Deteksi Kelainan Genital sejak Dini

Deteksi Kelainan Genital sejak Dini

Grafis kesehatan organ intim
21 Juli 2021 06:49
Di usianya yang baru 2 tahun, Dzaky Alfarisi sudah dikhitan karena terdeteksi mengalami fi mosis. Oemmy, 34, sang ibu, menuturkan kelainan genital itu diketahui setelah Dzaky menderita penyakit infeksi saluran kencing (ISK).

Sebenarnya, Oemmy juga sempat bingung ketika melihat bentuk alat kelamin anak laki-laki sulungnya itu yang tidak biasa. Namun, ia tidak menduga jika efeknya akan membuat si anak sampai mengalami ISK di usianya yang masih kecil.

Dari referensi yang didapatnya, Oemmy mengetahui bahwa fimosis termasuk penyakit genetik. Makanya, tanpa pikir panjang Oemmy lekas memeriksakan anak keduanya, Hanif, dan anak ketiganya, Mizan, kepada dokter. 

“Ternyata mereka juga fimosis. Jadi, saya memutuskan sirkumsisi (khitan) mereka juga. Hanif dikhitan usia 2 tahun dan Mizan 1 bulan,” ujar Oemmy kepada Media Indonesia, Selasa, 20 Juli 2021 malam.

Spesialis urologi Siloam Hospitals ASRI Irfan Wahyudi menjelaskan kasus kulit penis menutupi lubang kencing atau fimosis pada bayi laki-laki yang baru lahir masih dianggap sebagai kasus normal sampai usia anak 3 tahun.

Seiring perkembangan usia, pada 90% anak laki-laki dengan fimosis, lubang kencing tersebut akan terbuka dan terlihat. Orangtua tidak perlu terlalu khawatir, tetapi terus melakukan pemeriksaan genital anak.

“Namun, jika pada fase tersebut timbul infeksi, sulit kencing, sampai membentuk balon gelembung saat anak buang air kecil, orangtua harus segera membawa anaknya ke dokter. Pengobatannya dengan cara memaparkan lubang kencing dari penempelan kulit penis dan memberikan salep. Jika upaya ini tidak efektif, perlu dilakukan sunat,” jelasnya dalam webinar beberapa waktu lalu.

Dokter Irfan mengatakan fimosis merupakan salah satu di antara berbagai kasus kelainan genital karena bawaan lahir. Umumnya terjadi akibat pembentukan organ genitalia yang tidak sempurna selama bayi di dalam kandungan.

Menurutnya, kasus kelainan bawaan genitalia cukup sering terjadi. Kejadian testis yang tidak turun (undescensus testis) sebagai contoh, terjadi pada 1% kelahiran anak
laki-laki.

Identitas gender
Dokter Irfan mengingatkan kelainan genital mudah diobservasi dan diamati. Jika ada kecurigaan, segeralah periksakan diri ke dokter agar mendapat tindakan segera dan tepat. Sebab, jika telat anak akan mengalami kebingungan dengan identitas gendernya, bahkan mengalami gangguan psikologis.

Hal ini terjadi pada mantan atlet voli putri Indonesia, Aprilia Santini Manganang. Ia ditetapkan sebagai perempuan saat lahir dan dibesarkan sebagai perempuan selama 28 tahun karena hipospadia yang dialaminya. Setelah operasi korektif terhadap alat kelaminnya di awal 2021, Aprilia kini sudah menjadi laki-laki tulen.

Dokter Spesialis Urologi dari Siloam Hospitals ASRI Arry Rodjani menjelaskan hipospadia merupakan kelainan bawaan lahir pada genitalia pria yang ditandai dengan letak lubang saluran kemih yang tidak terletak pada ujung penis, melainkan pada bawah batang penis.  Dok Media Indonesia
(WWD)

Bagaimana tanggapan anda mengenai foto ini?

Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan berita terkini dari medcom.id Notifikasi dapat dimatikan kapanpun dari pengaturan browser

push notif

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif