FITNESS & HEALTH

Stres Akut? Kenali Fenomena Burn Out

Rendy Renuki H
Jumat 15 Oktober 2021 / 21:06
Jakarta: Burn Out merupakan istilah yang menggambarkan keadaaan stress secara akut. Ketidaknyamanan ini umum terjadi kepada siapa saja yang memiliki aktifitas dan rutinitas yang membosankan.

Kondisi seseorang yang mengalami situasi Burn Out tidak dapat disepelekan. Pasalnya, apabila tidak ditangani, Burn Out akan berdampak fatal. 

"Kondisi ini bila tidak ditangani dapat menjadi pencetus depresi dan gangguan kesehatan fisik maupun mental," ujar dr. Monica Joy Reverger, spesialis jiwa Siloam Hospitals Bali via live Instagram, Jumat 15 Oktober 2021. 

Burn Out berbeda dengan rasa bosan. Fenomena ini erat dengan rutinitas, dan sering terjadi pada karyawan, pekerja rutin dan bahkan ibu rumah tangga. Karena lokasi dan aktifitas yang sama dan terus dilakukan berulang ulang bahkan tahunan.

Kondisi ini ditandai dengan kelelahan secara fisik dan emosional, dan juga karena bayangan ekspektasi di pekerjaan belum juga tercapai, dan selalu menimbulkan rasa tidak nyaman ini. 

"Apabila dirasakan hingga lebih dari satu minggu, hendaknya segera berkonsultasi dengan pihak medis atau dokter ahli," kata Monika. 

Namun, fenomena Burn Out dapat ditangani dan bisa disembuhkan. Hanya saja, sebelum melakukan tindakan secara medis, hal pertama yang harus dilakukan adalah membuka komunikasi.

"Bagi para profesional yang merasakan gejala Burn Out ini, hendaknya membuka komunikasi. Sampaikan gejala ini kepada pimpinan atau rekan kerja. Hal ini bermanfaat untuk mengurangi beban kerja. Sama halnya dengan menciptakan suasana rumah tangga yang nyaman dan tenteram," tutur Monika. 

Mencegah Burn Out salah satu bisa dilakukan dengan berhenti dari rutinitas pekerjaan dan atau memvariasikan rutinitas. Berlibur, meditasi, memenuhi jam tidur yang cukup dan rutin berolahraga merupakan cara yang baik mengurangi sekaligus menghilangkan burn out.

"Hanya saja pada antiisipasi untuk keputusan tersebut, terlebih dahulu lihat hal positifnya. Cari sisi positif dalam pekerjaan itu, bersosialisasi dengan rekan kerja, jaga kesimbangan  dengan melakukan hobi atau ambil cuti untuk berlibur," paparnya. 

Apabila kondisi Burn Out dirasa berkepanjangan, jangan ragu menemui atau berkonsultasi dengan dokter kejiwaan karena tidak berarti dinyatakan 'kurang waras', karena dokter akan melakukan observasi, edukasi, termasuk modifikasi. 

"Pada kondisi tertentu akan dibantu dengan obat-obatan berlesensi, komunikasi ke orang dan atau ahli yang tepat menjadi kunci dalam penyembuhan pasien penderita Burn Out," pungkas  Monika.
(REN)

MOST SEARCH