FITNESS & HEALTH

Ini Alasan Mengapa Seseorang Bisa Melakukan Rudapaksa

Yatin Suleha
Senin 17 Januari 2022 / 05:15
Jakarta: Rasanya bagai terkena tiupan angin topan di cuaca sejuk. Kita tiba-tiba kita mendengar sebuah kasus pemerkosaan santriwati yang dilakukan oleh pemilik dari sebuah yayasan pondok pesantren.

Orang yang seharusnya menjadi penganyom malah melakukan hal di luar nalar akal sehat. Ia memperkosa 13 santriwati. Bahkan korban ada yang melahirkan bayi. 

Tak tanggung-tanggung, pemerkosaan berlangsung selama 5 tahun sejak 2006 hingga 2021. Dan ini terjadi di beberapa tempat seperti ruangan yayasan, hotel hingga apartemen. Bisa terbilang ini merupakan tindakan biadab!

Hari ini kita sudah melihat putusan hakim akan dirinya. Ia dijatuhi hukuman mati, jaksa juga meminta hakim menjatuhkan pidana tambahan berupa kebiri kimia.
 

Mengapa bisa merudapaksa berkali-kali?


Lalu timbul pertanyaan dalam benak kita, mengapa ia melakukan rudapaksa pada santriwati-santriwatinya bertahun-tahun? Dan ini dilakukan pada lebih dari 10 orang. Apa yang mendorongnya melakukan hal tersebut?

Dalam tinjauan psikologi, Psikolog anak, remaja, dan keluarga Efnie Indrianie, M.Psi dari Fakultas Psikologi, Universitas Kristen Maranatha, Bandung sekaligus penulis buku "Survive Menghadapi Quarter Life Crisis", pada dasarnya semua manusia memiliki sexual drive atau dorongan seks. 

"Namun, pada orang yang masih memiliki mental health yang baik, maka dorongan tersebut disalurkan dengan cara-cara yang normatif dan tidak sampai membuat adiksi," buka Efnie.


perkosaan santri
(Psikolog yang ramah ini memberikan masukan untuk melakukan pertahanan atau defense jika tanda-tanda permerkosaan atau rudapaksa terjadi. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)


"Namun, pada seseorang yang sudah mengalami sexual disorder, maka sexual drive ini dilakukan tanpa melihat batasan normatif lagi. Hal-hal yang bisa membuat seseorang mengalami seksual disorder biasanya karena sejak dini ia sudah terpapar dengan hal-hal yang berbau seks dan membuat ia menjadi adiksi dan tidak bisa mengendalikan dorongan seksnya. Makanya saat dorongan tersebut muncul, tindakan rupadaksa/perkosaan pun bisa dilakukan," jelas Efnie.

Lebih lanjut ia menambahkan seseorang yang sudah mengalami sexual disorder, maka pikirannya akan selalu mengarah pada fantasi-fantasi seks.

"Dan sering kali untuk memuaskan fantasi tersebut orang yang bersangkutan melakukannya dengan orang lain bukan dengan pasangan yang sah. Melakukan aktivitas seksual dengan orang yang berbeda akan memberikan sensasi yang berbeda," papar Efnie.

Katanya, saat seseorang mengalami sexual disorder, maka biasanya fungsi prefrontal cortex otak yang berperan untuk kebijaksanaan berpikir akan terganggu. Maka sexual drive yang muncul akan dipuaskan dengan cara-cara yang salah termasuk berperilaku seperti layaknya hewan.
 

Apakah, perkosaan menimbulkan dampak buruk seperti ketagihan? 


"Saat seseorang pernah melakukan satu kali tindakan rupadaksa dan ia berhasil maka itu memberikan kepuasan karena otaknya dibanjiri oleh dopamin. Jika otak memproduksi dopamin dalam jumlah banyak maka hal ini pasti akan memicu adiksi yang dalam hal ini adalah sexual addiction. Sexual addiction jelas merupakan bagian dari sexual disorder," terang Efnie.

Lalu, timbul pertanyaan kembali apakah hal ini sama dengan meminta lebih dan lebih kepada pasangan misalnya dalam hal ini pasutri (pasangan suami istri). Efnie menekankan bahwa hal ini berbeda. 

"Karena arousal (ketergugahan) dan sensasi yang dirasakan oleh otak akan berbeda. Sensasi dari hasil melakukan tindakan perkosaan akan membuat dopamin diproduksi lebih baik. Jadi tentunya akan membuat orang yang bersangkuan lebih merasa puas," tukas Efnie.

Apalagi hal ini dilakukan secara 'kucing-kucingan'. Katanya, "'Kucing-kucingan' akan memicu produksi adrenalin dan dopamin di otak dalam jumlah yang lebih banyak, hal ini akan membuat sensasi seks menjadi luar biasa." 
 

Apa yang mesti perempuan lakukan jika berada dalam kasus ini?


Ada beberapa ajakan yang mengarah ke ranah rudapaksa. Dalam pandangan Psikolog Efnie biasanya orang tersebut akan bersikap terlalu hangat pada kita meskipun terkadang secara personal kita tidak memiliki kedekatan khusus. 

"Selain itu terkadang refleks tangannya untuk menyentuh tubuh kita saat berbicara pun sudah mulai terlihat. Jika kondisi ini terjadi sebaiknya kita lebih waspada," pesan Efnie.

Psikolog yang ramah ini memberikan masukan untuk melakukan pertahanan atau defense jika tanda-tanda tersebut dan kejadian tersebut terjadi. 

"Sebisa mungkin melakukan defense (pertahanan) akan lebih baik, karena apapun yang terjadi kita wajib memberikan proteksi pada diri kita semaksimal mungkin. Namun, jika kita sudah terlanjur diperkosa, maka segera lakukan terapi pemulihan mental ke profesional bukan sekedar melaporkan ke pihak yang berwajib apalagi merahasiakannya," pungkas Efnie.
(TIN)

MOST SEARCH