Pepi terpaksa hidup yatim piatu sejak usia dua tahun. Ibarat pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah kehilangan orangtua, Pepi yang malang terjerumus ke dalam sumur warga di daerah Lampung. Beruntung, ia diselamatkan oleh para pawang. Setelah itu, hubungan Pepi dan manusia semakin dekat.
Nasib Pepi mulai berubah pada 2011. Hewan bergading itu mendapat kesempatan menjadi bintang melalui perannya di film 'Para Pemburu Gajah'. Film arahan Hermawan Rianto itu menceritakan petualangan lima anak dalam menyelamatkan gajah.
Layaknya artis normal yang harus menjalani casting sebelum mendapatkan peran, Pepi pun demikian. Lolos casting, Pepi pun mendapat peran penting di film itu. Pepi cukup kooperatif selama proses syuting yang mengharuskannya beradu akting dengan lima anak sekaligus secara intensif.
Ikatan emosi yang terjalin antara Pepi dan pemeran film lainnya semakin erat selama proses syuting yang memakan waktu dua bulan. Dan ketika produksi film usai, Pepi tampak berat harus berpisah dengan kru.
"Relasi anak-anak dengan gajah demikian dekat. Setelah proses syuting selesai, mereka melakukan perpisahan dengan membelai Pepi, anak-anak itu dan juga Pepi menangis," ungkap Hermawan kepada Metrotvnews.com di kawasan Epicentrum Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (25/6/2014).
Hermawan menegaskan, peristiwa ini cukup langka terjadi mengingat gajah adalah hewan yang sangat jarang menangis.
"Gajah itu mengeluarkan cairan dari matanya hanya pada saat musim kawin, dan hanya gajah jantan. Gajah kecil dan gajah betina tidak mengeluarkan cairan itu. Terkadang kita salah pahami bahwa itu air mata, padahal tidak. Itu lendir. Sedangkan, Pepi adalah gajah betina yang masih kecil (yang sangat tidak mungkin mengeluarkan lendir dari mata). Saya bisa percaya kalau (yang keluar dari mata) Pepi itu air mata. Gajah ini menangis," ucap sutradara yang aktif membuat film dokumenter itu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News