WISATA

Kemenparekraf Tingkatkan Pemahaman Sadar Wisata kepada Pelaku Pariwisata

Elang Riki Yanuar
Kamis 23 Juni 2022 / 10:23
Jakarta: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) terus meningkatkan pemahaman pelaku pariwisata di wilayah pedesaan. Salah satunya melalui Kampanye Sadar Wisata.

Kampanye Sadar Wisata menyasar para pelaku pariwisata di desa untuk memahami pengembangan pariwisata yang terdiri dari unsur Sapta Pesona, Pelayanan Prima dan CHSE (Cleanliness, Health, Safety and Environment Sustainability).

Program ini sudah dimulai sejak pertengahan Maret 2022 dan akan berlangsung hingga tahun 2023. Menyasar 65 Desa Wisata di tahun 2022 dan 90 Desa Wisata di tahun 2023. Kampanye Sadar Wisata terdiri dari Sosialisasi, Pelatihan, Penyusunan Program Pengembangan Desa Wisata, Pendampingan, Penilaian dan Apresiasi.

"Covid-19 berdampak signifikan khususnya bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Kita perlu mendorong pariwisata berbasis kualitas yang menawarkan experience atau pengalaman unik yang membawa kenyamanan bagi para wisatawan. Desa Wisata menjadi salah satu alternatif wisata alam yang dapat menghadirkan keunikan, melalui ciri khas produk lokal dan atraksi daerah," kata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahudin Uno.

Sandiaga ingin mendorong para pelaku pariwisata di desa menghadirkan alternatif wisata yang menawarkan pengalaman yang unik bagi wisatawan melalui produk lokal dan atraksi daerah yang dimiliki. Tidak hanya mengembangkan produk dan atraksi unik dari setiap desa, dia mengingatkan pentingnya penerapan Sapta Pesona dan CHSE.

"Hal ini menjadi suatu hal yang sangat krusial dan penting untuk meyakinkan wisatawan, karena akan mengubah wajah pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia di era pandemi yang perlahan menuju endemi, karena wisatawan cenderung memilih destinasi yang mengedepankan rasa aman, nyaman, bersih, sehat dan seiring keberlanjutan lingkungan," paparnya.

Terbaru, sosialisasi Sadar Wisata berlangsung di Desa Liya Togo, Kecamatan Wangi Wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Analis Kebijakan Ahli Madya Kemenparekraf Rinto Taufik Simbolon yang mewakili Direktorat Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Pariwisata mengatakan, Desa Liya Togo telah menjadi salah satu dari 50 Desa Wisata terbaik di Indonesia pada 2021.

"Maka sosialisasi yang dilakukan di sini bertujuan agar masyarakat sebagai penggerak pariwisata benar-benar menjadi mandiri dalam melaksanakan atraksi pariwisata yang unik serta mempromosikan berbagai produk ekonomi kreatif kepada wisatawan yang berkunjung dengan berlandaskan prinsip Sapta Pesona, Pelayanan Prima dan CHSE," kata Rinto.



"Sekarang warga desa pemilik destinasi wisatanya, dan masyarakat menjadi tuan rumahnya. Konsep Desa Wisata ini membuat masyarakat tetap tinggal di desa dan wisatawan yang datang berkunjung ke desa. Menjadi penting bagi warga desa memberikan nilai tambah pada aktivitas pariwisata yang ada dengan layanan yang tulus," lanjutnya.

Sosialisasi Sadar Wisata bersifat berkelanjutan. Selanjutnya akan dilakukan pelatihan terkait potensi produk pariwisata, kewirausahaan dan pelatihan bidang pariwisata lainnya, sehingga diharapkan lahir penggerak dalam pengembangan di desa wisata masing-masing.

"Para pelaku pariwisata di desa dan seluruh warga harus beradaptasi dengan perubahan perilaku wisatawan saat ini, karena terjadi perubahan perilaku wisatawan yang lebih menyukai destinasi wisata yang tidak terlalu ramai dan lebih memilih aktivitas yang dilakukan di ruang terbuka. Dalam hal ini, konsep Desa Wisata, menjadi salah satu alternatif penarik kunjungan wisatawan," tutupnya.




 
(ELG)

MOST SEARCH