WISATA

Kemenpar dan BPOM Perkuat Keamanan Pangan di Desa Wisata

A. Firdaus
Selasa 20 Oktober 2026 / 18:51
Ringkasnya gini..
  • Kemenpar dan BPOM memperkuat keamanan pangan di lebih dari 6.300 desa wisata.
  • Keamanan pangan merupakan bagian penting dalam meningkatkan kualitas layanan dan daya saing destinasi.
  • Edukasi keamanan pangan merupakan salah satu program strategis.
Jakarta: Pengalaman berwisata ke desa tidak hanya soal menikmati pemandangan alam dan mengenal budaya lokal. Kuliner khas daerah yang disajikan kepada wisatawan juga perlu memenuhi aspek keamanan pangan agar perjalanan terasa nyaman sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.

Hal ini menjadi perhatian Kementerian Pariwisata (Kemenpar) bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang memperkuat kolaborasi untuk meningkatkan keamanan pangan di desa wisata. Kerja sama tersebut dilakukan melalui sinergi program Desa Pangan Aman dari BPOM dan program Desa Wisata Kemenpar.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan keamanan pangan merupakan bagian penting dalam meningkatkan kualitas layanan dan daya saing destinasi. Upaya tersebut juga diperlukan untuk membangun kepercayaan wisatawan terhadap produk kuliner dan pangan lokal.
“Kegiatan ini merupakan wujud nyata tindak lanjut kerja sama antara Kementerian Pariwisata dan BPOM. Sinergi ini menjadi langkah strategis agar keamanan pangan menjadi bagian tak terpisahkan dari layanan pariwisata, sehingga desa wisata tidak hanya menarik untuk dikunjungi, tetapi juga aman untuk dinikmati,” kata Widiyanti dalam kegiatan di Kantor BPOM, Jakarta, Selasa (20/10/2026).
 

Keamanan Pangan Jadi Bagian Pengalaman Wisata


Desa wisata menawarkan pengalaman yang berbeda dari destinasi konvensional. Wisatawan dapat berinteraksi langsung dengan masyarakat, mencicipi makanan tradisional, hingga membeli produk olahan khas daerah sebagai oleh-oleh.

Namun, pengalaman tersebut juga bergantung pada kualitas dan keamanan pangan yang dikonsumsi. Pengolahan yang tidak higienis, penyimpanan yang tidak sesuai, hingga penggunaan bahan pangan yang tidak aman dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.

Karena itu, kolaborasi Kemenpar dan BPOM diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan serta keterampilan masyarakat dalam memilih, mengolah, memproduksi, dan mengonsumsi pangan yang aman.
 
Menpar BPOM2
Menurut Menpar, pengembangan desa wisata perlu memperhatikan kesehatan masyarakat, kualitas hidup, dan keberlanjutan lingkungan sosial. Dok. Kemenpar


Program tersebut mencakup edukasi, pendampingan, serta pemberdayaan komunitas. Sasarannya tidak hanya pengelola desa wisata, tetapi juga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang memproduksi makanan maupun minuman untuk wisatawan.

Menurut Menpar Widiyanti, pengembangan desa wisata perlu memperhatikan kesehatan masyarakat, kualitas hidup, dan keberlanjutan lingkungan sosial. Dengan begitu, pertumbuhan pariwisata tidak hanya diukur dari peningkatan kunjungan, tetapi juga dari manfaat yang dirasakan warga.

Saat ini, lebih dari 6.300 desa wisata telah terdaftar dalam platform Jejaring Desa Wisata (Jadesta) yang dikelola Kemenpar. Jumlah tersebut menunjukkan besarnya potensi desa wisata sebagai penggerak ekonomi lokal sekaligus ruang pelestarian budaya dan kuliner Nusantara.
 

BPOM Tak Hanya Mengawasi, tetapi Juga Membina


Kepala BPOM Taruna Ikrar menjelaskan edukasi keamanan pangan merupakan salah satu program strategis lembaganya yang dijalankan melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.

Menurut Taruna, kerja sama dengan Kemenpar membuka peluang untuk menjangkau lebih banyak komunitas desa wisata. Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat memahami standar keamanan pangan sekaligus meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan.

Ia juga menekankan bahwa peran BPOM tidak terbatas pada pengawasan dan penindakan. Lembaga tersebut turut memberikan edukasi, asistensi, serta pendampingan kepada masyarakat dan pelaku usaha.

“Padahal tupoksi kami bukan hanya penindakan, tapi mulai dari edukasi, membimbing, asistensi, pendampingan, dan sebagainya. Fungsi penindakan itu cuma sekitar 10 persen,” kata Taruna.

Melalui pendampingan tersebut, pelaku usaha di desa wisata diharapkan dapat memperbaiki proses produksi, menjaga kebersihan, dan meningkatkan konsistensi mutu pangan.
 

Kuliner Lokal Berpeluang Naik Kelas


Keamanan pangan juga berkaitan dengan peluang ekonomi. Produk kuliner yang diolah secara higienis dan memenuhi ketentuan yang berlaku berpotensi meningkatkan kepercayaan konsumen serta memperluas akses pasar.

Bagi desa wisata, hal ini dapat membuka kesempatan bagi produsen makanan tradisional, perajin oleh-oleh, hingga usaha katering lokal untuk mengembangkan bisnisnya. Produk khas daerah pun berpeluang menjangkau konsumen yang lebih luas, termasuk pasar internasional, apabila memenuhi persyaratan mutu, keamanan, dan ekspor negara tujuan.

Taruna berharap kolaborasi dengan Kemenpar dapat membantu produk pangan yang dihasilkan komunitas desa memiliki kualitas lebih baik dan daya saing yang meningkat.

“Kita berharap kualitas produk-produk yang dihasilkan komunitas desa dapat meningkat hingga bisa diekspor dan menjadi salah satu keunggulan nasional,” ujarnya.

Menpar Widiyanti juga mendorong keterlibatan pemerintah daerah, pengelola destinasi, pelaku UMKM, dan masyarakat agar manfaat kerja sama tersebut dapat dirasakan secara langsung.

Dengan penguatan edukasi dan pendampingan, desa wisata diharapkan tidak hanya menawarkan keindahan alam serta kekayaan budaya, tetapi juga pengalaman kuliner yang aman dan berkualitas. Langkah ini menjadi bagian dari upaya membangun pariwisata yang berkelanjutan sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(FIR)

MOST SEARCH