Beruntungnya ada petunjuk tentang cara memahaminya. Kiat dibagikan langsung sang sutradara, Yosep Anggi Noen, yang ditemui ditengah ajang Tokyo International Film Festival (TIFF) 2019, Roppongi, Tokyo, Jumat (1/11/2019).
"Film terdiri dua periode waktu, masa '60-an dan masa kini. Kisahnya bukan cuma Siman tapi tokoh lainnya juga," papar Anggi.
Ada cukup banyak tokoh dengan masalahnya masing-masing dalam film ini. Penjahit yang mencuri uang tabungan Siman, juragan jathilan, bujangan tua yang kaya raya dan kuli pabrik.
Hal lain adalah penggunaan format video yang berbeda. Anggi sengaja menggunakan trik ini untuk menekankan rasa atas pesan yang mau disampaikannya.
"Ada adegan rombongan warga naik odhong-odhong dan memvideokan 'roket' Siman pakai ponsel. Sekarang ini dengan ponsel semuanya bisa menyebarkan informasi, mana informasi yang benar dan tidak jadi membingungkan," jelas Anggi.
Hingga akhir tahun ini The Sciences of Fiction dijadwalkan mengikuti 20-an festival. Hal ini menurut Anggi adalah kejutan sebab di dalam produksinya cukup berat mencari dana sebab skenario yang ditawarkan tidak mudah untuk dipahami.
"Total waktu produksinya sampai tujuh tahun. Di sela-sela ini saya membuat film lain dan jadi Ada kesempatan mengembangkan skenario," ungkap Anggi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News