WISATA

Cerita Ende, Soekarno dan Pancasila

Arthurio Oktavianus Arthadiputra
Rabu 14 Oktober 2020 / 12:44
Ende: Satu tempat di daratan Flores yang menyimpan catatan penting sejarah Indonesia adalah Kota Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Berada di pesisir selatan Pulau Flores, kota ini menjadi saksi bisu cerita pengasingan Soekarno dan menjadi tempat munculnya Pancasila dari hasil perenungan di bawah pohon sukun.
 
Menguak alur sejarah asal muasal Kota Ende bak harus mengurai benang yang berpilin. Kait mengait antara cerita rakyat dan catatan ilmiah dicoba menjadi tautan yang bisa menjadi jawaban logis teka-teki muasal Ende.
 
Telaah buku "Lets Over Ende" karangan Samuel Ross tahun 1877 dan Endeh (Flores) karangan Van Suchtelen tahun 1921, yang mengulas tentang mitos Ende. 

Hingga catatan pelayaran dalam buku ‘De Elcano’s tocht door den Timorarchipel met Magalhaes schip “Victoria” karangan CCFM Le Roux tahun 1929 dan catatan Sir Thomas Stamford Raffles dalam “The History of Java” yang ditulis John Murray tahun 1830, tentang Ende sebagai jajahan Majapahit.
 
Kisah pengaruh Majapahit tertutur dalam Jari Jawa, di mana ada seorang dari Jawa mengendarai ngambu (ikan paus) di Ende dan menjadi raja pertama. Masa perjuangan di Kota Ende pun diisi cerita heroik Nipa Do yang dikenal sebagai Watu Api dan Mari Longa tahun 1916-1917.
 
Penduduk setempat menyebut diri sebagai orang Ende-Lio. Kisah tentang mitos, catatan pelayaran, bekas jajahan Majapahit dan perjuangan, menjadi benang merah yang mengikat cerita Kota Ende dengan luas wilayah 2.046,50 kilometer persegi. 
 

Soekarno di tanah Ende


Tanggal 28 Desember 1933, kapal barang KM van Riebeeck bertolak dari pelabuhan Surabaya. Kapal ini mengangkut Ir. Soekarno, Inggit Garnasih (istri), Ratna Djuami (anak angkat) dan Ibu Amsi (mertua), dengan tujuan pelabuhan Ende.
 
Adalah De Jonge, Gubernur Jenderal Pemerintah Kolonial Hindia Belanda, yang mengeluarkan surat keputusan pengasingan Bung Karno ke Ende. Tanggal 14 Januari 1934, kapal pun bersandar ke pelabuhan Ende.



(Rumah milik Abdullah Ambuwaru yang ditempati Soekarno dan keluarga semasa pengasingan di Jalan Perwira, Kelurahan Kotaraja, Ende Utara, Nusa Tenggara Timur. Foto: Arthurio Oktavianus)


Selama di Ende, Bung Karno dan keluarga menempati sebuah rumah milik Abdullah Ambuwaru, yang kini berada di Jalan Perwira, Kelurahan Kotaraja, Ende Utara.

Rumah itu menjadi Benda Cagar Budaya yang dilindungi oleh Undang-undang Nomor 5 Tahun 1992.
 
Terhitung tahun 1934-1938, Bung Karno menjalani masa pengasingan di Ende, tujuh tahun sebelum memproklamasikan kemerdekaan dan menjadi presiden pertama Republik Indonesia. Aktivitas yang dilakukan seperti melukis, bermain biola, membaca buku, berkebun, menulis dan berkeliling kota.
 
Satu hal yang menjadi rutinitas Bung Karno adalah duduk di bangku pada sebuah taman yang berada 700 meter dari rumah pengasingannya. 
 
Bangku yang menghadap ke pantai, di bawah pohon sukun yang rindang, dan ditemani semilir angin pantai. Berpikir tentang Indonesia, merenungkan Pancasila.
 

Taman perenungan


Pohon sukun bercabang lima menjadi peneduh Bung Karno saat merenung di taman. Gambaran itu kini berwujud patung Bung Karno yang duduk di bangku dengan kaki kiri yang menyilang dan kedua tangan yang bersandar di atas kaki kirinya.
 
Menurut cerita, pohon sukun yang saat ini ada di taman perenungan adalah pohon yang ditanam tahun 1981, menggantikan pohon asli yang tumbang di tahun 1960. 
 
Berlokasi di Kelurahan Rukun Lima, taman perenungan tersebut biasa didatangi Bung Karno tiap Jumat malam.

Dari sini muncul rumusan prinsip Pancasila yang menjadi falsafah hidup penduduk Indonesia, inspirasi dari rukun Islam, jari, panca indra dan tokoh pewayangan Pandawa.
 
Mungkin kisah Jari Jawa tentang Ende merupakan gambaran yang merujuk tentang Soekarno dan Pancasila.

Jari Jawa, di mana ada seorang dari Jawa (Soekarno) mengendarai ngambu/ikan paus (Kapal laut) di Ende dan menjadi raja pertama (Presiden Republik Indonesia). Entahlah. 



(TIN)

MOST SEARCH