa teman unfriend (menghapus pertemanan di media sosial). Menurut mereka, hukumnya haram berteman dengan 'kafir'. Istilah itu direduksi oleh NU ya, tetapi ini kenyataan," ungkap Robert.
 
Dia khawatir jika relasi persaudaraan ini semakin terkoyak lebar, kebencian antar golongan akan semakin besar, seperti yang sudah permah terjadi di sejumlah negara pada masa lalu.
 
"Saya enggak bilang Indonesia bakal seperti itu, tapi kalau kita diam dan menganggap itu hanya urusan pemerintah dan polisi, bukan tidak mungkin itu akan terjadi. Ini masalah personal buat saya. Ini terjadi pada saya dan teman-teman saya. Apa yang bisa saya lakukan? Ya saya bikin film," ungkap Robert.
 
Bumi Itu Bulat diproduksi Robert dalam bendera baru bernama Inspira Pictures bersama GP Ansor dan Ideosource. Astroshaw Malaysia bergabung dan akan mengedarkan film ini di bioskop Malaysia.
 
Film akan dirilis di bioskop Indonesia pada 16 April 2019.
 

 

(ASA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif