FITNESS & HEALTH

Wasapada, Isolasi di Masa Pandemi Bisa Sebabkan Cabin Fever

Raka Lestari
Jumat 22 Oktober 2021 / 07:36
Jakarta: Pandemi covid-19 memaksa banyak orang untuk membatasi pergerakan dan lebih banyak melakukan aktivitas di rumah. Kondisi ini dapat memunculkan perasaan yang disebut dengan cabin fever, yang diidentikkan dengan keadaan terisolasi di dalam ruangan atau merasakan hal-hal negatif selama melakukan isolasi diri di rumah.

“Cabin fever adalah istilah untuk mengungkapkan perasaan sedih, sepi, takut, bosan, bingung, dan lesu saat kamu terperangkap atau terkurung di suatu tempat selama beberapa jam atau beberapa hari,” ungkap Kepala Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi UGM, Dr. Diana Setiyawati, dikutip dari laman website resmi Universitas Gadjah Mada.

Istilah cabin fever sendiri merupakan sebuah istilah populer, bukan diagnosis gangguan jiwa. Menurut Dr. Diana, cabin fever berbeda dengan perasaan bosan pada umumnya. Orang yang mengalami cabin fever bisa sampai mengalami kelelahan, kesulitan berkonsentrasi, dan keluhan lainnya.

Kondisi ini diibaratkan seperti seseorang yang terjebak di dalam sebuah kabin dan tidak bisa keluar, walaupun sudah berusaha keras. Tiap orang dapat mengalami kondisi gejala yang berbeda, juga tingkat keseriusan yang berbeda tergantung pada karakter kepribadian, temperamen, dan kemampuan koping yang dimiliki.

“Resiliensi dalam menghadapi konflik juga berpengaruh,” ujar Diana.

Kondisi ini, perlu diperhatikan karena dapat mengganggu produktivitas. Cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi perasaan ini, misalnya mengubah pemikiran terjebak terkait kondisi saat ini.

Dr. Diana juga merekomendasikan untuk membuat rutinitas selama berada di dalam situasi isolasi atau karantina. Misalnya kamu bisa melakukan aktivitas yang dahulu ingin dilakukan jika memiliki waktu luang. Dan, membuat pembagian antara pekerjaan atau kewajiban dengan aktivitas lain sebagai sarana hiburan.

Berhubungan dengan alam dengan membuka jendela, berjemur, atau menyiram tanaman, serta tetap membangun koneksi dengan orang lain. Menggunakan teknologi juga menjadi cara yang baik untuk menghadapi cabin fever.

“Ingat bahwa yang dilakukan saat ini adalah physical distancing, bukan social distancing,” kata Dr. Diana.

Orang yang mengalami cabin fever juga bisa mencoba melakukan sesuatu yang baru dan menarik, melakukan aktivitas yang dapat mengaktifkan kerja otak, dan beraktivitas yang menggerakkan fisik seperti olah raga.

Ditambah dengan menguatkan keyakinan bahwa setiap masa akan berganti. Hal ini dapat membantu mengatasi perasaan-perasaan negatif yang dapat muncul selama menghabiskan waktu di rumah di tengah pandemi.

“Setiap kesusahan akan berganti dengan kemudahan, dan setiap fase kehidupan akan datang silih berganti,” tutup Dr. Diana.
(FIR)

MOST SEARCH