Permintaan tersebut diberikan Hasto untuk sebuah adegan penting yang menampilkan Bima, karakter yang diperankan Surya Saputra, dalam kondisi kelelahan sekaligus mengalami gejolak emosi.
Hasto Broto mengatakan bahwa tidak banyak perlakuan khusus yang diberikan kepada para pemain karena mereka dinilai mampu memahami karakter dan cerita yang dibawakan. Namun, khusus untuk Surya, Hasto membutuhkan kondisi fisik tertentu agar adegan terasa lebih natural.
"Karena saya butuh lebih kepada ekspresi, fisik, ada satu scene yang saya buat khusus untuk tidak tidur selama 24 jam. Saya bilang jangan tidur, karena saya butuh ekspresi dia tanpa make up. Terima kasih untuk semua pemain yang sudah totalitas di film ini," tutur Hasto Broto di Jakarta.
Surya Saputra pun menyanggupi arahan tersebut. Bagi Surya, kondisi kurang tidur memang dibutuhkan untuk memperlihatkan keadaan Bima secara lebih meyakinkan tanpa mengandalkan riasan untuk menciptakan wajah lelah.
Adegan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan karakter Bima. Dalam scene itu, Bima digambarkan berada pada titik emosional ketika kemarahan dan kehancuran dalam dirinya muncul secara bersamaan.
"Adegan itu diminta sama Pak Hasto dan emang berpengaruh sekali. Itu adegan puncak, saat lihat saya lagi marah-marah dan hancur. Untungnya Pak Hasto dari awal memberikan ruang dan kasih arahan yang tegas. Jadi lancar sih," kata Surya Saputra.
Film Menang untuk Kalah sendiri mengangkat persoalan keluarga yang berhadapan dengan tekanan ekonomi. Cerita berpusat pada Bima, seorang kepala keluarga yang berusaha memberikan kehidupan terbaik bagi istri dan kedua anaknya.
Bima bersama istrinya, Dewi, serta dua anak mereka, Reina dan Rako, awalnya menjalani kehidupan keluarga yang harmonis. Kondisi berubah ketika mereka memutuskan membeli rumah impian menggunakan sistem kredit.
Setelah pindah ke rumah baru, keluarga tersebut juga membeli berbagai perabotan dengan nilai yang cukup besar. Pengeluaran kemudian semakin bertambah ketika Bima dan Dewi mengganti mobil dengan kendaraan yang lebih mahal, meski mobil sebelumnya masih layak digunakan.
Tidak berhenti di sana, Rako juga mendapatkan motor baru melalui pembelian secara kredit. Berbagai keputusan tersebut akhirnya membuat kondisi keuangan keluarga Bima semakin terbebani, terlebih penghasilannya berasal dari pekerjaan lepas dalam sebuah proyek.
Situasi semakin rumit ketika Bima harus mencari cara untuk mengurangi beban cicilan. Demi memenuhi kebutuhan keuangan, dia mengambil keputusan yang berpengaruh terhadap kewajiban penting keluarganya.
Masalah kemudian mencapai titik kritis ketika keluarga Bima menghadapi kejadian yang membutuhkan biaya besar. Alih-alih mengambil keputusan bersama dengan istrinya, Bima justru memilih jalan yang lebih ekstrem untuk mendapatkan solusi cepat.
Menurut penulis skenario Jujur Prananto, persoalan finansial dalam Menang untuk Kalah berkaitan dengan kebiasaan menjalani gaya hidup di luar kemampuan. Film tersebut ingin mengajak penonton melihat kembali konsekuensi dari keputusan ekonomi yang diambil tanpa perhitungan matang.
"Ada bahayanya ketika seseorang berkehidupan dengan gaya lebih besar pasak daripada tiang. Jadi keinginannya lebih besar dari kemampuan. Gagasan besarnya itu sih. Niat awal film ini membuat refleksi buat penonton, awas lo jangan seperti dia, dan jangan main-main dalam menjalani hidup ini," pungkas Jujur Prananto.
Selain Surya Saputra sebagai Bima, film ini menghadirkan Lulu Tobing sebagai Dewi, Ajil Ditto sebagai Rako, Putri Ziani sebagai Reina, Yessy Gusman sebagai Eyang Lastri, dan Allesandrio Reinhard Karamoy sebagai Stefan.
Sejumlah pemain lain turut bergabung, di antaranya Tike Priatnakusumah sebagai Ibu Direktur, Beddu sebagai Samsul, dan Tigor sebagai Debt Collector.
Film Menang untuk Kalah dijadwalkan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 19 November 2026.