FITNESS & HEALTH

Pengembangan Vaksin Universal Covid-19 Muncul Menjadi Tantangan Baru

Mia Vale
Rabu 04 Mei 2022 / 13:00
Jakarta: Mengembangkan vaksin booster yang memberikan perlindungan tidak hanya terhadap varian covid-19 yang diketahui, tetapi juga varian yang belum muncul, telah menjadi frontier berikutnya bagi industri farmasi. Pembuat obat, serta peneliti luar dan ilmuwan pemerintah, membahas topik tersebut pada pertemuan Kongres Vaksin Dunia di Washington DC beberapa waktu. 

Semua setuju bahwa suntikan harus diperbarui untuk memastikan mereka dapat terus memberikan perlindungan terhadap penyakit parah, tetapi belum ada konsensus luas tentang pendekatan terbaik apa yang harus dilakukan. 

Gagasan paling populer yang dilontarkan adalah mengembangkan vaksin pan-coronavirus. Yakni suntikan yang dapat melindungi dari seluruh spektrum jenis virus, baik yang diketahui maupun yang tidak diketahui.

Melansir dari 7News, virus korona penyebab covid-19 bagian dari keluarga virus korona yang disebut beta-coronavirus. Virus korona yang menyebabkan SARS dan MERS juga ada dalam keluarga ini. Tetapi beta-coronavirus hanyalah satu cabang dalam pohon keluarga coronavirus yang lebih luas. Ada juga alpha-coronavirus, gamma-coronavirus, dan delta-coronavirus. 

Vaksin pan-coronavirus pada dasarnya akan menargetkan batang pohon, memberikan perlindungan terhadap semua cabang. Namun, ini masih bertahun-tahun lagi. Vaksin serupa, untuk influenza, masih belum berhasil dikembangkan. 


vaksin pan-coronavirus adalah
(Pfizer dan Moderna saat ini sedang menjalankan uji klinis yang menguji vaksin spesifik varian atau vaksin bivalen. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)


"Vaksin semacam itu dapat memberikan manfaat dalam hal daya tahan dan luasnya," ujar Kayvon Modjarrad, seorang ahli vaksin dan direktur cabang penyakit menular Walter Reed.

Modjarrad, bersama rekan-rekannya di Walter Reed, sedang bekerja untuk mengembangkan vaksin pan-coronavirus. Sebuah studi praklinis yang diterbitkan pada bulan Desember menemukan bahwa suntikan itu melindungi kera rhesus terhadap penyakit yang disebabkan oleh strain asli virus korona dan menghasilkan respons antibodi terhadap varian yang menjadi perhatian.

Vaksin pan-coronavirus adalah pendekatan yang berbeda dari apa yang sedang dikejar Pfizer dan Moderna. Kedua perusahaan saat ini sedang menjalankan uji klinis yang menguji vaksin spesifik varian atau vaksin bivalen, yang akan menargetkan strain dominan atau strain yang beredar. Moderna, khususnya, mengatakan suntikan bivalen menargetkan varian Omicron serta jenis virus corona asli dalam satu suntikan. 

Meski merupakan ide yang menggiurkan, beberapa ahli mengatakan masyarakat mungkin masih perlu meredam ekspektasinya tentang perlindungan seperti apa yang diharapkan akan diberikan oleh virus pan-corona. 

"Masih jauh! Kami tidak bisa hanya mengatakan akan mengembangkan pan-coronavirus yang melindungi dari infeksi,” jelas In-Kyu Yoon, direktur pelaksana Koalisi untuk Inovasi Kesiapsiagaan Epidemi. "Itu terlalu tidak realistis, untuk saat ini!" tambahnya.

Vaksinasi mRNA dari Pfizer dan Moderna dipuji oleh sebagian besar dokter, peneliti dan ilmuwan, sebagian karena mereka dapat diuji dan diproduksi dalam beberapa bulan, dibandingkan dengan vaksin tradisional, yang dapat memakan waktu bertahun-tahun. 

Modjarrad, dari Walter Reed, menyebutkan pengembangan vaksin dapat mencerminkan Operation Warp Speed, inisiatif publik-swasta yang membantu menciptakan vaksin covid-19 saat ini dari Pfizer dan Moderna. Strategi tersebut dapat mendorong pembuat obat untuk mengembangkan suntikan untuk varian dan ancaman lain yang belum ada.
(TIN)

MOST SEARCH