FITNESS & HEALTH

Studi Baru: Awas, Mimpi Bisa jadi Tanda Peringatan Dini Risiko Demensia

Mia Vale
Senin 26 September 2022 / 08:00
Jakarta: Sepertiga dari hidup kita idealnya dihabiskan untuk tidur. Dan seperempat dari tidur tersebut umumnya dihabiskan untuk bermimpi. Sebuah studi terbaru, yang diterbitkan dalam jurnal eClinicalMedicine The Lancet, menunjukkan bahwa mimpi dapat mengungkapkan sejumlah informasi mengejutkan tentang kesehatan otak kita.

Lebih khusus lagi, bahwa sering mengalami mimpi buruk dan mimpi seram yang membuat seseorang terbangun selama usia paruh baya atau lebih tua, dapat dikaitkan dengan peningkatan risiko demensia. 

Studi tersebut, menganalisis data dari tiga studi besar Amerika tentang kesehatan dan penuaan. Ini termasuk lebih dari 600 orang berusia antara 35 dan 64 tahun, dan 2.600 orang berusia 79 tahun ke atas.

Semua peserta bebas demensia pada awal penelitian dan diikuti selama rata-rata sembilan tahun untuk kelompok paruh baya dan lima tahun untuk peserta yang lebih tua.

Melansir dari Scient Alert, awalnya penelitian pada tahun 2002-2012 ini, para peserta diminta untuk menyelesaikan serangkaian kuesioner, termasuk pertanyaan tentang seberapa sering mereka mengalami mimpi buruk dan mimpi seram.

Lalu, peneliti menganalisis data untuk mengetahui apakah peserta dengan frekuensi mimpi buruk yang lebih tinggi pada awal penelitian lebih mungkin untuk terus mengalami penurunan kognitif - penurunan cepat dalam memori dan keterampilan berpikir dari waktu ke waktu dan didiagnosis dengan demensia.


(Pria paruh baya yang sering mimpi buruk, lebih mungkin mengalami demensia. Foto: Ilustrasi. Dok. Freepik.com)

Hasilnya, peneliti menemukan bahwa peserta paruh baya yang mengalami mimpi buruk setiap minggu, empat kali lebih mungkin mengalami penurunan kognitif (pendahulu demensia) selama dekade berikutnya. Sedangkan, peserta yang lebih tua dua kali lebih mungkin didiagnosis dengan demensia.

Menariknya, hubungan antara mimpi buruk dan demensia di masa depan jauh lebih kuat pada pria daripada wanita. Misalnya, pria yang lebih tua di mana mengalami mimpi buruk setiap minggu, lima kali lebih mungkin mengembangkan demensia dibandingkan dengan pria yang lebih tua yang tidak mengalami mimpi buruk. Namun, pada wanita, peningkatan risikonya hanya 41 persen.

Pola yang ditemukannya pun sangat mirip pada kelompok paruh baya. Secara keseluruhan, hasil ini menunjukkan bahwa mimpi buruk yang sering mungkin merupakan salah satu tanda awal demensia, yang dapat mendahului perkembangan memori dan masalah berpikir selama beberapa tahun atau bahkan beberapa dekade terutama pada pria. Atau, mungkin juga mengalami mimpi buruk dan mimpi seram secara teratur bahkan bisa menjadi penyebab demensia.

Terlepas dari teori mana yang terbukti benar, implikasi utama dari penelitian ini tetap sama, yaitu mengalami mimpi buruk dan mimpi seram secara teratur selama usia paruh baya dan lebih tua dapat dikaitkan dengan peningkatan risiko demensia di kemudian hari.

Kabar baiknya adalah bahwa mimpi buruk yang berulang dapat diobati. Dan pengobatan medis lini pertama untuk mimpi buruk telah terbukti mengurangi penumpukan protein abnormal yang terkait dengan penyakit Alzheimer. Ada juga laporan kasus yang menunjukkan peningkatan dalam memori dan keterampilan berpikir setelah mengobati mimpi buruk.

Temuan ini menunjukkan bahwa mengobati mimpi buruk dapat membantu memperlambat penurunan kognitif dan mencegah berkembangnya demensia pada beberapa orang. Ini akan menjadi jalan penting untuk mengeksplorasi dalam penelitian masa depan.
(yyy)

MOST SEARCH