Ernest Prakasa. (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)
Ernest Prakasa. (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)

Suara Kecewa Ernest Prakasa dan Angga Sasongko Terkait Peleburan Bekraf

Hiburan bekraf
Cecylia Rura • 23 Oktober 2019 14:40
Jakarta: Satu dari tiga nomenklatur baru yakni Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menuai kekecewaan para pelaku seni Indonesia. Produser sekaligus sutradara Angga Sasongko salah satunya. Melalui cuitan di Twitter, Angga menanggapi cuitan berutas Ligwina Hananto tentang penggabungan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
 
Ligwina melalui cuitan berutas di Twitter menyampaikan kiprah Badan Ekonomi Kreatif (BEKraf) memajukan ekonomi kreatif di Indonesia. Cuitan ini dibuat setelah melihat BEKraf dipandang sebagai sekadar Event Organizer (EO). Angga merespons, BEKraf memiliki andil besar ketika daftar negatif investasi dicabut saat BEKraf dipimpin Triawan Munaf. Dampaknya, perfilman Indonesia kini lebih berkembang.
 
"Legacy besar Bekraf, mendorong dicabutnya daftar negatif investasi. Kalau mereka dibilang EO ya memang tupoksinya enggak bisa bikin kebijakan, tapi menciptakan stimulus. Tapi dicabutnya daftar negatif investasi itu menunjukkan Bekraf penting dan perlu diberikan kuasa lebih," tulis Angga, Selasa, 22 Oktober 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pencabutan Daftar Negatif Investasi (DNI) memudahkan para investor asing (persero atau badan usaha) melakukan penanaman modal kepada sebuah produk hukum di Indonesia, salah satunya film.
 
Dalam cuitan selanjutnya, Angga mengkritisi bagaimana seharusnya sektor ekonomi kreatif dipadu dengan kementerian perdagangan seperti di Jepang. "Bingung gue kalau tourism dicampur sama ekonomi kreatif," tulis Angga.
 
Tanggapan tentang BEKraf sekadar EO juga memantik kekecewaan penulis Dewi Lestari. Dewi menuliskan, sumbangsih PDB pada 2018 dari industri kreatif hampir 7,5 persen dengan potensi besar lain yang belum dikerjakan.
 
"Pertambahan pelaku industri Ekraf bertambah hampir 5 juta orang di kurun 2016-2017 saja. 'Cuma EO' adalah anggapan yang keliru," tulis Dewi Lestari, Rabu, 23 Oktober 2019.
 
Dewi Lestari ikut kecewa dengan nomenklatur menggabungkan pariwisata dengan ekonomi kreatif.
 
"Bahkan kemunduran. Kompleksitas Ekraf seharusnya membuat ia diperbesar dan diperkokoh, bukan malah dimampatkan dengan pariwisata," tulis Dewi.
 
Ekonomi Kreatif sebagai badan bagian dari Kementerian BUMN telah memberi banyak sumbangsih di sektor perekonomian seperti memajukan UKM Kreatif serta program pemodalan melalui perjodohan dalam Akatara.
 
Sutradara Ernest Prakasa tampak pesimistis dengan kabinet baru yang dibentuk Presiden Joko Widodo terutama penggabungan badan ekonomi kreatif dan sektor pariwisata. Menurutnya, potensi pariwisata belum dikerjakan dengan baik sehingga membutuhkan fokus dan anggaran lebih besar,
 
"Ekraf itu punya 16 sub-sektor, PDB 2018 nya 1,100 trilyun. Digabung? Ya gak akan maksimal," tulis Ernest, Rabu, 23 Oktober 2019.
 
Wishnutama Kusubandio, mantan CEO NET TV ditunjuk Presiden Joko Widodo menjabat Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam susunan Kabinet Indonesia Maju.
 
Selain peleburan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, nomenklatur baru dari pemerintah yakni Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi dipimpin Luhut Binsar Panjaitan. Lalu ada Kementerian Riset dan Teknologi dan Inovasi Nasional dipimpin Bambang Brodjonegoro.
 

 

(ELG)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif