FAMILY

Metode ADAPTASI untuk Hadapi Blended Learning

Yatin Suleha
Selasa 19 Oktober 2021 / 21:45
Jakarta: Pandemi dan blended learning, yaitu gabungan antara PJJ atau Pembelajaran Jarak Jauh dengan PTM atau Pembelajaran Tatap Muka membutuhkan adaptasi. Tak jarang hal baru ini pun dapat menimbulkan stres tersendiri.

Berdasarkan survei dari IPK, pembelajaran daring atau jarak jauh menimbulkan keluhan stres umum sebesar 23,9 persen dan 18,9 persen untuk keluhan kecemasan. 

Survei KPAI juga menunjukkan bahwa 1.244 siswa dari 1.700 responden mengaku terbebani dengan tugas yang diberikan serta 1.323 siswa mengaku kesulitan mengumpulkan tugas akibat singkatnya waktu pengerjaan yang diberikan. Tentunya, kondisi ini patut mendapatkan perhatian khusus dari para orang tua.

Menurut Irma Gustiana A, psikolog anak, self-growth dan parenting coach, orang tua harus melakukan langkah adaptasi kepada anak dalam mengatasi kecemasan atau masalah yang muncul. 

Apa itu ADAPTASI? Amati, Dengarkan, Alihkan, Pahami, Tanyakan, Apresiasi, Sentuhan, dan Ingatkan diri. 

Orang tua harus dapat mengamati perilaku dan mendengarkan hal apa yang dibutuhkan, diinginkan oleh anak sekaligus dapat mengalihkan anak dari gadget karena penggunaan perangkat teknologi tersebut mesti dibatasi dan diawasi,” ujar Irma dalam acara Webinar Ruang Keluarga SoKlin Antisep bertajuk “Back to School, Are You Ready, Mom?”

Irma juga menegaskan bahwa anak juga membutuhkan apresiasi dan sentuhan (empati) dalam membangun hubungan emosional yang lebih kuat di dalam keluarga. 


blended learning
(Menurut Irma Gustiana A, psikolog anak, self-growth dan parenting coach, orang tua harus melakukan langkah adaptasi kepada anak dalam mengatasi kecemasan atau masalah yang muncul. Foto: Ilustrasi/Pexels.com) 


Terakhir, para orang tua juga harus selalu ingat bahwa anak merupakan anugerah yang dititipkan oleh Tuhan, sehingga bagaimana situasinya, orang tua harus dapat membantu anak dalam berkembang, termasuk pembelajaran digital yang tergolong baru ini. 

“Segala sesuatu yang baru perlu latihan berulang,” tambahnya.

Irma menegaskan bahwa orang tua juga harus mengondisikan lingkungan sosial anak serta memberikan dukungan dan meminimalisir tekanan dalam proses pendampingan PTM. 

“Mempersiapkan anak dalam menghadapi kegiatan belajar tatap muka terbatas, orang tua perlu sekali menyiapkan mental anak, terutama terkait edukasi kesehatan dan menjaga jarak sosial selama kegiatan belajar, apa yang boleh dan tidak diizinkan ia lakukan selama tatap muka terbatas.”

“Selain itu, orang tua juga perlu menyiapkan diri sendiri agar tidak cemas dan tetap tenang melepaskan anak kembali ke sekolah, untuk itu komunikasi dengan pihak sekolah menjadi hal yang penting,” ucap psikolog yang kerap disapa Ayank Irma ini.

Irma juga menyarankan sekolah untuk dapat memberikan sesi-sesi dukungan psikologis kepada anak dan meningkatkan kegiatan konseling melalui peningkatan fungsi guru BK misalnya. 

Pengurangan beban belajar anak dan perubahan model belajar juga perlu dipertimbangkan, seperti mengedepankan model pembelajaran yang lebih interaktif.
(TIN)

MOST SEARCH