YOUR FASHION
Kenapa Ada Jahitan Segitiga di Kerah Sweatshirt? Ternyata Begini Penjelasannya
Muhammad Syahrul Ramadhan
Selasa 20 Januari 2026 / 18:19
Jakarta: Bagi pencinta fashion atau siapa pun yang sering mengenakan pakaian santai, sweatshirt adalah salah satu item wajib di lemari pakaian. Namun, pernahkah Sobat Medcom memperhatikan detail kecil berupa jahitan segitiga terbalik tepat di bawah kerah bagian depan dan terkadang di bagian belakang?
Detail ini sering disebut sebagai V-stitch, V-insert, atau secara santai dijuluki "Dorito". Meskipun saat ini banyak produsen pakaian menyertakannya hanya sebagai elemen dekoratif untuk memberikan kesan "retro" atau vintage, jahitan V ini sebenarnya memiliki sejarah fungsional yang sangat krusial.
Melansir laman Gear Patrol, detail ini adalah sisa-sisa kejayaan era keemasan pakaian olahraga Amerika yang dirancang untuk performa, bukan sekadar gaya.
Untuk memahami fungsi jahitan V, kita harus kembali ke awal abad ke-20, tepatnya sekitar tahun 1920-an dan 1930-an. Sebelum sweatshirt katun ditemukan, para atlet mengenakan sweater wol saat berlatih. Masalah utamanya adalah wol sangat berat, gatal, dan tidak menyerap keringat dengan baik.
Russell Athletic kemudian merevolusi pakaian olahraga dengan menciptakan sweatshirt katun pertama. Pada masa itu, mesin jahit dan teknologi kain belum secanggih sekarang. Sweatshirt dirancang untuk digunakan dalam aktivitas fisik berat seperti sepak bola Amerika (American Football), lari, dan latihan fisik militer. Di sinilah V-insert pertama kali diperkenalkan.
Alasan pertama jahitan V ini ada berkaitan erat dengan nama pakaian itu sendiri, yaitu sweat-shirt. Area leher dan dada bagian atas adalah zona di mana tubuh manusia memproduksi banyak keringat saat berolahraga.

(Jahitan V di sweatshirt Dok. IST)
Pada desain aslinya, potongan segitiga tersebut bukan sekadar pola jahitan, melainkan sebuah sisipan kain elastis yang terpisah. Fungsi teknisnya adalah untuk menyerap tetesan keringat yang mengalir dari leher sebelum keringat tersebut membasahi seluruh bagian dada dan punggung baju. Dengan adanya penampung keringat ini, atlet tetap merasa nyaman lebih lama, dan beban pakaian tidak bertambah berat secara drastis akibat serapan air yang berlebihan di area utama.
Pernahkah kamu merasa kesulitan saat memasukkan kepala ke dalam lubang leher baju yang sempit, lalu setelah beberapa kali pakai, kerahnya menjadi longgar atau "belel"? Inilah fungsi teknis kedua dari V-insert.
Pada era awal, kain katun yang digunakan untuk sweatshirt tidak memiliki campuran serat sintetis seperti elastane atau spandex yang memberikan daya regang tinggi. Tanpa adanya detail V, lubang leher sweatshirt cenderung kaku. Dengan menyisipkan potongan kain rib (kain rajut yang bertekstur garis-garis dan lebih elastis) berbentuk segitiga di kerah, lubang leher bisa melebar dengan mudah saat kepala masuk.
Setelah kepala lewat, sifat elastis dari kain rib pada jahitan V tersebut akan menarik kerah kembali ke bentuk aslinya. Hal ini memastikan bahwa kerah tidak cepat melar meskipun pakaian sering dilepas-pasang atau ditarik-tarik saat berolahraga. Jahitan V berfungsi sebagai "pegas" bagi kerah baju kamu.
Seiring berjalannya waktu, teknologi tekstil berkembang pesat. Penemuan serat sintetis yang elastis membuat kain kerah modern bisa kembali ke bentuk semula tanpa bantuan sisipan kain tambahan. Selain itu, penggunaan sweatshirt bergeser dari pakaian murni untuk atlet menjadi pakaian sehari-hari (casual wear).
Banyak merek pakaian saat ini tidak lagi menggunakan V-insert yang sesungguhnya (sisipan kain terpisah), melainkan hanya menjahit pola berbentuk V di atas kain utama. Secara teknis, ini disebut sebagai jahitan dekoratif.
Namun, bagi para purist dan pecinta heritage menswear, jahitan V yang autentik yaitu di mana kain segitiganya benar-benar merupakan potongan terpisah dengan tekstur berbeda adalah tanda kualitas dan penghormatan terhadap sejarah pakaian pria.
Beberapa model sweatshirt klasik kelas atas atau reproduksi vintage menampilkan jahitan V tidak hanya di bagian depan, tetapi juga di bagian belakang leher. Ini dikenal sebagai "Double V".
Desain ini memberikan fleksibilitas ekstra dan penyerapan keringat yang lebih maksimal. Di pasar pakaian vintage, sweatshirt dengan detail Double V asli dari tahun 1940-an atau 1950-an memiliki nilai koleksi yang sangat tinggi karena kerumitan produksinya pada masa itu.
Meskipun kita mungkin tidak lagi mengenakan sweatshirt untuk berlari maraton di tengah cuaca dingin sesering atlet tahun 1930-an, jahitan V tetap relevan karena alasan, yaitu produk yang masih menyertakan V-insert fungsional cenderung memiliki umur pakai yang lebih lama karena konstruksi kerahnya yang lebih kokoh, detail ini memberikan struktur pada area dada dan leher, mencegah tampilan baju yang terlalu polos dan memberikan kesan maskulin serta tangguh.
Selain itu, mengenakan pakaian dengan detail V adalah cara kita menghargai evolusi desain pakaian yang awalnya diciptakan untuk memecahkan masalah praktis manusia.
Jahitan V pada sweatshirt adalah pengingat bahwa desain yang baik selalu berawal dari fungsi. Apa yang sekarang kita anggap sebagai gaya retro, dulunya adalah solusi inovatif untuk menyerap keringat dan menjaga keawetan pakaian.
Saat kamu membeli sweatshirt berikutnya, periksalah jahitan segitiga di leher tersebut. Apakah itu hanya jahitan dekoratif, ataukah itu V-insert fungsional yang tebal? Dengan memahami detail ini, kamu tidak hanya sekadar berpakaian, tetapi juga mengenakan potongan sejarah perkembangan industri garmen dunia.
Keberadaan V-insert yang fungsional telah menjadi indikator penting dalam membedakan antara produk produksi massal (fast fashion) dengan produk berkualitas tinggi yang dikerjakan dengan keahlian khusus. Sebagian besar merek pakaian cepat saji hanya menggunakan teknik top-stitching yakni menjahit pola berbentuk V di atas permukaan kain tanpa benar-benar memotong kain utama.
Teknik ini tentu lebih efisien secara biaya, namun menghilangkan seluruh fungsi asli dari elastisitas dan penyerapan keringat yang menjadi esensi desain awalnya.
Sebaliknya, merek-merek yang berfokus pada kualitas heritage atau reproduksi vintage tetap mempertahankan metode tradisional. Mereka memotong lubang segitiga pada panel badan sweatshirt dan menjahit potongan kain rib secara terpisah.
Proses ini jauh lebih rumit dan membutuhkan ketelitian mesin jahit khusus, yang pada akhirnya memengaruhi harga jual produk. Namun bagi para antusias, harga tersebut sebanding dengan daya tahan kerah yang tidak akan pernah melar meskipun telah dicuci ratusan kali.
Selain itu, dalam perspektif gaya hidup berkelanjutan, memilih sweatshirt dengan konstruksi V-insert fungsional adalah bentuk investasi jangka panjang. Pakaian dengan detail konstruksi yang kokoh seperti ini cenderung memiliki masa pakai yang jauh lebih lama, mengurangi kebutuhan kita untuk terus membeli pakaian baru karena kerusakan pada bagian kerah.
Dengan memahami detail teknis ini, kita beralih dari sekadar konsumen menjadi pengamat kualitas yang menghargai setiap inci jahitan pada pakaian yang kita kenakan setiap hari.
(Fany Wirda Putri)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(RUL)
Detail ini sering disebut sebagai V-stitch, V-insert, atau secara santai dijuluki "Dorito". Meskipun saat ini banyak produsen pakaian menyertakannya hanya sebagai elemen dekoratif untuk memberikan kesan "retro" atau vintage, jahitan V ini sebenarnya memiliki sejarah fungsional yang sangat krusial.
Melansir laman Gear Patrol, detail ini adalah sisa-sisa kejayaan era keemasan pakaian olahraga Amerika yang dirancang untuk performa, bukan sekadar gaya.
Untuk memahami fungsi jahitan V, kita harus kembali ke awal abad ke-20, tepatnya sekitar tahun 1920-an dan 1930-an. Sebelum sweatshirt katun ditemukan, para atlet mengenakan sweater wol saat berlatih. Masalah utamanya adalah wol sangat berat, gatal, dan tidak menyerap keringat dengan baik.
Russell Athletic kemudian merevolusi pakaian olahraga dengan menciptakan sweatshirt katun pertama. Pada masa itu, mesin jahit dan teknologi kain belum secanggih sekarang. Sweatshirt dirancang untuk digunakan dalam aktivitas fisik berat seperti sepak bola Amerika (American Football), lari, dan latihan fisik militer. Di sinilah V-insert pertama kali diperkenalkan.
Pengumpul Keringat
Alasan pertama jahitan V ini ada berkaitan erat dengan nama pakaian itu sendiri, yaitu sweat-shirt. Area leher dan dada bagian atas adalah zona di mana tubuh manusia memproduksi banyak keringat saat berolahraga.

(Jahitan V di sweatshirt Dok. IST)
Pada desain aslinya, potongan segitiga tersebut bukan sekadar pola jahitan, melainkan sebuah sisipan kain elastis yang terpisah. Fungsi teknisnya adalah untuk menyerap tetesan keringat yang mengalir dari leher sebelum keringat tersebut membasahi seluruh bagian dada dan punggung baju. Dengan adanya penampung keringat ini, atlet tetap merasa nyaman lebih lama, dan beban pakaian tidak bertambah berat secara drastis akibat serapan air yang berlebihan di area utama.
Menjaga Elastisitas Kerah
Pernahkah kamu merasa kesulitan saat memasukkan kepala ke dalam lubang leher baju yang sempit, lalu setelah beberapa kali pakai, kerahnya menjadi longgar atau "belel"? Inilah fungsi teknis kedua dari V-insert.
Pada era awal, kain katun yang digunakan untuk sweatshirt tidak memiliki campuran serat sintetis seperti elastane atau spandex yang memberikan daya regang tinggi. Tanpa adanya detail V, lubang leher sweatshirt cenderung kaku. Dengan menyisipkan potongan kain rib (kain rajut yang bertekstur garis-garis dan lebih elastis) berbentuk segitiga di kerah, lubang leher bisa melebar dengan mudah saat kepala masuk.
Setelah kepala lewat, sifat elastis dari kain rib pada jahitan V tersebut akan menarik kerah kembali ke bentuk aslinya. Hal ini memastikan bahwa kerah tidak cepat melar meskipun pakaian sering dilepas-pasang atau ditarik-tarik saat berolahraga. Jahitan V berfungsi sebagai "pegas" bagi kerah baju kamu.
Dari Teknis ke Estetis
Seiring berjalannya waktu, teknologi tekstil berkembang pesat. Penemuan serat sintetis yang elastis membuat kain kerah modern bisa kembali ke bentuk semula tanpa bantuan sisipan kain tambahan. Selain itu, penggunaan sweatshirt bergeser dari pakaian murni untuk atlet menjadi pakaian sehari-hari (casual wear).
Banyak merek pakaian saat ini tidak lagi menggunakan V-insert yang sesungguhnya (sisipan kain terpisah), melainkan hanya menjahit pola berbentuk V di atas kain utama. Secara teknis, ini disebut sebagai jahitan dekoratif.
Namun, bagi para purist dan pecinta heritage menswear, jahitan V yang autentik yaitu di mana kain segitiganya benar-benar merupakan potongan terpisah dengan tekstur berbeda adalah tanda kualitas dan penghormatan terhadap sejarah pakaian pria.
Detail Langka yang Dicari Kolektor
Beberapa model sweatshirt klasik kelas atas atau reproduksi vintage menampilkan jahitan V tidak hanya di bagian depan, tetapi juga di bagian belakang leher. Ini dikenal sebagai "Double V".
Desain ini memberikan fleksibilitas ekstra dan penyerapan keringat yang lebih maksimal. Di pasar pakaian vintage, sweatshirt dengan detail Double V asli dari tahun 1940-an atau 1950-an memiliki nilai koleksi yang sangat tinggi karena kerumitan produksinya pada masa itu.
Meskipun kita mungkin tidak lagi mengenakan sweatshirt untuk berlari maraton di tengah cuaca dingin sesering atlet tahun 1930-an, jahitan V tetap relevan karena alasan, yaitu produk yang masih menyertakan V-insert fungsional cenderung memiliki umur pakai yang lebih lama karena konstruksi kerahnya yang lebih kokoh, detail ini memberikan struktur pada area dada dan leher, mencegah tampilan baju yang terlalu polos dan memberikan kesan maskulin serta tangguh.
Selain itu, mengenakan pakaian dengan detail V adalah cara kita menghargai evolusi desain pakaian yang awalnya diciptakan untuk memecahkan masalah praktis manusia.
Jahitan V pada sweatshirt adalah pengingat bahwa desain yang baik selalu berawal dari fungsi. Apa yang sekarang kita anggap sebagai gaya retro, dulunya adalah solusi inovatif untuk menyerap keringat dan menjaga keawetan pakaian.
Saat kamu membeli sweatshirt berikutnya, periksalah jahitan segitiga di leher tersebut. Apakah itu hanya jahitan dekoratif, ataukah itu V-insert fungsional yang tebal? Dengan memahami detail ini, kamu tidak hanya sekadar berpakaian, tetapi juga mengenakan potongan sejarah perkembangan industri garmen dunia.
Keberadaan V-insert yang fungsional telah menjadi indikator penting dalam membedakan antara produk produksi massal (fast fashion) dengan produk berkualitas tinggi yang dikerjakan dengan keahlian khusus. Sebagian besar merek pakaian cepat saji hanya menggunakan teknik top-stitching yakni menjahit pola berbentuk V di atas permukaan kain tanpa benar-benar memotong kain utama.
Teknik ini tentu lebih efisien secara biaya, namun menghilangkan seluruh fungsi asli dari elastisitas dan penyerapan keringat yang menjadi esensi desain awalnya.
Sebaliknya, merek-merek yang berfokus pada kualitas heritage atau reproduksi vintage tetap mempertahankan metode tradisional. Mereka memotong lubang segitiga pada panel badan sweatshirt dan menjahit potongan kain rib secara terpisah.
Proses ini jauh lebih rumit dan membutuhkan ketelitian mesin jahit khusus, yang pada akhirnya memengaruhi harga jual produk. Namun bagi para antusias, harga tersebut sebanding dengan daya tahan kerah yang tidak akan pernah melar meskipun telah dicuci ratusan kali.
Selain itu, dalam perspektif gaya hidup berkelanjutan, memilih sweatshirt dengan konstruksi V-insert fungsional adalah bentuk investasi jangka panjang. Pakaian dengan detail konstruksi yang kokoh seperti ini cenderung memiliki masa pakai yang jauh lebih lama, mengurangi kebutuhan kita untuk terus membeli pakaian baru karena kerusakan pada bagian kerah.
Dengan memahami detail teknis ini, kita beralih dari sekadar konsumen menjadi pengamat kualitas yang menghargai setiap inci jahitan pada pakaian yang kita kenakan setiap hari.
(Fany Wirda Putri)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(RUL)