FAMILY

Apa Dampak Kehamilan yang Tidak Direncanakan?

Raka Lestari
Selasa 24 November 2020 / 07:00
Jakarta: Kehamilan merupakan sebuah momen yang cukup signifikan dalam kehidupan berumahtangga. Ada beberapa yang sangat menginginkannya namun juga ada yang tidak mempersiapkannya.

Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si, Psikolog keluarga mengatakan masyarakat Indonesia memberikan tuntutan bagi pasangan yang baru menikah untuk segera memiliki anak, bahkan segera menambah jumlah anak. Padahal jarak kehamilan ideal secara psikologis rentangnya dua sampai lima tahun.

Lebih lanjut ia mengatakan menghadapi tuntutan sosial seperti itu selayaknya seorang ibu berdaya untuk memilih apa dan kapan ingin hamil dan memiliki anak.

Ia mengatakan bahwa kehamilan yang tidak direncanakan dapat memberikan risiko bagi ibu dan anak. 

"Cukup sering terjadi penolakan kehamilan atau ketidaksadaran bahwa dirinya hamil. Stres ibu juga menjadi lebih tinggi selama kehamilan," ujar psikolog yang akrab disapa Nina tersebut.

"Kondisi yang demikian membuat tumbuh kembang janin terhambat. Demikian pula setelah lahir, kasih sayang antara ibu dan bayi (attachment) kurang berkembang optimal sehingga tumbuh kembang psikologis anak jadi bermasalah," papar Nina.

Perencanaan keluarga yang tepat akan memberi kesempatan pada ibu untuk mengembangkan dirinya misalnya dari segi pendidikan dan sosialnya. Tentu saja, dalam merencanakan keluarga, ibu juga memerlukan dukungan penuh dari suami sebagai mitranya.

"Dengan memilih, maka ia jadi lebih bertanggung jawab dalam menjalankan konsekuensinya," pungkas Nina.
(TIN)

MOST SEARCH