FITNESS & HEALTH

Studi: Stres Bisa Terlihat dar Kotoran Telinga Kamu

Raka Lestari
Senin 09 November 2020 / 13:58
Jakarta: Kotoran telinga atau earwax bisa menjadi alat untuk mengetahui kesehatan mental seseorang, hal tersebut berdasarkan sebuah studi terbaru. Studi yang dilakukan pada 37 orang tersebut, menunjukkan bahwa penumpukan kortisol (hormon stres) dapat dilihat dari sekresi minyak di sekitar salurang telinga.

“Ini bisa menjadi ‘pintu’ yang lebih baik dalam melakukan diagnosis pada kondisi psikiatris termasuk depresi,” kata pemimpin studi Dr Andres Herane-Vives. Ia juga mengembangan cara usap kotoran telinga agar tidak merusak gendang telinga.

Kortisol dikenal juga dengan hormon “fight or flight”. Ketika hormon tersebut dikirimkan, sinyal alarm di otak akan merespon dengan stres. Stres tersebut dapat memengaruhi hampir seluruh sistem tubuh, mulai dari sistem imun sampai sistem pencernaan dan tidur.

Dr Herane-Vives, seorang psikiatris di University College London Institute of Cognitive Neuroscience, ingin mencoba memahami lebih lanjut apa indikasi dari meningkatnya atau menurunnya level hormon kortisol.

Meskipun masih dalam tahap awal, tetapi Dr Herane-Vives berharap bahwa temuannya tersebut secara perlahan dapat membantu dirinya dalam memberikan penilaian bilogis yang efektif untuk kondisi psikiatri. Secara teori, seseorang yang memiliki gejala kesehatan mental akan mengalami peningkatan level kortisol saat dilakukan tes dan itu dapat membantu memberikan informasi dalam melakukan diagnosis untuk pasien.

“Dan diagnosis yang baik merupakan satu-satunya cara untuk bisa memberikan perawatan yang tepat,” ujar Dr Herane-Vives.

Temuannya tersebut juga bisa digunakan untuk menginformasikan siapa yang mungkin dapat mendapatkan atau tidak mendapatkan manfaat dari anti-depresan.

Kortisol dapat diukur melalui darah, tetapi itu hanya memberikan sedikit informasi dari level hormon kortisol seseorang pada saat itu saja. Dan karena tes darah dapat membuat stres, ini dapat berpotensi memberikan hasil yang tidak tepat. “Kortisol yang ada di kotoran telinga terlihat lebih stabil,” kata Dr Herane-Vives.

Ia juga menambahkan bahwa karena hormon dan zat lainnya disimpan selama beberapa waktu di kotoran telinga, sehingga bisa menghasilkan sample kortisol yang lebih banyak.

Dan seiring bertambahnya waktu, metode ini diharapkan bisa dikembangkan untuk melakukan pengukuran terhadap hal lain seperti tingkat gula darah atau bahkan antibodi dalam melawan virus.
(YDH)

MOST SEARCH