FITNESS & HEALTH

Asap Rokok Penyebab Utama Terjadinya Kanker Paru

Raka Lestari
Kamis 26 November 2020 / 16:54
Jakarta: Kanker paru merupakan salah satu jenis kanker yang paling mematikan. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia. Salah satu faktor risiko penyebab terjadinya kanker paru adalah kebiasaan merokok. Di Indonesia sendiri, prevalensi perokok masih cukup tinggi.

“Selain melakukan pencegahan, faktor risiko juga berpengaruh dalam menyebabkan seseorang terkena kanker paru-paru. Setiap orang punya satu faktor risiko dan akan memiliki faktor risiko lebih dari satu misalnya saja dengan merokok,” ujar Prof. dr. Elisna Syahruddin, PhD, Sp.P (K), Ketua Pokja Kanker Paru Perhimpunan Dokter Paru Indonesia.

Ia mengatakan bahwa perokok aktif bisa berisiko delapan kali lebih tinggi untuk terkena kanker paru-paru, sedangkan perokok pasif tiga kali lebih berisiko terkena kanker paru-paru. 

“Dan kanker paru itu bersifat padat, sehingga pengobatannya harus melalui pembedahan karena akan berbahaya jika kanker itu sudah metastasis,” ujar Prof. Elisna. Metastasis adalah penyebaran kanker dari situs awal ke tempat lain di dalam tubuh.


kanker
(Perokok aktif berisiko delapan kali lebih tinggi terkena kanker paru-paru. Sedangkan perokok pasif tiga kali lebih berisiko terkena kanker paru-paru. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)


“Paparan asap rokok adalah penyebab kaker paru-paru. Rokok itu tidak bagus asapnya untuk paru-paru,” ujar Prof. Elisna. Di dalam asap rokok mengandung berbagai zat karsinogen yang sangat berbahaya dan bisa menyebabkan berbagai penyakit, salah satunya kanker paru-paru jika dihisap atau terhirup oleh manusia.

Prof. Elisna juga menambahkan, “Bayangkan saja jika seseorang tersebut adalah perokok berat. Maka dia bisa berkali-kali merokok dalam sehari. Apalagi kalau rokoknya adalah rokok kretek, tentunya lebih berbahaya dibandingkan rokok putih,” ujarnya.

“Namun, bukan berarti rokok putih lebih tidak berbahaya dibandingkan rokok kretek. Keduanya sama-sama berbahaya tetapi jauh lebih berbahaya rokok kretek,” ujar Prof. Elisna. Dan memang, pada kanker paru pada umumnya pasien datang ke dokter setelah berada dalam stadium lanjut.

Menurut Prof. Elisna, sekitar 85 persen pasien kanker paru datang ketika sudah berada pada stadium 3 atau 4. “Jika sudah seperti itu, apalagi jika sudah kronik tentunya tidak bisa disembuhkan. Dan yang bisa dilakukan hanya mengontrol penyakitnya agar kualitas hidup pasien bisa meningkat,” tuturnya.

“Untuk mengetahui gejala awal kanker paru, perhatikan keluhan respirasi karena hanya ada 4, yaiitu batuk yang tidak sembuh-sembuh, batuk berdarah, sesak napas, serta nyeri dada,” tutup Prof. Elisna.
(TIN)

MOST SEARCH