FITNESS & HEALTH

Hubungan Stres dengan Kesehatan Otak

Raka Lestari
Minggu 22 November 2020 / 08:00
Jakarta: Menurut penelitian stres berkepanjangan dapat menyebabkan berbagai kondisi kesehatan dan mental yang merugikan seperti penyakit jantung, diabetes, disfungsi seksual, depresi, dan bahkan skizofrenia. 

Ini termasuk stres kita dalam hal respons kita terhadap stres ringan sehari-hari, seperti mengantre terlalu lama di supermarket atau terjebak macet, dapat memengaruhi kesehatan otak terutama pada usia lanjut. 
 
Penelitian yang terdapat di Psychosomatic Medicine, jurnal American Psychosomatic Society menunjukkan bahwa kadar hormon stres kortisol yang tinggi dapat merusak memori, memperbesar efek yang ditimbulkan stres pada otak.

Penelitian yang dipimpin oleh Robert Stawski, seorang profesor di College of Public Health and Human Sciences di Oregon State University di Corvallis menunjukkan bahwa bukan hanya kejadian yang membuat stres dalam diri mereka sendiri, tetapi reaksi kita terhadap mereka yang membahayakan kesehatan otak kita.


kesehatan otak
(Bicara dengan teman atau sahabat kamu tentang hal yang membuat kamu kesal atau konsultasikan terhadap psikolog jika sudah menganggu kamu. Foto: Bruno Martins/Unsplash.com)


Secara khusus, para peneliti telah meneliti bagaimana tanggapan lansia terhadap stres sehari-hari, seperti kemacetan lalu lintas memengaruhi kesehatan kognitif mereka. 
 
Para peneliti melakukan pengamatan terhadap 111 lansia yang berusia antara 65 dan 95 selama 2,5 tahun. Para peneliti mengevaluasi kesehatan kognitif para peserta menggunakan penilaian standar setiap enam bulan, sepanjang penelitian tersebut dilakukan. 
 
Namun, penelitian ini menemukan bahwa kebanyakan orang yang merespons hal-hal yang dapat menjadi pemicu stres biasanya berkaitan dengan lebih banyak emosi negatif, fokus mental yang lebih buruk dan kesehatan otak. 
 
Penelitian ini juga mengungkapkan perbedaan usia yang signifikan. Misalnya, peserta yang lebih tua yang berada di akhir 70-an dan hingga akhir 90-an mereka paling terpengaruh. Reaktivitas stres tinggi mereka berkorelasi dengan kinerja kognitif yang buruk dengan kuat.
(TIN)

MOST SEARCH