FITNESS & HEALTH

Mengenal Apa Itu Distosia Bahu Seperti yang Terjadi di RSUD Jombang

Mia Vale
Rabu 03 Agustus 2022 / 19:05
Jakarta: Distosia berarti persalinan atau kelahiran yang lambat atau sulit. Sering kali sulit bagi penyedia layanan kesehatan untuk memprediksi atau mencegah distosia bahu. Mereka sering menemukannya hanya setelah persalinan dimulai. Distosia bahu terjadi pada 0,2 hingga 3 persen kehamilan

Sementara itu, distosia bahu adalah cedera lahir disebut juga trauma lahir yang terjadi ketika salah satu atau kedua bahu bayi tersangkut di dalam panggul ibu selama persalinan dan kelahiran. Dalam kebanyakan kasus distosia bahu, bayi lahir dengan selamat. Tapi itu bisa menyebabkan masalah serius bagi ibu dan bayi. 
 

Penyebab distosia bahu


Seperti yang dilansir dari March of Dimes, distosia bahu dapat terjadi pada wanita hamil mana pun. Penyebab distosia bahu dapat berhubungan dengan tiga hal, yakni:
 

1. Passage (jalan lahir)


Kondisi ini dapat disebabkan karena jalan lahir tidak memungkinkan untuk bayi keluar. Contohnya, panggul calon ibu sempit. Panggul yang sempit umumnya hanya bisa melahirkan bayi dengan berat badan maksimal 3 kg. Berat bayi yang lebih dari ini dapat menimbulkan distosia bahu saat dilahirkan.
 

2. Passenger (bayi)


Jika jalan lahir tidak ada masalah, maka distosia bahu dapat terjadi karena kondisi bayi yang tidak memungkinkan untuk dilahirkan normal. Misalnya, berat badan bayi lebih dari 4 kg atau makrosomia. Namun, ada juga yang sudah membatasi, bayi dengan berat 3,5 kg sudah berisiko menyebabkan distosia bahu karena sulit dilahirkan dengan prosedur normal.
 

3. Power (tenaga)


Power berhubungan dengan tenaga ibu saat melahirkan bayinya. Power atau tenaga dapat diperbaiki dengan cara dirangsang melalui infus atau oksitosen. Siklus mulas, pola makan juga perlu diatur dengan baik agar tidak terjadi distosia bahu saat melahirkan.



(Distosia bahu adalah komplikasi persalinan yang sulit diprediksi dan dicegah. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
 

Akibat distosia bahu


persalinan bisa macet di tengah jalan atau distosia karena posisi bayi sungsang atau mengalami kelainan tertentu, bisa berisiko pada kondisi bayi. Misal:

- Patah tulang selangka dan lengan 
- Kerusakan pada saraf pleksus brakialis. Kerusakan dapat menyebabkan kelemahan atau kelumpuhan pada lengan atau bahu. 
- Kurangnya oksigen ke tubuh (juga disebut asfiksia). Dalam kasus yang paling parah, ini dapat menyebabkan cedera otak atau bahkan kematian
 

Cara mengatasi distosia bahu


Bila persalinan macet (distosia) terjadi di fase awal melahirkan dan tidak berisiko menimbulkan komplikasi, biasanya ibu hamil dianjurkan untuk melakukan beberapa kegiatan, seperti:

- Memperbanyak berjalan kaki, tidur, atau mandi air hangat jadi hal-hal yang biasanya direkomendasikan
- Mengubah dan mencari posisi ternyaman saat duduk dan berbaring
- Untuk kasus distosia yang disebabkan oleh distosia bahu bayi, dokter harus menempuh beberapa cara untuk mengeluarkan bayi

Beberapa cara yang biasanya dilakukan dokter dalam menangani distosia bahu adalah sebagai berikut:

- Memberikan tekanan pada perut ibu
- Meminta ibu untuk menekukkan kedua kaki dan mendekatkan lutut ke arah dada
- Membantu memutar bahu bayi secara manual
- Melakukan episiotomi untuk memberikan ruang pada bahu
- ?Melakukan operasi caesar
- ?Memberi obat pitocin (oksitosin) untuk mempercepat sekaligus menambah kekuatan kontraksi
- ?Membantu menarik bayi keluar dari dalam vagina dengan forceps

Kebanyakan kasus bayi yang mengalami distosia bahu saat lahir dapat dilahirkan dengan selamat. Hanya saja, komplikasi distosia bahu bisa berisiko mengakibatkan masalah bagi ibu dan bayinya. Ingat, distosia bahu adalah komplikasi persalinan yang sulit diprediksi dan dicegah.
(TIN)

MOST SEARCH