FITNESS & HEALTH

Efek Samping jika Kamu Mengonsumsi Jamu Berlebihan

Raka Lestari
Jumat 27 November 2020 / 07:00
Jakarta: Mengonsumsi jamu atau bahan-bahan herbal memang banyak dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Hal ini karena banyak orang yang menganggap bahwa mengonsumsi jamu atau bahan-bahan herbal cenderung lebih aman dibandingkan obat-obatan kimiawi. Namun, hal ini juga bisa membuat seseorang mengonsumsinya secara berlebihan.

“Jadi jamu atau bahan-bahan herbal itu kalau berlebihan dikonsumsi pasti ada efek samping. Misalnya jika dikonsumsi melebihi dosis yang seharusnya, efek jangka pendek yang akan ditimbulkan adalah gangguan pencernaan seperti diare dan muntah,” ujar Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), dr. Inggrid Tania, M.Si, dalam acara Press Launch Herbatia Sari Imuno.

Selain efek dalam jangka pendek, menurut dr. Inggrid, ada juga efek jangka menengah yang akan ditimbulkan. Seperti gangguan fungsi liver, karena ketika jamu atau bahan herbal masuk ke dalam pencernaan, maka akan terjadi proses metabolisme di liver.

“Kalau mengonsumsinya secara berlebihan, pekerjaan liver akan jadi berat dan tentunya akan terganggu. Sedangkan efek jangka panjang, bisa menyebabkan gangguan fungsi ginjal. Pengeluaran sisa-sisa metabolisme jamu tadi kan akan lewat urine. Ginjal yang harus bekerja keras, maka akan terganggu fungsinya jika dikonsumsi melebihi dosis,” tutur dr. Inggrid.

Menurut dr. Inggrid, jika orang menganggap dengan mengonsumsi jamu atau bahan-bahan herbal tidak akan memberikan efek samping maka itu sala. Apapun jika dikonsumsi secara berlebihan pastinya akan memiliki efek samping.

"Air putih saja jika diminum berlebihan akan menimbulkan efek samping. Meskipun memang, jamu atau bahan herbal itu sangat minimal efek sampingnya,” jelas dr. Inggrid.

Untuk dosisnya sendiri, tentu harus spesifik, herbal apa yang akan dikonsumsi karena setiap bahan-bahan herbal tersebut ada dosisnya masing-masing. Dan memang kalau dikonsumsinya masih dalam bentuk segar, keamanannya lebih besar.

"Tetapi untuk standardisasi dan efektivitas bisa mengonsumsi herbal dalam bentuk kapsul atau ekstrak,” jelas dr. Inggrid.

Menurutnya, jamu atau obat herbal yang sudah dalam kemasan biasanya sudah terdapat dosis yang jelas. Sehingga tidak menimbulkan konsumsi secara berlebihan.
(FIR)

MOST SEARCH