FITNESS & HEALTH

Gangguan Psikologis atau Motif Ekonomi dalam Kasus Produksi Video Asusila?

Yatin Suleha
Rabu 25 Mei 2022 / 19:00
Jakarta: Beragam kasus seksual dapat terjadi. Salah satu kasus yang belum lama terjadi adalah produksi video asusila yang dilakukan oleh seorang artis. Dalam kasus ini malahan terjadi transaksi jual beli. 

Dalam pandangan psikologi, Psikolog anak, remaja, dan keluarga Efnie Indrianie, M.Psi dari Fakultas Psikologi, Universitas Kristen Maranatha, Bandung mengatakan bahwa seseorang dapat melakukan adegan syur bisa saja terjadi bukan hanya karena motif ekonomi.

"Meskipun awalnya bisa saja yang bersangkutan merasa dengan melakukan hal ini ia bisa meraup keuntungan, namun tanpa disertai adanya dorongan psikis tertentu maka seseorang tidak akan melakukan ini. Biasanya foto atau video adegan syur hanya dipergunakan untuk koleksi pribadi saja dan bersifat sangat rahasia," papar Efnie.

Lebih jauh Efnie menjelaskan bahwa seks merupakan dorongan dasar yang dimiliki oleh manusia. Namun kadarnya bisa berbeda-beda pada setiap orang. 

video seks dea onlyfans
(Psikolog Efnie mengatakan setidaknya akan diberikan dua terapi dalam hal kasus asulis, yaitu farmakoterapi-diberikan obat tertentu oleh dokter sehingga drive seksnya bisa ditekan. Dan psikoterapi. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)

"Bagi seseorang yang sejak dini terpapar pada hal-hal yang berkaitan dengan seks, apakah itu melihat video, foto, adegan nyata dan lainnya maka ini akan menstimulasi seseorang untuk memiliki dorongan seks yang kuat," papar psikolog yang juga menulis buku "Survive Menghadapi Quarter Life Crisis" ini.

Menurut Efnie, upaya yang dilakukan untuk memenuhi dorongan ini akan beragam, bisa dengan melakukannya secara personal, mencari partner, menggunakan benda-benda tertentu, sampai pada memperilhatkan alat vitalnya pada orang lain. 
 

Gangguan psikologis atau motif ekonomi?


"Untuk memastikan apakah ini gangguan atau tidak, memang harus dilakukan pemeriksaan secara profesional oleh ahli sehingga bisa ditemukan apakah ada diagnosa tertentu atau tidak. Namun, biasanya yang memiliki sexual disorder akan melakukan hal-hal yang berkaitan dengan seksualitas tanpa adanya motif ekonomi," jelas Efnie.

Dapatkah menarik kembali kepribadian yang sudah 'terjun ke dalam asusila' tersebut? Psikolog Efnie mengatakan bahwa ini butuh proses panjang dan idealnya diberikan dua terapi. Terapi tersebut antara lain:

1. Farmakoterapi: Diberikan obat tertentu oleh dokter sehingga drive seksnya bisa ditekan.
2. Psikoterapi: Oleh psikolog klinis, yaitu dilakukan proses remapping cara berpikirnya, dibangkitkan self compassionnya, termasuk penanaman new value agar yang bersangkutan tidak mengulangi kembali hal yang serupa.

(TIN)

MOST SEARCH