INTERIOR

Selama Pandemi, Pasar Kolektor Seni Bergeser

K. Yudha Wirakusuma
Minggu 25 April 2021 / 14:04
Jakarta: Selama pandemi berlangsung, pasar kolektor seni kian bergeser. Dari yang awalnya didomininasi usia 60 tahun ke atas, kini kolektor yang membeli karya seni rata-rata usia 40 tahunan.

Kepentingan kolektor juga berbeda-beda, salah satunya untuk kepentingan mempercantikan tampilan ruangan rumah atau kantor.

Buat kamu penyuka seni, memajang karya seni dalam beragam rupa adalah hal yang penting. Terlepas dari jenis karya seni yang kamu sukai seperti lukisan, foto, ukiran, ataupun jenis karya lainnya, kamu perlu memperhatikan cara memajang karya seni tersebut.

Cara memajang karya seni yang tepat akan mempercantik rumah kamu. Bahkan, akan semakin menonjolkan keunikan.

Namun untuk mencari barang seni yang bagus dan bisa dijamin keasliannya susah-susah gampang. Salah mengakses situs, salah-salah Anda jadi korban penipuan jual beli karya seni.
Pun demikian dengan seniman. Salah memilih koneksi atau bahkan tidak memiliki jaringan ke pasar global juga akan sulit mengembangkan diri.

Punya karya seni bagus tapi tidak bisa dipamerkan, juga percuma. Berkaca dari sejumlah persoalan itu, L Project hadir. Sebuah platform online barang seni yang menjadi solusi bagi kolektor dan seniman sekaligus.

”Dari hasil riset membuktikan, bahwa 60 persen transaksi penjualan karya seni itu dalam bentuk digital. Dulu hal ini seperti mustahil, orang membeli karya seni via online,” ulas CEO L Project Ali Kusno Fusin dalam peluncuran platform digital seni L Project di Ballroom Hotel Shangri-La, Jakarta, Sabtu, 24 April 2021.
 
Untuk bisa merangkum semua kebutuhan pasar dan seniman, pihaknya hadir dengan platform online yang khusus menjual sejumlah karya seni. Dirinya mengajak seniman muda untuk membuat karya sebagus mungkin untuk ditawarkan ke pasar global yang lebih luas, sebagai mitra L Project.

”Kami bahkan menciptakan ruang pameran virtual (virtual exhibition). Sehingga seniman bisa leluasa memamerkan karya mereka setiap hari. Calon buyer pun bisa leluasa melihat dan memilih dengan seksama barang-barang seni yang mereka mau,” paparnya.

Ali melanjutkan, tidak hanya itu, yang terpenting adalah dirinya bisa menjamin keaslian barang seni, baik lukisan, patung, seni cetak, dan semua yang ada di situs mereka adalah asli. ”Karena sekarang ini pemalsuan barang seni semakin marak. Di L Project kami hanya menampilkan barang seni yang sudah melalui proses kurasi oleh kurator dan galeri. Jadi sudah pasti asli,” jaminnya.

Chairman of Satupena Nasir Tamara, salah satu pembicara dalam diskusi seni ”Indonesian Arts: Entering the Global Market” di tempat yang sama mengatakan, tren membeli barang seni via online memang meningkat. Tapi selama ini hanya dijual di platform e-commerce umum.

”Karena platform jualannya tidak pas, jadi tidak menemukan pasarnya. Tapi di L Project, orang yang datang sudah pasti adalah calon buyer untuk membeli barang seni,” ulasnya. 

L Project adalah sister company dari Linda Gallery yang sudah memiliki galeri seni di Beijing, Singapura, dan Indonesia sejak 1990.
(YDH)

MOST SEARCH