WISATA

Batur, Ketika Alam dan Tradisi Jadi Pengalaman Wisata

A. Firdaus
Rabu 07 Oktober 2026 / 15:13
Ringkasnya gini..
  • Tawur Agung Manca Wali Krama di Batur menunjukkan bagaimana tradisi, alam, dan kehidupan masyarakat dapat menjadi bagian dari pengalaman pariwisata berkelanjutan.
  • Kawasan Batur sendiri memiliki kekayaan alam dan budaya yang saling berkaitan
  • Menpar Widiyanti juga menerima penjelasan mengenai proses revalidasi Batur UNESCO Global Geopark yang berhasil mempertahankan status Green selama empat kali.
Bali: Pariwisata tidak selalu tentang tempat baru untuk dikunjungi. Di Bali, perjalanan juga bisa menjadi kesempatan untuk mengenal tradisi, filosofi, dan hubungan masyarakat dengan alam yang telah diwariskan lintas generasi.

Hal itu tercermin dalam Upacara Tawur Agung Manca Wali Krama di Pura Hulundanu Batur, Desa Songan, Kintamani, Bali. Upacara ritual yang berlangsung sejak 12 Agustus hingga 6 Oktober 2026 tersebut menjadi salah satu gambaran bagaimana tradisi dan kehidupan masyarakat dapat berjalan beriringan dengan pariwisata.

Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana mengatakan penyelenggaraan upacara sepuluh tahunan tersebut mencerminkan kekuatan pariwisata berbasis budaya yang berkualitas dan berkelanjutan.
 

Dalam penutupan upacara pada Selasa, 6 Oktober 2026, Widiyanti menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat, terutama masyarakat Desa Songan yang menjaga pelaksanaan ritual tersebut.

Menurutnya, Tawur Agung Manca Wali Krama tidak hanya menunjukkan ketulusan bhakti, tetapi juga memperlihatkan semangat kebersamaan dan gotong royong yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
 

Ketika Wisatawan Menemukan Budaya yang Hidup


Bagi pariwisata, kekuatan budaya tidak hanya terletak pada bangunan, pakaian adat, atau pertunjukan yang dapat disaksikan wisatawan. Lebih dari itu, pengalaman budaya hadir ketika wisatawan dapat melihat bagaimana sebuah tradisi benar-benar menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Nilai tersebut tercermin dalam filosofi Tri Hita Karana, yang menekankan keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, serta manusia dengan alam.

“Nilai Tri Hita Karana dalam upacara ini menjadi cerminan jiwa pariwisata Indonesia. Wisatawan datang bukan sekadar menikmati keindahan alam, tetapi juga merasakan budaya yang hidup dan keramahan masyarakatnya,” kata Menpar Widiyanti.

 
Menpar Tawur Batur
Menpar menghadiri Upacara Tawur Agung Manca Wali Krama di Pura Hulundanu Batur, Desa Songan, Kintamani, Bali. Dok. Kemenpar


Kawasan Batur sendiri memiliki kekayaan alam dan budaya yang saling berkaitan. Batur UNESCO Global Geopark ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark pada 2012 dengan luas kawasan mencapai 36.640 hektare.

Di balik bentang Gunung Batur dan Danau Batur, terdapat nilai yang jauh lebih dalam bagi masyarakat Bali. Gunung Batur secara teologis dimaknai sebagai simbol Purusa, sedangkan Danau Batur menjadi simbol Pradana.

Air yang bersumber dari kawasan Batur juga memiliki peran penting sebagai sumber kehidupan, kesuburan, kemakmuran, dan kesejahteraan masyarakat.

Karena itu, Tawur Agung Manca Wali Krama menjadi momentum untuk kembali melihat hubungan antara tradisi, alam, dan kehidupan masyarakat sebagai satu kesatuan.
 

Pariwisata Tak Hanya Mengejar Jumlah Kunjungan


Konsep tersebut sejalan dengan arah pengembangan pariwisata yang tidak hanya berorientasi pada jumlah wisatawan, tetapi juga pada kualitas pengalaman dan manfaat yang dirasakan masyarakat di destinasi.

Tradisi yang tetap hidup dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata, tetapi kelestariannya tetap perlu menjadi prioritas. Begitu pula dengan kawasan alam yang menjadi bagian penting dari identitas destinasi.

Menpar menegaskan Kementerian Pariwisata akan terus mendampingi masyarakat dalam menjaga kesucian kawasan Gunung dan Danau Batur sekaligus mengembangkan pariwisata berbasis budaya yang lestari dan memberikan manfaat bagi masyarakat setempat.

Peran generasi muda juga menjadi bagian penting dari keberlanjutan tersebut. Mereka diharapkan tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut memahami dan meneruskan tradisi sekaligus menjaga kawasan sakral Batur.

“Kami berharap warisan tradisi ini akan terus dijalankan para generasi muda dengan tetap menjaga kesucian kawasan Batur dan tetap rukun dalam kebersamaan. Semoga upacara ini membawa kerahayuan, kesejahteraan, dan keharmonisan bagi Bali dan seluruh umat di Indonesia,” tutur Widiyanti.
 

Belajar Geopark dari Generasi Muda


Selepas menghadiri penutupan Tawur Agung Manca Wali Krama, Menpar Widiyanti melanjutkan kunjungan kerja ke kawasan Batur UNESCO Global Geopark.

Kunjungan tersebut juga memperlihatkan bagaimana upaya mengenalkan warisan alam kepada generasi muda dilakukan sejak dini. Menteri Pariwisata disambut para pelajar sekolah dasar yang tengah mempelajari sejarah Gunung Batur sekaligus melihat langsung kegiatan edukasi dan pelestarian warisan alam.

Dalam kunjungan tersebut, Menpar Widiyanti juga menerima penjelasan mengenai proses revalidasi Batur UNESCO Global Geopark yang berhasil mempertahankan status Green selama empat kali.

“Kunjungan ini sekaligus melengkapi perjalanan saya melihat secara langsung taman-taman bumi dunia yang dimiliki Indonesia. Setiap geopark memiliki cerita, kekayaan alam, budaya, dan masyarakatnya sendiri,” ujar Menpar Widiyanti.

Batur pada akhirnya menawarkan lebih dari sekadar pemandangan gunung dan danau. Di kawasan ini, wisatawan dapat menemukan pertemuan antara alam, budaya, tradisi, dan kehidupan masyarakat yang terus berjalan.

Inilah wajah pariwisata berbasis budaya: datang bukan hanya untuk melihat destinasi, tetapi juga memahami cerita yang membuat sebuah tempat menjadi berarti.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(FIR)

MOST SEARCH