End Google Analytics -->
FITNESS & HEALTH

Apa yang Harus Dilakukan Saat Pasangan Tak Bisa Pertahankan Ereksi?

Medcom
Kamis 01 Desember 2022 / 23:25
Jakarta: Sering kita mendengar kata impotensi. Dalam medis hal tersebut disebut dengan Disfungsi ereksi (DE). DE adalah ketika pria tidak bisa mendapatkan atau mempertahankan ereksi penis yang cukup untuk kepuasan seksual kedua pasangan.

Dalam tinjauan dr. Alfaria Elia Rahma Putri via Mitra Keluarga disebutkan sebuah studi tahun 2007 yang diterbitkan dalam American Journal of Medicine mencatat risiko impotensi meningkat seiring bertambahnya usia. 

Berdasarkan riset Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI), prevalensi DE pada pria berusia 20-80 tahun di Indonesia cukup tinggi yaitu mencapai 35,6 persen dan angka kejadian yang terus meningkat seiring bertambahnya usia.
 

Gejala DE


Gejala disfungsi ereksi yang paling umum adalah kesulitan mendapatkan ereksi dan kesulitan mempertahankan ereksi selama aktivitas seksual. Selain itu, seseorang yang mengalami impotensi juga tidak mengalami ereksi di pagi hari.

Tanda lain dari disfungsi ereksi juga termasuk berkurangnya gairah seks dan hilangnya sensitivitas di penis. Sebaiknya menemui dokter apabila mengalami gejala tersebut, terutama terjadi selama tiga bulan atau lebih untuk mendapatkan perawatan yang tepat.


(Penyalahgunaan obat-obatan seperti kokain dan amfetamin, serta memiliki riwayat penyalahgunaan alkohol dan alkoholisme dapat memengaruhi kemampuan pria untuk mencapai atau mempertahankan ereksi. Foto: Ilustrasi/Freepik.com)  
 

Faktor penyebab DE


Ereksi yang baik dan sehat memerlukan kondisi kesehatan fisik dan mental, termasuk kondisi pembuluh darah, saraf, hormon, dan faktor psikologis yang baik.

Ketika ada masalah di salah satunya, maka yang dapat menyebabkan disfungsi ereksi (DE). Ada banyak kemungkinan penyebab DE, dan bisa mencakup kondisi emosional dan fisik. Beberapa di antaranya yaitu:

1. Penyakit endokrin. Salah satu contoh penyakit endokrin yang menyebabkan disfungsi ereksi adalah diabetes karena memengaruhi kemampuan tubuh untuk menggunakan hormon insulin.

2. Gangguan saraf. Beberapa kondisi neurologis dapat meningkatkan risiko impotensi. Apabila terjadi gangguan pada saraf, maka akan memengaruhi kemampuan otak untuk berkomunikasi dengan sistem reproduksi sehingga dapat mencegah tercapainya ereksi.

3. Kondisi terkait jantung. Kondisi yang memengaruhi jantung dan kemampuannya untuk memompa darah dengan baik juga dapat menyebabkan impotensi. Tanpa aliran darah yang cukup ke penis, maka ia tidak dapat mencapai ereksi.

4. Faktor psikologis. Ereksi dapat diperoleh jika kamu mencapai fase kegembiraan yang dapat berupa respons emosional. Maka dari itu, gangguan emosional tentu akan memengaruhi kemampuan untuk menjadi bersemangat secara seksual.
 

Cara mengobati DE


Cara paling aman untuk mengobati impotensi yaitu dengan melakukan perubahan gaya hidup dengan mengonsumsi makanan untuk mengatasi disfungsi ereksi seperti daging organik, ikan berlemak, tiram, ABC (apel, berry, dan cherry), hingga pisang.

Selain itu, kamu juga bisa melakukan psikoterapi yang dapat membantu ketika terdapat kondisi psikologis yang mendasari seperti kecemasan atau tantangan dalam hubungan.

Pengobatan juga akan disesuaikan dari penyebabnya untuk mengurangi gejalanya. Terapi testosteron juga mungkin akan direkomendasikan sebagai pengobatan awal disfungsi ereksi.

Apabila kamu ingin mengetahui pengobatan apa yang tepat untuk disfungsi ereksi, sebaiknya melakukan konsultasi dengan dokter. Jika kamu bingung mau berkonsultasi dengan dokter spesialis apa, kamu bisa mencari beberapa referensi dokter spesialis andrologi. Andrologi fokus pada permasalahan sistem reproduksi pria.
(TIN)

MOST SEARCH