FITNESS & HEALTH

Dianggap Sebagai Silent Killer, Apa Saja Faktor Risiko Kanker Ovarium?

Raka Lestari
Sabtu 15 Januari 2022 / 13:49
Jakarta: Berdasarkan data terakhir dari Global Burden of Cancer Study (Globocan) pada 2020 di Indonesia, mencatat 14.896 kasus baru kanker ovarium. Hal tersebut membuat kanker ovarium menempati urutan lima teratas dari kanker yang khusus terjadi pada perempuan.

Penelitian lainnya menunjukkan bahwa satu dari 78 wanita berisiko menderita kanker ovarium dalam hidup mereka. Dr. dr. Brahmana Askandar, SpOG(K), K-Onk selaku Ketua HOGI mengatakan, kanker ovarium tidak menunjukkan gejala apapun di stadium awal.

"Penyakit yang dianggap silent killer bagi kaum perempuan ini hanya mendeteksi 20 persen kasus yang menunjukkan gejala awal," ujar Dr. Brahmana dalam Konferensi Pers Kampanye 10 Jari: Bersama, Kita Bisa Menghadapi Kanker Ovarium.

“Jika ditemukan lebih dini, 94 persen pasien dapat hidup lebih dari 5 tahun setelah didiagnosis. Untuk itu, penting bagi perempuan di Indonesia untuk mengetahui faktor risiko dan gejala kanker tersebut,” tambah dr. Brahmana.

Lebih lanjut, Dr. Brahmana menjelaskan apa saja yang menjadi risiko bagi kanker ovarium seperti berikut ini:
 

1. Perempuan yang berusia lanjut


“Faktor risiko pertama adalah wanita usia lanjut. Jadi pada kanker ovarium, usia 60 tahun otomatis lebih berisiko dibandingkan yang berusia 20 tahun. Semakin tua perempuan, semakin ada risiko kanker ovarium,” jelas Dr. Brahmana.
 

2. Angka kelahiran rendah


“Angka kelahiran rendah maksudnya bagaimana? Ketika ada 2 perempuan, yang satu anaknya 5 dan yang satu tidak punya anak sama sekali, tidak pernah hamil sama sekali, maka risikonya lebih besar pada yang tidak pernah hamil sama sekali,” ungkap Dr. Brahmana.

Kendati begitu menurut Dr. Brahmana, bukan justifikasi untuk memiliki banyak anak. Tetapi faktanya memang, salah satu faktor risikonya adalah angka kelahiran yang rendah atau misalnya orang yang tidak pernah hamil sama sekali itu, risikonya lebih tinggi untuk mengidap kanker ovarium.
 

3. Riwayat kanker ovarium pada keluarga


“Ketiga adalah riwayat kanker ovarium pada keluarga. Kalau ada riwayat pada keluarga, ibunya kanker, anak perempuannya kanker, saudara perempuannya kanker, maka harus waspada. Untuk mengetahui apakah ada atau tidak faktor genetik yang menyebabkan kaner ovarium itu bisa dites saat ini,” jelas Dr. Brahmana.
 

4. Gaya hidup yang tidak sehat


Obesitas dikatakan ada kaitannya dengan kanker ovarium. Meskipun mekanismenya, tidak diketahui secara pasti. Kurang olahraga, makan tidak terkontrol, ujung-ujungnya obesitas meningkatkan risiko kanker ovarium.
 

5. Riwayat endometriosis


“Endometriosis adalah suatu kondisi di mana terbentuk jaringan darah haid tetapi di luar rahim. Padahal tempat semestinya adalah di rahim, tetapi ini terbentuk di luar rahim,” kata Dr. Brahmana.
 

6. Mutasi genetik


“Jadi terlahir memang sudah ada mutasi, maka risikonya akan semakin tinggi untuk terjadinya kanker ovarium. Jauh lebih tinggi dibanding orang yang lahir tidak ada mutasi sama sekali. Tapi ini tidak bisa dikontrol kalau mutasi genetik,” pungkas dr. Brahmana.
(FIR)

MOST SEARCH