FITNESS & HEALTH

Mengapa Virus Korona Lebih Banyak Membunuh Pria daripada Wanita?

Sandra Odilifia
Kamis 22 Oktober 2020 / 12:33
Jakarta: Pada awal mewabahnya virus korona, data rumah sakit di Tiongkok mengungkapkan bahwa covid-19 lebih banyak membunuh pria daripada wanita. Kasus yang sama juga ditemukan di negara lainnya seperti Korea Selatan, Italia dan Amerika Serikat.

Berdasarkan data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS, pada pertengahan Oktober ini, virus korona telah membunuh hampir 17.000 lebih banyak pria daripada wanita di Amerika.

Untuk setiap 10 wanita yang diklaim dengan penyakit covid-19 di Amerika Serikat, 12 pria telah meninggal dunia. Perbedaan ini merupakan salah satu aspek yang mengkhawatirkan dari virus korona baru.
 

Apa penyebabnya?


Melansir The Washington Post, tim peneliti khusus yang memelajari hubungan antara gender dengan covid-19 menemukan bahwa gaya hidup pria adalah salah satu yang mungkin menjadi penyebabnya.

Pria lebih berpotensi terpapar virus korona karena faktor sosial yang menempatkan para pria berkontak langsung dengan orang yang terinfeksi. Penyebab lainnya, mungkin karena paru-paru pria lebih rentan akibat kecenderungan merokok.

Setelah berbulan-bulan wabah terjadi, pria menunjukkan tanggapan kekebalan yang relatif lebih lemah terhadap infeksi virus korona, sehingga menyebabkan angka kematian bertambah.

“Jika kamu melihat data di seluruh dunia, jumlah pria yang terinfeksi sama banyaknya dengan wanita. Hanya keparahan penyakit yang lebih kuat pada sebagian besar populasi pada pria,” ujar Franck Mauvais-Jarvis, seorang dokter Tulane University yang memelajari perbedaan gender pada penyakit seperti diabetes.


virus korona
(Data Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS, pada pertengahan Oktober ini, virus korona telah membunuh hampir 17.000 lebih banyak pria daripada wanita di Amerika. Untuk setiap 10 wanita yang diklaim terkena covid-19, 12 pria telah meninggal dunia di Amerika Serikat. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
 

Respons imun pria


Pada umumnya wanita memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih kuat, berkat hormon seks serta kromosom yang dikemas dengan gen yang berhubungan dengan kekebalan.  

Menurut ahli mikrobiologi Universitas Johns Hopkins Sabra Klein, sekitar 60 gen pada kromosom X terlibat dalam fungsi kekebalan. Jadi, orang dengan dua kromosom X bisa mendapatkan keuntungan dari beberapa gen tersebut.

Para ilmuan juga menemukan bahwa respons sel T pada pasien pria lebih lemah, padahal Sel T tidak hanya mendeteksi sel yang terinfeksi dan membunuhnya, tapi juga membantu mengarahkan respons antibodi.

Kekuatan sistem kekebalan tubuh juga dapat berkurang seiring bertambahnya usia tanpa memandang jenis kelamin. Namun, setelah melihat hasil sebelumnya, tampaknya respons sel T pria berusia 30-an dan 40-an setara dengan wanita berusia 90-an.

Lebih lanjut, sel T bukan satu-satunya fitur kekebalan yang rusak secara tidak proporsional pada pria. Masih dalam sumber yang sama, peneliti menemukan ada sinyal pertahanan yang dibatasi pada pria. Dengan kata lain, pria kekurangan sel T pembunuh dan antibodi penawar.
 

Perbedaan perilaku pria dan wanita


Secara umum, kebanyakan pria memiliki karakter yang kuat dan berani mengambil risiko, sehingga tingkat kekhawatiran tentang covid-19 pada pria mungkin jauh lebih kecil dibandingkan wanita. Dan itulah yang membuat para wanita lebih hati-hati dan cenderung mengikuti protokol kesehatan dibandingkan pria.

Beberapa ahli berharap momen ini dapat dimanfaatkan untuk menyoroti perbedaan gender dalam kesehatan lainnya.

Bagaimana pun, covid-19 bukanlah satu-satunya masalah yang menimpa pria dan wanita secara tidak setara, demikian pula, kanker, asma, penyakit jantung, dan penyakit umum lainnya. Jadi tetap terapkan protokol kesehatan covid-19 dan terapkan 3M ya, yaitu memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.
(TIN)

MOST SEARCH