WISATA

Mengenal Sorong Selatan Lewat Papeda, Tari, dan Cerita Hutan

A. Firdaus
Sabtu 03 Oktober 2026 / 10:00
Ringkasnya gini..
  • Sorong Selatan memperkenalkan kekayaan budaya, kuliner, dan ekowisata berbasis masyarakat melalui pameran foto dan dialog di Jakarta.
  • Kegiatan yang berlangsung pada 1–4 Oktober 2026 ini merupakan kolaborasi Konservasi Indonesia, National Geographic Indonesia, dan Legenda Khatulistiwa.
  • Pengembangan ekowisata di Klaogin, Konda, dan Bariat juga menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama.
Jakarta: Semangkuk papeda mungkin sudah akrab bagi masyarakat Papua. Namun, bagi sebagian warga Jakarta, makanan berbahan dasar sagu ini bisa menjadi pintu masuk untuk mengenal kehidupan masyarakat di Sorong Selatan, Papua Barat Daya.

Suasana itulah yang terasa dalam acara Jelajah Kemolekan Sorong Selatan: Ekowisata, Kebudayaan, dan Gastronomi Kepala Burung Papua di Hutan Kota by Plataran, Jakarta. Dua mama dari Sorong Selatan, Lidia Sawor dan Orpa Sawen, memperlihatkan cara mengolah sagu menjadi papeda yang bening dan kenyal. Di tengah demonstrasi memasak tersebut, pengunjung juga diajak mengenal tradisi pangan yang menjadi bagian dari keseharian masyarakat setempat.

Kegiatan yang berlangsung pada 1–4 Oktober 2026 ini merupakan kolaborasi Konservasi Indonesia, National Geographic Indonesia, dan Legenda Khatulistiwa. Lewat pameran foto, dialog, pertunjukan tari, dan demonstrasi kuliner, ketiganya memperkenalkan kekayaan alam dan budaya tiga kampung di Sorong Selatan, yakni Klaogin, Konda, dan Bariat.

Hutan, Budaya, dan Kehidupan Masyarakat Papua


Sorong Selatan tidak hanya menyimpan keindahan lanskap, tetapi juga kekayaan ekosistem hutan rawa gambut tropis yang menjadi habitat 416 spesies tumbuhan dan 372 spesies satwa. Bagi masyarakat setempat, hutan memiliki peran lebih luas, mulai dari sumber pangan hingga ruang untuk mewariskan pengetahuan leluhur.

Senior Vice President and Executive Chair Konservasi Indonesia, Meizani Irmadhiany, mengatakan kekayaan alam tersebut menjadi landasan pengembangan ekowisata yang melibatkan masyarakat adat sebagai penjaga lingkungan sekaligus pemilik kearifan lokal.

Menurut dia, ekowisata tidak seharusnya hanya berorientasi pada keindahan alam, tetapi juga perlu memberikan manfaat bagi masyarakat yang tinggal di dalamnya.

Pandangan serupa disampaikan Editor in Chief National Geographic Indonesia, Didi Kaspi Kasim. Ia menilai cara sebuah destinasi diperkenalkan turut memengaruhi cara wisatawan memperlakukannya. Karena itu, wisatawan diharapkan tidak sekadar datang untuk menikmati pemandangan, tetapi juga memahami kehidupan masyarakat dan lingkungan setempat.
 

Ekowisata yang Berangkat dari Kearifan Lokal


Pengembangan ekowisata di Klaogin, Konda, dan Bariat juga menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama. Bukan sekadar menawarkan keindahan alam, konsep ini turut memperhatikan kelestarian lingkungan dan keberlanjutan tradisi setempat.

CEO Legenda Khatulistiwa, Narendra Makes, menilai pengelolaan wisata perlu memperhatikan batasan, mulai dari jumlah pengunjung hingga jalur yang boleh dilalui. Dengan begitu, aktivitas wisata tidak menimbulkan tekanan berlebihan terhadap lingkungan.
 
WhatsApp Image 2026-10-03 at 00_21_12 (1)
Kegiatan yang berlangsung pada 1–4 Oktober 2026 ini merupakan kolaborasi Konservasi Indonesia, National Geographic Indonesia, dan Legenda Khatulistiwa. Dok. Ist


Sementara itu, Sekretaris Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Papua Barat Daya, Irman Murafer, menekankan pentingnya menjadikan masyarakat sebagai penerima manfaat utama pariwisata. Promosi destinasi, menurut dia, perlu berjalan beriringan dengan pengaturan daya dukung lingkungan.

Harapan serupa disampaikan Kepala Kampung Klaogin, Martinus Sawen, dan Kepala Kampung Bariat, Adrianus Kemeray. Bagi mereka, hutan dan sungai bukan sekadar daya tarik wisata, melainkan bagian dari kehidupan masyarakat yang perlu dijaga untuk generasi mendatang.
 

Mengenal Papua Lewat Cerita dan Tradisi


Selain pameran foto dan demonstrasi kuliner, rangkaian kegiatan ini juga menghadirkan pertunjukan tari serta dialog mengenai masa depan keanekaragaman hayati Sorong Selatan.

Pada 3 Oktober 2026, dialog bertema Berbagi Tradisi dan Kearifan Merawat Hutan menghadirkan perwakilan Konservasi Indonesia dan kelompok sadar wisata dari Klaogin serta Bariat. Diskusi tersebut membahas tradisi pangan, pengetahuan leluhur dalam menjaga hutan, serta batasan budaya yang perlu dihormati wisatawan.

Melalui rangkaian kegiatan ini, Sorong Selatan diperkenalkan bukan semata-mata sebagai destinasi wisata baru, melainkan sebagai ruang hidup dengan kekayaan alam, budaya, dan tradisi yang saling berkaitan.

Pada akhirnya, mengenal Sorong Selatan bukan hanya tentang menikmati keindahan Papua, tetapi juga memahami kehidupan masyarakat yang telah lama menjaga alamnya.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(FIR)

MOST SEARCH