FAMILY

Tanpa Literasi Keterampilan Sulit Dimiliki

K. Yudha Wirakusuma
Selasa 24 November 2020 / 18:05
Jakarta: Literasi merupakan kemampuan berpikir, memproses informasi dan membaca situasi yang diaplikasikan sesuai disiplin ilmu. Kemampuan literasi bukan lagi sebatas baca-tulis tapi kemampuan memaknai, memahami dan menganalisis segala informasi maupun ilmu pengetahuan yang diperoleh dari yang dibaca.

Dari situ, kemudian melahirkan ide-ide, gagasan, inovasi ataupun kreativitas baru yang berdampak pada kemampuan menghasilkan produk barang/jasa untuk masyarakat luas.

Literasi adalah potensi yang dapat dikembangkan secara optimal sejak dini, perlu adanya langkah-langkah untuk mendukung budaya literasi sejak dini. Salah satunya dengan pembiasaan aktivitas literasi dilingkup keluarga. Orangtua harus menjadi contoh bagi anaknya untuk mencintai aktivitas literasi.

"Jadi ibu kota negara baru tanpa literasi, ibarat ruang tanpa isi," kata Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando, saat talk show Peningkatan Indeks Literasi Masyarakat (ILM) di Samarinda, Senin, 23 November 2020.

Keberadaan perpustakaan dan kemampuan literasi mutlak dimiliki sebagai syarat agar masyarakat Kaltim siap menghadapi persaingan global.

"Jangan sampai masyarakat lokal hanya jadi penonton. Coba perhatikan, berapa banyak kapal-kapal tanker yang memuat batubara diangkut keluar? Atau hasil hutan yang dieksploitasi besar-besaran?,” tanya Kepala Perpusnas di hadapan audiens.

Di sinilah pentingnya bagi siapapun untuk mempunyai keterampilan. Tidak perlu banyak, namun jika ditekuni dan dilatih maka hasilnya akan jauh lebih baik. "Itu sudah cukup memberikan bekal untuk berdaya saing. Masyarakat lokal harus dapat mengisi ruang-ruang kesempatan di Ibu Kota baru nanti dengan kemampuan literasi," ucapnya.

Anggota Komisi X DPR RI Hetifah Sjaefudin menyambut baik upaya konkret dari Perpustakaan Nasional melakukan pengembangan literasi di Indonesia. Hetifah beranggapan kesiapan tenaga ahli dan terampil sangat diperlukan untuk memegang peranan penting ataupun posisi strategis sebagai aparatur pemerintah atau swasta.

“Meski secara postur anggaran Perpusnas tidak sebesar kementerian/lembaga lain, namun mereka mampu memaksimalkan penggunaan dana alokasi khusus (DAK) untuk meningkatkan literasi,” tambah Hetifah.

Selain kedua nara sumber, talk show peningkatan indeks literasi masyarakat juga menghadirkan Staf Ahli Gubernur Bidang Politik dan Keamanan Wahyu Widi Heranata dan perwakilan Dinas Perpustakaan dan Kearsiapan Provinsi Kaltim Mustika Wati.
(YDH)

MOST SEARCH