FAMILY

5 Mitos Mengasuh Anak yang Telah Dibantah oleh Sains

Mia Vale
Rabu 28 September 2022 / 12:28
Jakarta: Hampir semua orang tua pernah mendengar mitos pengasuhan anak sebelumnya dan bahkan mungkin memercayainya karena kedengarannya begitu meyakinkan dan didukung oleh begitu banyak orang tua lainnya. 

Tapi pernahkah kamu bertanya-tanya, jika nasihat pengasuhan yang terkenal itu berhasil, mengapa kita masih memiliki begitu banyak masalah pengasuhan, kenakalan remaja, dan masalah remaja di masyarakat? Apakah itu hanya hasil dari orang tua yang mengeksekusinya secara tidak benar?

Ternyata, banyak dari mitos mengenai dunia parenting ini hanyalah nasihat yang tidak masuk akal. Tak jarang banyak 'resep' mengasuh anak yang membingungkan sampai membuat frustasi. Bahkan studi ilmiah pun membantahnya. Nah, melansir dari Psychcentral, kami meminta dua psikolog untuk berbagi mitos paling umum — dan fakta — tentang mengasuh anak saat ini.
 

1. Mitos: anak tidak bahagia


Ada yang salah jika anak-anak tidak bahagia hampir sepanjang waktu atau dalam situasi tertentu, orang tua mulai khawatir. 

Padahal itu normal dan sehat bagi anak-anak untuk merasakan banyak suka dan duka, kata Jessica Michaelson, PsyD, seorang psikolog klinis dan pendiri Honest Parenthood, spesialis dalam hubungan awal orang tua-anak. 

Menurut Michaelson, masing-masing dari kita dilahirkan dengan berbagai pengalaman emosional, beberapa memiliki lebih banyak emosi negatif daripada yang lain. Adalah sehat untuk dapat merasakan dan menghadapi semuanya.


(Ubah kalimat negatif yang Moms sampaikan pada si kecil dengan kalimat positif yang kamu harapkan. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
 

2. Mitos: jangan katakan tidak kepada anak


Ini adalah tren baru menurut psikolog klinis Maui Heather Wittenberg, Psy.D yang telah melihat. Alasannya? "Sekarang diyakini bahwa mengatakan tidak kepada anak-anak terlalu keras akan berpotensi merusak. Namun, menetapkan batasan mengajarkan berbagai keterampilan kepada anak-anak justru membantu mereka merasa aman," ujar Wittenberg, juga penulis Let's Get This Potty Started! 

Mengatakan tidak, asalkan tidak dikatakan dengan nada agresif atau bermusuhan. Konteksnya jauh lebih penting daripada kata yang sebenarnya. Ubah konteks 'tidak' ke dalam kalimat yang kamu inginkan. "Bunda, inginnya Adek lebih rajin belajar ya, supaya nilainya besok bisa lebih baik." Lebih terdengar menyenangkan bukan?
 

3. Mitos: Jangan menjadi teman anak


Orang tua yang cocok dengan yang satu ini cenderung memiliki pandangan miring terhadap teman atau menjadi sangat mengontrol. Mereka beranggapan bahwa berteman berarti bersikap permisif, memberi nasihat yang buruk, tidak bertanggung jawab, atau tidak memiliki aturan atau batasan. Ini adalah teman-teman yang buruk. 

Menjadi teman yang baik berarti memberikan nasihat dan bimbingan yang baik, memberikan kenyamanan dan dukungan, bersikap empati dan pengertian, memperlakukan orang lain dengan hormat, bertanggung jawab, dan memegang batasan yang sehat. Siapa yang tidak butuh teman seperti ini?
 

4. Mitos: utamakan kebutuhan anak-anak


“Anak-anak bisa menjadi 'pemakan' segalanya, dan budaya kita dapat mempromosikan cara hidup yang sangat terobsesi pada anak,” kata Michaelson. Hal ini membuat banyak orang tua mengabaikan kebutuhan pribadi mereka. 

Tetapi penting bagi orang tua untuk “memakai masker oksigen mereka sendiri terlebih dahulu,” kata Wittenberg. Ini tidak hanya membantu kamu tetap sehat, tetapi juga mengomunikasikan kepada anak-anak bahwa orang tua berada di puncak sistem keluarga.
 

5. Mitos: ajari anak dengan keras


Anak-anak membutuhkan kasih sayang dan pengasuhan. Beberapa dekade penelitian telah mengonfirmasi bahwa pengasuhan yang sensitif dan responsif mengarah pada keterikatan yang aman dan menghasilkan hasil terbaik pada anak-anak. 

Sebaliknya, pengasuhan yang kejam atau keras dikaitkan dengan hasil yang lebih buruk, termasuk kinerja akademik yang lebih rendah, lebih sedikit masalah kesehatan mental, kepuasan hidup yang lebih rendah, dan kesejahteraan yang lebih buruk.
(TIN)

MOST SEARCH