FITNESS & HEALTH

Remaja Putri Berisiko Lebih Tinggi Mengalami Anemia

Raka Lestari
Minggu 24 Januari 2021 / 20:52
Jakarta: Anemia merupakan kondisi yang cukup umum terjadi pada masyarakat yang bisa terjadi pada siapa saja. Jika tidak diatasi dengan baik, anemia bisa menyebabkan terjadinya gangguan pada fungsi tubuh. Dan ternyata, remaja putri memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami anemia. 

Anemia adalah keadaan dimana konsentrasi hemoglobin (Hb), yang berada di dalam sel darah merah lebih rendah dari yang seharusnya,” ujar Prof. dr. Endang L Achadi, MPH., DrPH, akademisi dari FKM UI, pada acara Temu Media Hari Gizi Nasional ke-61 Tahun 2021, pada Jumat, 22 Januari 2021. 

Menurut Prof. Endang, kadar Hb yang seharusnya adalah Hb <13 g/dL pada laki-laki dewasa dan Hb <12 g/dL pada perempuan dewasa. Hemoglobin merupakan pembawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh, termasuk otak dan otot. Bila Hb rendah, oksigen yang dibawa akan berkurang sehingga menyebabkan gejala 5L yaitu Letih, Lemah, Lesu, Lelah, dan Lalai. 

“Salah satu penyebab mengapa remaja putri berisiko tinggi menderita anemia adalah defisiensi zat besi. Remaja putri yang memasuki pubertas mengalami pertumbuhan pesat sehingga kebutuhan zat besi juga meningkat untuk membantu pertumbuhannya,” ujar Prof. Endang. 

Ia juga menambahkan bahwa ketika kebutuhan zat gizi meningkat, beberapa remaja putri justru mendapatkan asupan makanan yang mungkin tidak mengandung zat gizi dalam jumlah cukup untuk kebutuhannya yang meningkat tajam tersebut.  

“Selain itu, remaja putri yang sudah mengalami haid akan kehilangan darah setiap bulan. Sehingga membutuhkan zat besi lebih banyak dibanding remaja putra,” tutur Prof. Endang. “Dan terkadang, sebagian remaja putri juga mengalami gangguan haid,” tambahnya. 

Menurut Prof. Endang, gangguan haid tersebut diantaraanya adalah haid yang lebih lama dari biasanya atau lebih banyak dari biasanya. Selain itu, ada banyak juga remaja putri yang melakukan diet keliru dengan tujuan untuk menurunkan berat badan. 

“Misalnya saja dengan mengurangi asupan protein hewani, padahal protein terutama protein hewani dibutuhkan untuk pembentukan hemoglobin darah,” pungkas Prof. Endang.
(TIN)

MOST SEARCH