Hanung Bramantyo Kembali Bicara Kesetaraan Gender
Hanung Bramantyo dalam diskusi Kartini Masa Kini (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)
Sulit ditepis kondisi sosial patriarki masih terjadi di Indonesia. Patriarki merupakan sistem sosial yang menempatkan posisi laki-laki sebagai pemegang kuasa dan mendominasi peran dalam sebuah struktur organisasi, kelompok, maupun pada situasi sosial tertentu di atas kaum perempuan. Singkatnya, kaum perempuan berada di tempat kedua setelah kaum pria.

Sutradara Hanung Bramantyo tampaknya mulai memiliki perhatian khusus soal sistem patriarki di Indonesia. Dalam diskusi terbuka sebelum pemutaran film Kartini (2017) pada Sabtu, 28 April 2018 di Plaza Senayan. Sebagai bentuk perayaan mengenang sosok Kartini, pejuang hak perempuan di masanya, Hanung memaparkan bagaimana perempuan dipandang mulia.

Ia mencontohkan sistem yang masih menomorduakan sosok perempuan lewat panggung kontestasi politik Tanah Air yang sudah dan telah berjalan.


"Dua hal yang penting pendidikan dan perempuan. Perempuan soal pendidikan, membutuhkan lapangan pekerjaan. Melihat situasi politik yang muncul, kandidat perempuan belum ada, sangat susah. Tokoh perempuan yang muncul di permukaan masih sedikit, paling Bu Risma, Bu Kofifah, Bu Susi, dan Bu Sri. Buat saya, sebetulnya membutuhkan banyak lagi," kata Hanung dalam diskusi yang digelar PARFI 56 bersama Rumah Millennials dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sebelum pemutaran film Kartini yang disutradarainya itu.

Selain persaingan di panggung politik, Hanung ikut menyuarakan pendapatnya soal sistem hukum yang dirasa merugikan kaum perempuan. Terutama jika terkait kasus kekerasan dan kekerasan seksual.

"Saya berharap di hari pendidikan dan perempuan, kasus tentang pelecehan terhadap seksual, KDRT terhadap perempuan semakin diredam, dan hak-hak perempuan terutama dalam penanganan kasus-kasus seperti itu mendapatkan porsi. Karena hukum di Indonesia sangat laki-laki sekali."

"Ketika pelecehan perempuan atau pelecehan seksual, atau KDRT selalu dipandang dari persoalan patriarkal. Jadi, susah. Misalnya, buktinya mana kalau dia diperkosa. Itu kan sangat laki-laki sekali," imbuhnya.

Melalui pernyataan tersebut, Hanung berpendapat penanganan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) acap kali menyudutkan pihak perempuan yang menjadi korban predator seksual. Topik pembicaran kemudian merembet kepada bagaimana perlakuan Hanung pada para pekerja di kantor. Hanung mengatakan, kantornya telah menyediakan ruang khusus nyaman bagi para pekerja perempuan. Sehingga, para karyawan perempuannya dapat mengajak anak sembari bekerja. Hanung pun berdalih, dengan konsep kerja seperti itu dapat membuat kinerja karyawan yang berstatus ibu rumah tangga dapat lebih produktif.

"Kalau ruang kerja kantor kita ada taman anak-anak karyawan, bagaimana perempuan yang ibu bisa bekerja lebih cepat dari yang ada sekarang. Kalau dia bisa membawa anaknya, dari ruang kerja ibunya."

Bicara soal Hanung dan soal kesetaraan gender, tentu kita tidak bisa meninggalkan kontroversi pernyataan Hanung yang cukup viral di media, pada akhir 2017. Saat itu Hanung mendapat pertanyaan dari awak media perihal keterlibatan Reza Rahadian yang dianggap terlalu sering dalam film-film besutan Hanung.

Sebut saja beberapa film yang sempat diarahkan Hanung dan mendajadikan Reza sebagai aktor, diantaranya Perempuan Berkalung Sorban (2009), Tanda Tanya? (2011), Habibi & Ainun (2012), Rudy Habibie (2016), Kartini (2017), Benyamin: Biang Kerok (2018) dan yang terbaru, The Gift (2018).

Mendapat pertanyaan itu, Hanung lantas memberikan jawaban yang kemudian menjadi polemik dan menuai kontroversi. Pernyataan Hanung kala itu yang banyak dikutip oleh media nasional berbunyi demikian.

“Susah menjadi aktor itu. Apalagi aktor pria, ya. Kalau perempuan kan ya sudahlah, ibarat kata asal lo cantik aja. Udahlah itu menjadi syarat. Tapi aktor, laki-laki, itu syaratnya banyak banget, enggak cuma sebatas harus ganteng, tapi harus bisa memainkan banyak.”

Respons negatif rupanya dengan cepat mengalir pada sutradara asal Yogyakarta tersebut. Ia lalu memberikan klarifikasi permintaan maaf dan meluruskan persoalan konteks dalam pernyataannya kepada awak media.

Hanung: Perempuan Tiga Kali Lebih Mulia dari Laki-laki

Dalam beberapa kesempatan lain, Hanung Bramantyo tampaknya kembali ingin meluruskan apa yang terjadi sebelumnya. Semacam penitensi atas pernyataan yang sempat viral dan menuai persepsi negatif atas dirinya.

Dalam sesi tanyat jawab sebelum pemutaran film Kartini yang diselenggarakan pihak Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) 56 bersama Rumah Millennials dan Kementerian Kebudayaan di Plaza Senayan pada Sabtu, 28 April 2018, seorang penanya bertanya, ekspektasi hasil yang didapatkan oleh para kaum laki-laki milenial setelah menyaksikan film Kartini.

Pada kesempatan tersebut, Hanung sebagai salah satu narasumber memaparkan belum bisa menjawab pertanyaan tersebut. Namun, ia sanggup menjelaskan secara rinci bagaimana seharusnya hubungan perempuan dan laki-laki di mata seorang Hanung Bramantyo.

 "Yang ada di dalam pikiran saya adalah perempuan itu punya tiga hal yang tidak dimiliki laki-laki. Perempuan punya organ, tubuhnya. Ada tiga hal yang tidak dimiliki laki-laki."

"Pertama, dari struktur dada saja sudah berbeda, tapi beda itu tidak hanya sekadar berbeda karena itu indah, atau tidak indah. Ini beda karena ada fungsi. Jadi, ada menyusui. Perempuan punya tanggung jawab untuk menyusui, menyusui siapa? Menyusui manusia lain yang dilahirkan dari (rahim), yang kedua yaitu womb. Dari womb itulah melahirkan."

"Dari siklus dua hal ini ditandai semacam sirkulasi yang disebut menstruasi. Tiga hal inilah yang kemudian membuat perempuan itu, sebetulnya menurut Islam itu adalah tiga hal lebih mulia dibanding laki-laki."

"Karena itu, Rasulullah berkata kepada murid-Nya pada saat itu, siapa yang harus saya hormati. Perempuan, ibu-ibu-ibu, baru laki-laki. Perempuan itu tiga tahap step-nya lebih tinggi daripada laki-laki," jelasnya.

Dalam pernyataan tersebut, Hanung menjelaskan kedudukan perempuan sebenarnya tiga kali lebih tinggi dari kaum laki-laki dengan dalih perempuan mengorbankan tubuhnya untuk manusia lain.

"Sehingga, dengan begitu laki-laki harus memiliki concern kepada tiga hal ini. Persoalannya adalah ketika saya laki-laki menjadi bos di perusahaan saya sendiri, maka saya akan menerapkan tiga hal itu kepada karyawan saya yang perempuan."
 
"Ketika saatnya menyusui, pulanglah kamu atau bawa anak kamu ke sini, saya kasih ruangan. Saya kasih kamu tempat."
 
"Ketika kamu melahirkan, atau ketika kamu menstruasi, maka tiga hari empat hari, saya kasih libur. Atau silakan itu ada tempat atau ruangan yang sangat nyaman yang dipakai untuk kamu istirahat dan kami tidak akan memotong gajimu."
 
"Kalau pada saat melahirkan, aku akan memberikan kamu kesempatan untuk melahirkan, seminggu, dua minggu, dan saat kamu nyusui itu. Atau, datang ke kantor, ini ada tempat yang sangat nyaman buat kamu, tapi kantor tidak mungkin menyediakan ruang untuk bersalin, kan? Pasti di rumah sakit."

"Mungkin tiga hari empat hari, kalau misalnya mau datang ke kantor, atau mau ada di rumah mengerjakan pekerjaan silakan," ungkapnya.

Pernyataan Hanung kemudian dibumbui dengan kritik terhadap kinerja pemerintah yang belum memberikan fasilitas tersebut kepada kaum perempuan yang bekerja. Sebuah sistem dalam pemerintahan terhadap kaum pekerja perempuan dianggap menjadi bagian dari faktor penyebab beratnya perempuan memutuskan untuk bekerja.

"Pekerjaan perempuan di rumah itu dianggap bukan pekerjaan, gila kan itu? Bangun pagi, nyiapin sarapan buat suaminya, nyiapin sarapan buat anak-anaknya, itu bukan pekerjaan. Itu adalah kewajiban, wah gila itu!"
 
"Mestinya seorang pekerja perempuan itu digaji lebih mahal daripada laki-laki, karena dia memberikan kenyamanan kepada luar biasa kepada laki-laki."
 
"Makanya saya tidak mengizinkan istri saya menjadi seorang artis sinetron, saya tidak mau. Karena apa? Dia diatur, jam kerja, produser. Kalau kamu mau jadi artis sinetron, kamu produsernya. Jadi, kamu menentukan kapan kamu break, kapan kamu harus menyusui dan kapan kamu harus bekerja."

Meski belum mencapai kondisi ideal, kesadaran akan pentingnya peran perempuan dalam dunia kerja, termasuk di industri film harus terus dibangun. Semoga saja ke depan tidak adalagi ucapan atau pernyataan dari sosok-sosok kunci dalam film yang melukai hati dan martabat perempuan.



 



(ASA)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id