Tanggapan Rudi Soedjarwo Soal Film Horor yang Jual Adegan Syur
Ilustrasi film horor (Foto: Shutterstock)
Jakarta: Film horor besutan era 2000-an acap kali dipandang mengandalkan adegan-adegan syur untuk menarik minat calon penonton. Meski tidak semua produksi film saat itu hanyut dalam arus tersebut.

Sebagai salah satu sutradara dengan karya film horor yang sempat berjaya di era yang sama (Pocong), Rudi Soedjarwo berdalih penempatan dan fungsi adegan syur akan tepat jika diletakkan pada tempatnya.

"Adegan syur itu akan sangat tidak mungkin mengganggu ketika berada di tempatnya sebenarnya. Kalau tidak perlu ya jangan dipaksa ada. Yang agak membahayakan adalah dipaksa untuk elemen menjual, padahal tidak perlu harus begitu. Nah, itu yang bahaya," kata Rudi saat ditemui Medcom.id di kawasan Jakarta Pusat, Jumat, 27 April 2018.


Sebagai contoh, film horor banyak menampilkan adegan yang membuat penonton terkejut. Selain lewat unsur hantu dan makhluk halus, detik-detik menegangkan diletakkan pada rutinitas wajar, seperti saat melepas pakaian menuju kamar mandi.

"Kalau misalnya dia mau buka baju sebentar karena mau masuk kamar mandi, enggak masalah sebenarnya. Terus nanti ada sesuatu misalkan. Masa mau pakai jas terus, kan?"

"Artinya kalau itu diniati sebagai bagian dari peristiwa yang penting, enggak apa-apa. Tapi kalau enggak, itu malah berlebihan jadinya, merasa jijik kita," pungkas sutradara berusia 46 tahun itu.

Zaman sekarang ini, adegan tersebut mulai ditinggalkan oleh para sineas. Perubahan ini terbilang cukup baik di industri perfilman Indonesia.

Kembalinya Rudi setelah hiatus dari dunia penyutradaraan kini dimulai lewat proyek film 13 The Haunted. Film ini bergenre horor dan diproduksi RA Pictures, rumah produksi milik artis Raffi Ahmad.

Rencananya, film ini akan tayang pada semester kedua 2018.

 



(ASA)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360